Oleh: Hasrianti
(Mahasiswi P. Kimia UHO)
Mediaoposisi.com-  One Belt One Road (OBOR) sebuah mimpi besar Cina untuk mencetuskan diri sebagai negara adidaya. Cina menjadi perbincangan dunia karena perkembangan kolonialisasi ekonominya yang semakin mengudara. Tentu saja hal ini mengusik keberadaan Amerika yang selama ini menjadi rotasi perekonomian dunia terlebih bagi negara-negara berkembang.

Sekuat apapun Cina berusaha eksis tetap saja ia  masih berjalan dibawah kekuatan Amerika. Saat ini Cina sebagai rival dari Amerika dalam perhelatan ekonomi dunia, menggaungkan kejayaan jalur sutra melalui jalur perdagangan Asia yang menghubungkan antara Timur dan Barat. Cina dengan sistem pemerintahannya bertumpu pada sosialisme, sementara kapitalisme dalam pengembangan ekonominya. Menjadikan Cina sebagai negara dengan wajah kolonialisasi gaya baru.
Ada Apa Di Balik OBOR ?

Indonesia dan Cina telah menandatangani 23 kesepakatan kerja sama untuk sejumlah proyek di bawah  kebijakan luar negeri pemerintah Cina yang dikenal sebagai One Belt One Road (OBOR) atau Belt Road Initiative (BRI). Wakil Presiden Jusuf Kalla juga yang menyaksikan penandatanganan sejumlah MoU tersebut menyampaikan harapannya kepada sekitar 400 pengusaha Cina dan Indonesia agar pelaksanaan proyek-proyek dapat berjalan dengan baik dan konsisten (www.tirto.id.com 27/4/2019).
Rupanya Cina telah menawarkan beberapa  rancangan Framework Agreement. Salah satunya yaitu kerja sama di Kuala Tanjung, Sumatra Utara (Sumut) sebagai proyek tahap pertama. Dilanjutkan proyek di Kawasan Industri Sei Mangkei dan kerja sama strategis pada Bandara Internasional Kualanamu, pengembangan energi bersih di kawasan Sungai Kayan, Kalimantan Utara, pengembangan kawasan ekonomi eksklusif di Bitung, Sulawesi Selatan (Sulsel), dan Kura-Kura Island di Bali (www.mediaumat.com 24/4/2019).

Skema perjanjian One Belt One Road (OBOR) dengan pemerintah Cina dinilai bakal menimbulkan kerugian tak langsung bagi negara-negara terkait.  Hal ini disampaikan oleh organisasi Wahana Lingkungan Hidup Indonesia atau Walhi.  Proyek OBOR  akan menjebak negara-negara mitra dalam jebakan utang ke Cina, Sri Lanka dan Afrika menjadi bukti nyata kerugian proyek tersebut (www.tempo.com 29/4/2019).
Penandatanganan MoU proyek-proyek OBOR ini sangat jelas mendatangkan malapetaka baru yaitu berupa jebakan utang.  Meskipun pemerintah dan Cina sendiri berulangkali meyakinkan rakyat bahwa proyek-proyek ini secara keseluruhan jauh dari praktek jebakan utang. Namun, tetap saja jika kita telusuri lebih jauh Cina tidak akan semudah itu menggelontorkan dana ke indonesia tanpa maksud dan tujuan tertentu.
Proyek OBOR Cina ditaksir merugikan negara hingga mencapai US$91 miliar, atau lebih dari Rp 1.288 triliun. Setelah melakukan transformasi dari ekonomi sosialisme ke ekonomi kapitalisme, saat ini yang terlihat secara fisik adalah kebangkitan Cina yang berusaha membangun ekonomi raksasa yang mengancam eksistensi ekonomi AS di dunia.

Resiko terbesarnya adalah gagal bayar utang. Zimbabwe menjadi contoh cerita yang mengenaskan. Gagal membayar utang sebesar US$40 juta kepeda Cina. Sejak 1 Januari 2016, mata uangnya harus diganti menjadi Yuan, sebagai imbalan penghapusan utang.

Sejak Xi Jinping memimpin tahun 2013, Cina juga menerapkan kebijakan luar negeri baru, terutama di bidang ekonomi dan investasi. Strategi pengelolaan dana investasi ke luar negeri, Cina mengumumkan pembentukan OBOR.

Tujuan OBOR  yang juga dikenal dengan sebutan prakarsa jalan sutra baru adalah membangun infrastruktur lintas benua. Cina ingin memperluas jaringan dagang menuju Eropa, Asia Tengah, Asia Selatan dan Asia Tenggara, baik melalui darat maupun laut.
Pemerintah menerima proyek OBOR kesannya sangat terburu-buru dan mendesak. Jika dilihat menerima proyek pada masa-masa injury time masa pemilihan, ini sebuah pertanyaan besar. Namun, hal ini bukan lagi sesuatu yang lumrah dalam sistem kapitalisme, selama masih bisa mendatangkan rupiah kenapa tidak untuk menerima proyek tersebut.

