Gambar: Ilustrasi
Oleh: Wulan Ummu Akifah
(Pegiat Dakwah Muslimah)

Mediaoposisi.com-Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan, Wiranto menyebutkan sejumlah ancaman yang mengganggu kesatuan dan persatuan bangsa. Salah satunya, kelompok Khilafah yang memboncengi perhelatan Pemilu 2019. “Yang baru kemarin kita bubarkan, kita akan dijadikan negeri Khilafah, ada. Tidak akui nasionalisme, tidak akui Pancasila, NKRI, kita bubarkan. Tapi, sekarang masih bonceng lagi dalam keruwetan Pemilu kita. Ada.“ katanya di hadapan pers di Jakarta. (viva.co.id)

Setali tiga uang dengan koleganya, walau pun beda tipis komennya, Mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), AM Hendriprioyono, juga menyebut Pilpres 2019 adalah pertarungan dua ideologi, yaitu antara Pancasila versus Khilafah, beberapa waktu sebelum hari pencoblosan. Hendropriyono melihat ada bedanya dengan pemilu sebelumnya yang pernah dilaksanakan sepanjang sejarah hidup bangsa Indonesia.“Pemilu kali ini yang berhadap-hadapan bukan hanya subjeknya, bukan hanya kubu dari Pak Jokowi dan Pak Probowo, tapi ideologi. Tinggal pilih saja,” katanya. (detik.com). 

Jelas ini menyindir Kubu 02 atau oposisi, yang didukung oleh kaum muslim yang tergolong militan, salah satunya FPI yang dikomandoi Habib Rizieq Shihab (HRS). Dampaknya, pernyataan ini dibantah oleh Badan Pemenangan Nasional (BPN) dari kubu Prabowo. Ini hanyalah fitnah, kata mereka.

Lepas dari upaya masing-masing kubu untuk saling serang, dalam rangka meraih simpati publik, adanya penyebutan ideologi Pancasila dan ideologi Khilafah perlu kita kaji lagi. Apakah benar keduanya bisa disebut sebagai ideologi? Lalu, mengapa ideologi kita dikaitkan dengan identitas Islam begitu ditakuti?

Ideologi di Dunia
Menurut Muhammad M. Ismail dalam bukunya Al Fikr Al Islami, ideologi (mabda') adalah suatu keyakinan dasar (rasional/aqliyah) yang memancarkan sistem atau sekumpulan peraturan hidup. Menurut definisi ini, jelas sebuah ideologi harus memiliki dua syarat yaitu ide (dasar) dan metode penerapan agar semua ide atau pemikiran ideologi tersebut bisa aplikatif. Sebaliknya, jika tidak mempunyai kedua hal itu maka tidak layak disebut ideologi.

Secara umum, ada tiga ideologi besar di dunia yakni Kapitalisme-Sekuler, Sosialisme (termasuk Komunisme), dan Islam. Ketiga ideologi tersebut mempunyai fikrah (ide) dan thariqah (metode penerapan) yang jelas. Di bawah ini gambaran ketiganya secara sekilas.

Kapitalisme. Ideologi kapitalisme dibangun di atas dasar pemisahan agama dari kehidupan. Kebebasan sangat diagungkan dalam ideologi ini. Sistem pemerintahannya pun juga jelas yakni sistem demokrasi. Kedaulatan berada ditangan rakyat. Jadi, manusia bebas membuat peraturan apapun tanpa harus terikat dengan aturan (agama) manapun.

Tanda-tanda tumbangnya ideologi ini semakin tampak karena tidak mampu memberikan solusi atas permasalahan rakyat. Justru yang ada kekacauan semakin tampak nyata. Karena, ideologi ini tidak sesuai dengan fitrah manusia. Meskipun mengakui keberadaan agama, tapi dinihilkan atau minimal dipisahkan dari kehidupan (privat saja).

Sosialisme. Ideologi ini menafikan sama sekali keberadaan Tuhan (terutama yang berpaham komunis/atheis). Mereka berkeyakinan bahwa segala sesuatu berasal dari materi. Peranan negara sangat dominan dalam mengatur rakyatnya biasa disebut pemerintahan otoriter atau tangan besi. Warga negara tidak memiliki kebebasan sama sekali. Ideologi ini juga sangat tidak sesuai dengan fitrah manusia, karena menafikan peran agama dalam kehidupan. Negara berideologi ini pun tidak bertahan lama, karena rakyat sangat tidak ingin memepertahankannya. Contohnya Uni Soviet yang sudah tumbang sejak awal tahun 90-an. 

Islam. Inilah satu-satunya ideologi yang sesuai dengan fitrah manusia. Karena dalam Islam, dasar ideloginya adalah keimanan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dan seluruh pemikiran yang bersumber pada wahyu Sang Pencipta, yaitu Al Qur'an dan Sunnah Rasulullah. Standar seluruh perbuatan manusia terikat dengan halal-haram (syariah Islam).

Sampai di sini, ucapan mantan ketua BIN tak ada relevansinya karena fakta menunjukkan kubu 01 atau 02 sama ideologinya. Apa? Ya, ideologi kapitalis-sekuler. Bukankah negeri muslim terbesar ini tidak setuju dengan PKI atau paham komunis? Juga tidak mau disebut negara Islam, jadi jelas pilihannya tinggal ideologi Kapitalis. Walaupun mereka muslim (kubu 01), tapi Islam tidak diterapkan secara formal dalam kehidupan. Atau pada kubu 02, Prabowo sudah secara terang-terangan menolak khilafah (sistem Islam) ketika tersudut dengan tuduhan.

