Oleh : Nur Azizah
(Aktivis Remaja Muslimah)

Mediaoposisi.com-  Siapa yang tak kenal dengan game online? Zaman sekarang game online menjadi primadona generasi Milenia dari anak TK sampai orang tua, semua larut dalam permainan game ini.
Salah satu game yang digandrungi saat ini adalah game Mobile legands (ML). Ratusan juta orang pemain di dunia ini, bahkan mereka sampai kecanduan.
Begitu juga dengan pemain ML yang satu ini. Seorang gamers online berinisial YS ditangkap oleh jajaran Ditreskrimum Polda Metro Jaya. Perempuan berusia 26 tahun ini ditangkap setelah membobol bank sebesar Rp1,85 miliar lewat sebuah games online, Mobile Legend.
"Dimana tersangka perempuan, YS, tidak bekerja, asal Pontianak, berhasil bobol bank sehingga salah satu bank ini mengalami kerugian Rp1,85 miliar," kata Wakil Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Ajun Komisaris Besar Polisi Ade Ary Syam Indradi di Mapolda Metro Jaya, di Jakarta, Sabtu, 18 Mei 2019.
Awalnya, pihak Polda Metro Jaya mendapatkan laporan dari pihak Bank yang mengaku mengalami pencurian lewat sebuah games online. Berdasarkan keterangan dari pihak Bank, ada beberapa transaksi yang janggal dari sebuah akun games online Mobile Legend.
Melansir dari laman Viva.co.id bahwa perempuan berinisial YS ini membeli sebuah peralatan yang ada di sebuah game Mobile Legend (ML) namun tidak menggunakan uangnya. YS menggunakan Cheat sehingga uang yang dimilikinya tidak berkurang.
"Sehingga bank yang harus membayar Rp1,85 miliar. Ini kejadian bukan sekali tapi terus berkali kali. Tersangka sadar dan tahu bahwa dia membeli, tapi tidak mengurangi uangnya. Berdasarkan hasil pemeriksaan, pelaku mengaku uangnya hanya untuk membeli fasilitas yang ada di ML," kata Ade.
Atas perbuatannya, YS dikenakan Pasal 362 KUHP dan atau Pasal 85 Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2011 tentang transfer dana dan atau Pasal 3, Pasal 4 dan Pasal 5 ayat (1) Juncto Pasal 2 ayat (1) huruf p dan huruf z UU RI Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan TPPU.
Apa yang melatarbelakangi maraknya game online ini?
Maraknya game online ini tak bisa dilepaskan dari Sistem Kapitalisme Sekuler yang diterapkan di negara ini dan hampir semua negara di dunia ini. Standar kebahagiaan adalah kebahagiaan yang bersifat Materi. Maka wajar kalau game ini menyebar luas karena akan mendatangkan pundi-pundi uang yang sangat menggiurkan.
Joddy Hernady selaku EVP Digital dan next Business Telkom, menyatakan “Gaming itu pendapatan nya bisa tujuh kali lipat dari pendapatan sebuah film.” Pendapatan industri game di Indonesia mencapai angka 40% 
Ketua Harian Asosiasi Game Indonesia Jan Faris Majd menyatakan rata-rata pertumbuhan industri game nasional berkisar 20% hingga 30% per tahun. Jan menyebutkan pada 2017 omzet industri game nasional berada di kisaran US$ 800 juta, dan tumbuh menjadi US$1,13 miliar pada 2018. Atau berkisar Rp 16,95 Triliun. Kemungkinan kenaikan pertumbuhan game pasa 2019 kali ini menjadi 40%.

