Oleh Merli Ummu Khila
(Kontributor Media)

Mediaoposisi.com-Sebulan yang lalu ketika umat bersiap untuk menyambut bulan suci Ramadhan dengan mempersiapkan fisik dan memperkuat keimanan kepada Allah SWT. Namun moment itu dirusak oleh sebuah film kontroversi yang menyulut amarah umat yang berakhir dengan penandatanganan petisi.

Adalah sebuah film Indonesia tahun 2019 garapan penulis dan sutradara Garin Nugroho berjudul "Kucumbu Tubuh Indahku". Film ini tayang di bioskop seluruh Indonesia pada tanggal 18 April 2019.Membaca judul dan melihat covernya saja sudah membuat mual banyak orang.

Sesuatu penyimpangan yang terlalu sering disaksikan maka akan menjadi hal yang biasa.Bukan sesuatu yang aneh ketika di tempat umum seperti bandara, mall, dan tempat rekreasi  kita melihat pasangan sejenis entah itu laki-laki dengan laki-laki atau sebaliknya.

Penomena LGBT bak jamur dimusim hujan, ketika keberadaan mereka seolah diberi ruang oleh negara. Maka mereka berani menampakkan keberadaan mereka. Karena masyarakat sekitar tidak bisa leluasa menghakimi atau memberi sanksi sosial pada para pelaku LGBT karena mereka berlindung pada HAM.

Apapun alasan para pembuat film tersebut yang berdalih karena seni, namun tetap saja tidak dibenarkan jika ditayangkan di negeri ini yang memang sudah darurat LGBT.

‌Seperti dilansir oleh  DetikNews, (23/04/2019) ada 19 orang bocah berusia 12 tahunan asal Kecamatan Garut Kota memiliki perilaku seks menyimpang. Hal tersebut diakibatkan mereka kerap dipertontonkan video porno oleh tetangganya
‌ Dan ini bukanlah peristiwa langka, namun ratusan bahkan ribuan kasus serupa terjadi di negeri ini.
‌ Apa yang membuat perilaku ini semakin memprihatinkan?.
‌Setidaknya ada dua faktor utama :
1. Lemahnya kontrol keluarga dan masyarakat.
Di era digital saat ini, mau tidak mau orang tua harus menerima bahwa anaknya akan mudah terpapar hal-hal yang berbau seksual melalui gadget. Entah itu itu seks sesama jenis ataupun lawan jenis. Disini sangat penting pendampingan orang tua yang harus menanamkan pemahaman akan bahayanya LGBT dari segi kesehatan, pergaulan bahkan agama.

2. Hilangnya peran negara dalam mencegah LGBT masuk ke Indonesia.
Sungguh memprihatinkan jika pada sebuah negeri yang mayoritas berpenduduk muslim, namun pemimpinnya justru memberi ruang pada para pelaku LGBT yang dilaknat Allah SWT.
Eksisnya LGBT di Indonesia tidak lepas dari peran pemerintah yang seolah-olah LGBT bukan suatu ancaman.

Seperti dilansir oleh  Panjimas.com, (30/08/2016), Aliansi Jurnalis Independen (AJI) dalam acara ulang tahunnya yang ke 22, memberikan sejumlah penghargaan. Diantaranya Penghargaan Suardi Tasrif Award kepada organisasi Forum Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender, Intersex, Queer Indonesia (LGBTIQ Indonesia) dan IPT 65, pada Jumat (26/08) malam.

Ironisnya, dalam acara yang memberikan penghargaan pada kaum homoseks dan lesbian itu, hadir Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin.

Jadi jika berharap kepada pemerintah untuk menghilangkan kaum LGBT di negeri adalah sebuah kemustahilan.
Dan jika berharap pada sejumlah orang atau sejumlah ormas yang menghilangkannya, akan lebih mustahil lagi. Karena LGBT bukanlah komunitas kecil yang mempunyai kelainan seksual sejak lahir, namun LGBT mempunyai sebuah misi besar yang diantaranya ingin menghancurkan masa depan generasi. Dan berdiri dibelakang mereka para kapital yang siap mendanai demi rekrutmen bagi pelaku baru.

Demi memerangi kuatnya cengkraman LGBT maka kita perlu senjata ampuh yang mampu melepaskan para pelaku dari lembah kenistaan dan mengajak mereka kembali ke jalan yang benar. Dan senjata itu hanya bisa dipakai oleh negara. Karena negara punya otoritas penuh dalam mengatur rakyatnya.

Dibutuhkan sebuah sistem yang komprehensif yang mampu menindak tegas para kapital dibalik LGBT serta mempu mengayomi umat dari segala bentuk kejahatan seksual. Jika sistem kapitalisme dan sosialisme adalah biang dari segala kejahatan ini, karena sistem ini yang membebaskan semua orang melakukan apa saja menurut nafsunya dengan dalih hak asasi.

Karena biangnya adalah sistem. Maka harus lawan dengan sistem pula. Jika sistem kapitalisme dan sosialisme adalah buatan manusia maka sudah selayaknya diganti oleh sistem buatan Pencipta nya manusia yaitu Al Khalik. Sebuah sistem Islam yang dibangun oleh tiga asas yaitu
1. Individu yang bertakwa
2. Masyarakat sebagai kontrol
3. Negara sebagai pelaksana hukum Allah SWT.

Dan sistem ini terbukti mampu menuntaskan segala jenis kejahatan tak terkecuali kejahatan seksual.

Posting Komentar