Sehingga, sudah jelas pemilu kali ini bukan perang ideologi, tapi perang antar kubu dengan identitas tertentu. Maka, kubu oposisi tak bisa dihindari membawa pendukung yang sangat militan dari segmen Islam. Tapi, masih terasa malu-malu untuk ke depan menerapkan Islam sebagai sebuah ideologi yang sempurna. Kalau mereka menang lho ya.

Menjadi jelas juga bahwa Khilafah bukanlah sebuah ideologi. Begitupun dengan Pancasila, karena dalam menjalankan pemerintahannya masih menggunakan sistem demokrasi yang berasal dari sistem kapitalisme. Dan, inilah yang menjadi sumber carut-marutnya kehidupan masyarakat. Karena demokrasi menyerahkan pada manusia kewenangan membuat aturan sesuai hawa nafsu mereka dan pesanan pihak “tertentu.”

Mengapa Kuawatir dengan Politik Identitas (Islam)?
Sebagai suatu ideologi, Islam satu-satunya yang bersumber dari Sang Pencipta manusia. Allah Subhanahu wa ta’ala tentu Maha Mengetahui mana yang terbaik bagi manusia. Ideologi Islam juga pernah berjaya lebih dari 13 abad dan menguasai hampir 2/3 dunia. Metode yang ditempuh untuk bisa menerapkan ideologi ini secara sempurna adalah dengan institusi negara. Sistem khilafah namanya.

Lalu, mengapa semua kubu menolak identitas Islam termasuk kubu 02? Bukankah kubu PAS jelas-jelas didukung kaum alim ulama (UAS, UAH, Aa Gym, dll)?  Bisa jadi karena stigma yang tersebar selama ini terhadap ideologi dan sistem Islam.

“Kita tahu apa yang terjadi di Suriah dan Irak adalah karena coba-coba. Karena coba-coba, terjadi pertentangan yang luar biasa. Akhirnya dibom oleh koalisi Arab sendiri, yang bukannya suka dengan ideologi itu (Khilafah). Lalu di belakangnya, ya negara-negara adidaya yang bermain. Inilah yang disebut proxi war,“ kata Hendropriyono. “Saya tidak nakut-nakuti. Tapi ini kenyataan!” lanjut jenderal tersebut. (detik.com)

Kelihatan sekali mantan Ketua BIN ini tak “jujur” bahwa kasus di Timur Tengah, termasuk Suriah, berawal dari Arab Spring (Musim Semi Arab) pada 2011-an. Sebagaimana Dosen Program Studi Ilmu Hubungan Internasional, Budi Mulyana menulis dalam “Akar Krisis Suriah” bahwa telah terjadi gelombang demo besar-besaran dari rakyat yang sudah tidak kuat dengan tekanan rezim otoriter. Rezim Bashar Assad telah sangat brutal menangani “aspirasi” warganya. Korban terus berjatuhan.

Bahkan di Suriah, konflik terus berlangsung karena campur tangan asing yang sangat kental. Ringkasnya, apa yang terjadi di Suriah adalah bagian dari skenario internasional untuk melakukan westernisasi di Timur Tengah. Upaya masyarakat untuk berubah, terus digempur oleh banyak kekuatan di luar Suriah untuk mengamankan kepentingan mereka di negeri Syam, tanah yang diberkahi (Al-Wa'ie Januari/2019). Jadi, bukan ideologi Islam yang menyebabkan Suriah berdarah tapi kebengisan ideologi Kapitalislah yang dianut rezim sebagai penyebabnya!

Jadi, apa yang berbusa-busa disampaikan bahwa akan terjadi konflik seperti Suriah jika politik identitas dimainkan, jelas bagian dari framing pihak-pihak anti Islam. Agar umat takut terhadap agama Islam yang mulia. Mereka tega memfitnah din ini sebagai agama teror demi mempertahan kekuasaannya atas petunjuk tutornya negara imprealis (penjajah). Padahal, Islam pernah diterapkan lebih dari 10 abad tapi justru rakyat muslim dan non muslim bisa hidup berdampingan dengan damai. 

Tak jauh beda dengan Mr.W yang kerap menuduh ngawur “musuh” politiknya. Ya memang saking khawatirnya, khilafah menjadi pilihan alternatif dari kebuntuan relasi rezim dan rakyat seperti yang kita saksikan hari ini. Rakyat membenci penguasa, penguasa pun zalim dengan rakyatnya. Bahkan, tersiar kabar korban jatuh dari aksi 21 Mei yang dilaksanakan oleh Gerakan Nasional Kedaulatan Rakyat (GNKR) tadi malam. GNKR adalah aksi rakyat yang tidak menerima hasil rekapitulasi KPU yang memenangkan petahana. Karena telah terjadi kecurangan, kata mereka.

Sungguh sistem Demokrasi-Kapitalis, belum satu abad sudah begitu banyak menelan korban. Selain memang akibat kerakusannya atas kekayaan alam bangsa-bangsa yang mereka jajah. Di Indonesia bahkan para petugas pemilu tewas lebih dari 600 orang. Miris.

Jadi, apa kita masih berharap pada sistem seperti ini? Sudah saatnya kita menggantinya dengan sistem alternatif. Terapkan Islam kaffah dalam bingkai Khilafah. Insya Alloh berkah.

Jangan pernah takut dengan celaan para pembenci Islam, ”Dan hendaklah kami menyampaikan kebenaran di mana pun kami berada, tidak takut karena Allah (atas) celaan orang-orang yang mencela“ (HR. Bukhari dan Muslim dari Ubadah bin Shamit ra). 

Apalagi, terhadap rezim yang suka latah mengikuti petunjuk Tuan Besarnya, negara penjajah. Wallahu'alam. [MO/ms]

Posting Komentar