Betul-betul nilai yang sangat fantastis. Dan dari tahun ke tahun nilainya terus bertambah. Inilah yang membuat para Kapitalis makin mencengkeram industri game ini.
Meski game online ini telah memakan korban seperti fakta diatas bahkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) resmi menetapkan kecanduan game atau game disorder sebagai penyakit gangguan mental.
Maka jangan harap ada pelarangan industri game ini di Sistem Kapitalisme Sekuler karena Sistem inilah yang justru melahirkan industri Game yang sangat merusak ini.
Islam Solusi Tuntas Masalah Kecanduan Games
Berbeda dengan Sistem Kapitalisme Sekuler, Sistem Islam adalah Sistem terbaik yang Allah SWT turunkan untuk kebaikan umat manusia. Sistem Islam menjamin kebahagiaan hakiki bagi manusia yaitu menggapai Ridha Allah SWT, bukan meraih kebahagiaan yang bersifat materi.
Sistem Islam memastikan kepada manusia harus terikat dengan aturan Allah SWT tidak boleh melanggar nya, halal dan haram adalah tolak ukur perbuatan nya. Bukan didasarkan manfaat atau mudharat dalam pandangan akal manusia.
Sebagai contoh adanya game online yang terbukti berdampak buruk bagi manusia, seperti kerusakan fisik manusia, kerusakan emosial dan bahkan akal manusia sampai merugikan pihak tertentu. Tentu ini cukup bagi negara yang diberi amanah dan tanggung jawab oleh Allah SWT untuk mengurus urusan umat, untuk melarang berkembangnya industri game yang merusak ini.
Negara sebagai Perisai bagi rakyatnya harus bertanggung jawab terhadap terciptanya keshalihan generasi, dengan Sistem Pendidikan yang bermutu tinggi hingga mampu membangun peradaban yang cemerlang.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
Sesungguhnya al-imam (khalifah) itu (laksana) perisai, dimana (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)nya. Jika seorang imam (Khalifah) memerintahkan supaya takwa kepada Allah ’azza wajalla dan berlaku adil, maka dia (khalifah) mendapatkan pahala karenanya, dan jika dia memerintahkan selain itu, maka ia akan mendapatkan siksa.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, An-Nasa’i, Abu Dawud, Ahmad).
Hal-hal yang merusak generasi wajib dilarang tidak diperbolehkan bahkan akan diberi sanksi yang tegas dengan Ta’zir yang akan diterapkan oleh kepala negara.
Negara yang senantiasa taat kepada Allah inilah yang dikenal dalam syariah Islam sebagai Khilafah Islam yang dipimpin oleh seorang Khalifah yang amanah.
Negara Islam pertama didirikan oleh Rasulullah Saw dan dilanjutkan oleh Khulafaur Rasyidin dan khalifah-khalifah lainnya.
Selama 13 abad lebih peradaban Islam ini mampu melahirkan generasi cemerlang pembangun peradaban yang menjadi mercusuar Dunia pada masanya. Tidak hanya faqih fiddin tapi juga di bidang sains dan tekhnologi.
Negara akan menjamin setiap warga negara memperoleh pendidikan yang berkualitas dan melindungi generasi dari media yang merusak, baik secara konten maupun alat-alatnya.

Sistem Islam akan mengubah mindset berfikir rakyatnya untuk selalu produktif dalam menjalani aktivitas di dunia ini dengan kehidupan yang positif bukan hidup bebas tanpa batas, hanya mengejar kesenangan materi.
Hidup di dunia bukan untuk mendapatkan pundi-pundi uang karena uang bukan segalanya, tapi hanya sekadar alat untuk meraih ketaatan kepada Allah SWT. Maka dengan ketakwaan individu, kontrol masyarakat dan keshalihan negara bisa dipastikan industri game yang merusak ini tidak akan bisa tumbuh subur seperti saat ini hingga merusak.
Sudah waktunya umat saat ini mencampakkan sistem Kapitalisme Sekuler yang bobrok dan merusak, untuk seraya berjuang mengembalikan Sistem Islam yang mampu melindungi generasi dari kerusakan dan kehancuran. Sistem inilah yang dikenal sebagai Khilafah Islamiyah ‘ala min hajin nubuwah. [MO/ra]

Posting Komentar