Rezim selalu merekrut pemain  yang tokohnya itu-itu saja, tanpa kita sadari sebenarnya sumberdaya alam Indonesia hanya berpusat pada pemodal besar lokal yang memanfaatkan kesempatan, merekalah yang memberi jalan bagi Cina maupun Amerika semakin bersemangat mengeruk harta Indonesia.
Setidaknya ada tiga keuntungan besar bagi  Cina dari konspirasi ini. Pertama, dana yang dikeluarkan tetap produktif meskipun menggelontorkan biaya banyak, akan tetapi hasilnya sepuluh kali lipat melimpah. Kedua, tersedianya lapangan pekerjaan baru untuk pihak mereka. Ketiga, Cina akan semakin memperkuat pengaruh dalam geopolitik global, baik dari ideologi maupun ekonomi.
Sedangkan Indonesia hanya menghasilkan ekonomi buntung yang justru semakin memperburuk perputaran ekonominya. Dimana dana tersebut tidak diberikan secara gratis melainkan mempersyaratkan tawaran kerjasama. Cina menyediakan seluruh kebutuhan produksi termasuk tenaga kerjanya. Ketika ada keuntungan maka sebgaian besar itu dialihkan ke kas Cina. Melalui OBOR juga maka secara tidak langsung Cina telah memperkuat taringnya untuk menjajah Indonesia.

Jika pemerintah dengan tangan terbuka menerima maka tidak dapat dipungkiri nasib Indonesia tak akan jauh beda sebagaimana Zimbawe, Afrika, dan Srilanka. Produk Cina berseliweran, menyempitnya lapangan perkerjaan bagi lokal, dan kemiskinan pun melanda.

Sejatinya, kapitalisme tidak akan memberikan sesuatu tanpa sesuatu yang lebih. Wajar ketika pemerintah tergiur dengan tawaran kerjasama. Sistem sangat memberikan ruang terbuka untuk inverstor asing merajalela. Jika pada faktanya sudah seperti ini, apakah kita masih ingin diperbodohi ?
Islam Solusi Padamkan OBOR

Islam sebagai agama yang sempurna dengan seluruh peraturan yang mengatur aspek kehidupan manusia tak terkecuali pengelolahan SDA. Hal yang paling penting ialah mengelola SDA negeri ini dengan hukum syariah yang Allah tetapkan. Sumber daya alam (SDA) adalah potensi sumber daya yang terkandung di dalam bumi, air, maupun di udara. 

Di dalam al-Qur’an juga ditegaskan, bahwa Allah telah menjadikan segala apa yang ada di bumi untuk manusia. Dengan demikian, SDA berfungsi sebagai sarana untuk menunjang kehidupan manusia di dunia sekaligus menjadi sumber penghidupan mereka.

Negara tidak seharusnya memberikan SDA kepada mereka yang secara gamblang menjajah, dan ingin menguasai. Sebagaimana Allah berfirman
“Allah tidak sekali-kali akan memberikan jalan kepada orang-orang kafir untuk menguasai orang-orang mukmin” (Qs. Nisa:141).

OBOR harus ditolak karena mengancam kehidupan  umat manusia. Pemerintah harus menutup celah masuknya cengkeraman asing yang memanfaatkan SDA negara. Indonesia negeri zamrud dengan kekayaan alam yang melimpah sungguh sayang jika harus dinikmati penjajah.

Sistem islam terdapat politik dalam negeri yang berfungsi melaksanakan hukum islam. Sedangkan politik luar negeri untuk menyebarkan Islam ke seluruh penjuru dunia. Politik ini juga mengharuskan negara memiliki militer yang kuat guna mencegah mencegah upaya negara-negara imperialis menguasai wilayah dan SDA yang terdapat di dalamnya.

Rasulullah SAW juga  pernah mengambil kebijakan untuk memberikan tambang kepada Abyadh bin Hammal al-Mazini. Namun kebijakan tersebut kemudian ditarik kembali oleh Rasulullah setelah mengetahui tambang yang diberikan Abyadh bin Hammal laksana air yang mengalir.

Rasulullah bersabda, “Kaum muslim bersekutu dalam tiga hal; air, padang dan api” (HR Abu Dawud).

Hadis ini juga menegaskan yang termasuk harta milik umum adalah SDA yang sifat pembentukannya menghalangi individu untuk memilikinya.

Dengan demikian penguasaan SDA di tangan negara tidak hanya akan berkontribusi pada kemananan penyedian komoditas primer untuk keperluan pertahanan dan perekonomian negara, tetapi juga menjadi sumber pemasukan negara yang melimpah pada pos harta milik umum.

Keberadaan OBOR ini sangat berbahaya bagi negara, perputaran ekonomi Cina di Indonesia mendatangkan berbagai macam masalah serius yang berdampak pada umat. SDA merupakan faktor penting bagi kehidupan umat manusia di mana saat ini dikuasai oleh asing.

Sehingga untuk mengembalikan kedaulatan umat atas kekayaan SDA yang mereka miliki, harus ada penerapan daulah islam. Sistem islam sebaik-baiknya sistem, secara keseluruhan mengatur kehidupan manusia. Rahmat Allah akan senantiasa ada jiika manusia menjalankan kehidupan dengan syariat-Nya.

Wallahu’alam bishowab-‘ [MO/ra]

Posting Komentar