Oleh: Fitri Suryani, S. Pd
(Guru SMA Sulawesi Tenggara)

Mediaoposisi.com-22 Mei berbagai pengguna layanan media sosial seperti Instagram, Facebook dan WhatsApp mengalami gangguan. Pelanggan mengaku sulit mengakses media tersebut. Sebagaimana Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Wiranto mengatakan layanan media sosial (medsos) akan dinonaktifkan untuk sementara.

Baca Juga: Masa Depan Bangsa Setelah Pengumuman KPU

Tindakan itu diambil pemerintah untuk menghindari penyebaran berita bohong atau hoax. Ia mengatakan pemerintah ingin agar masyarakat mendapatkan informasi yang akurat. Sebab, Wiranto menyebut adanya upaya adu domba di dalam masyarakat melalui berita bohong di medsos

Tindakan tersebut tentu sangat disayangkan oleh sebagian pengguna media sosial yang kebanyakan menggunakan untuk berbagai keperluan.

Selain untuk mendapatkan informasi, media sosial tak sedikit pula digunakan dalam rangka mempromosikan atau mengiklankan barang atau jasa yang dijual/ditawarkan kepada pengguna media tersebut.

Namun, tidak dapat dielakkan jika kini banyak masyarakat yang menggunakan media sosial sebagai sarana dalam mencari informasi di dalam maupun di luar negeri, terlepas berita tersebut kadang tidak sepenuhnya dapat dipercaya 100 persen. Tetapi, setidaknya masyarakat juga dapat mengetahui informasi yang kadang tak diberitakan di media mainstream.

Hal itu pun terjadi mengingat berita di media mainstream yang ada saat ini tak dapat pula dijadikan sebagai sumber rujukan satu-satunya. Sebab, sudah menjadi rahasia umum, tak sedikit media-media tersebut telah condong pada salah satu pihak, tak terkecuali dalam kepentingan politik.

Sehingga kadang memarginalkan pihak lain. Karenanya wajar jika masyarakat kini tak sedikit lebih cenderung ke media sosial dalam memperoleh informasi.

Selain itu, jika membahas tentang hoax seperti yang disampaikan dosen di Departemen Filsafat Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia (FIB-UI), Rocky Gerung menilai bahwa pembuat berita bohong terbaik adalah pemerintah yang sedang berkuasa.

Alasannya, penguasa memiliki seluruh peralatan untuk berbohong. Intelijen, kata dia, pemerintah punya, begitupun data statistik dan media

Sesungguhnya dinonaktifkannya media dengan alasan untuk menghindari penyebaran berita bohong atau hoax, walau hanya sementara tentu bukan menjadi solusi utama. Sebab hal itu justru makin menampakkan kepada masyarakat bagaimana situasi perpolitikan yang ada saat ini.

Memang media tersebut dapat dinonaktifkan, tetapi sesungguhnya pemahaman yang tertancap tidak dapat dinonaktifkan, karena telah merasuk di benak masyarakat tentang bagaimana sebenarnya penguasa saat ini dalam mengurusi rakyatnya.

Seperti barang langka, kejujuran memang tidak mudah didapatkan saat ini, karena orang-orang baik sekalipun dapat berbuat zalim, karena terkondisikan oleh sistem yang ada. Sebab, sekularisme telah menjangkiti umat, sehingga aturan pencipta seolah hanya persoalan ritual semata.

Kalau sudah begini perbuatan yang dilakukan di luar ritual, baik buruknya akan distandarkan pada pandangan manusia.

Padahal sejatinya manusia bersifat serba kurang dan terbatas. Karenanya kebijakan yang dibuat jika tak berpedoman pada-Nya akan menghasilkan pertentangan, sehingga ada pihak yang diuntungkan dan ada pula yang dirugikan.

Karena sesungguhnya, bila dusta dan kezaliman mewabah, maka yang terjadi adalah musibah, di dunia dan di akhirat.

Sebagaimana Rasulullah saw dalam hadis yang dibawakan oleh Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu beliau bersabda yang artinya, Dan sesungguhnya kedustaan akan membimbing menuju kejahatan, dan kejahatan akan membimbing menuju neraka.

Sesungguhnya seseorang akan bersungguh-sungguh berusaha untuk dusta, sampai akhirnya ia benar-benar tertetapkan di sisi Allâh sebagai pendusta (HR. Bukhari dan Muslim).

Dusta merupakan perbuatan terlarang dan haram, bahkan dapat menjauhkan keimanan. al-Hâfizh Ibnu Hajar al-‘Asqalâni rahimahullah membawakan riwayat al-Baihaqi yang menurut beliau sanadnya shahih, dari Abu Bakar ash-Shiddiq Radhiyallahu anhu, beliau (Abu Bakar) berkata: “Dusta akan menjauhkan keimanan.”

Dengan demikian, berita bohong atau hoax seakan telah dianggap biasa, karena sistem ini memang telah mengkondisikan hal tersebut. Namun, hal tersebut tentu tidak akan terjadi, jika aturan yang ada berlandaskan atauran-Nya.

Karena sesungguhnya yang mengetahui mana yang terbaik untuk hambanya tentu yang menciptakan hamba, yakni Allah swt.[MO/ad]

Posting Komentar