Oleh: N. Vera Khairunnisa
Mediaoposisi.com-  Film berjudul Kucumbu Tubuh Indahku (KTI) yang digarap sutradara GN, menuai kecaman beberapa pihak, termasuk tiga pemerintah daerah; Depok, Jawa Barat, serta Kubu Raya dan Pontianak, Kalimantan Barat. Kecaman ini muncul karena konten film yang mulai ditayangkan di bioskop pada 18 April lalu itu dituding mengkampanyekan isu LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender). (tribunnews. com, 26/04/19)
Ketua Lembaga Sensor Film (LSF) Ahmad Yani Basuki menuturkan, reaksi masyarakat terhadap film KTI sudah muncul jauh sebelum filmnya tayang di bioskop. Menurutnya, respons penolakan sudah hadir saat muncul video trailer yang belum diluluskan LSF. Meski begitu, film ini tetap lulus dan boleh ditayangkan di seluruh bioskop di Indonesia.
Sebetulnya, film dengan tema LGBT bukan muncul kali ini saja, jika kita cek list film beberapa tahun ke belakang, akan muncul banyak judul film dengan genre serupa, miris.
Fakta ini sebetulnya akan menunjukkan kita bukti akan tiga hal berikut:
Pertama, bahwa dalam sistem demokrasi, semua hal bisa dilakukan. Karena ada jaminan kebebasan berekspresi, termasuk dalam membuat karya seni. Ketika karya tersebut dirasa akan menghibur, maka akan dibiarkan, meski harus melanggar norma agama.
Oleh karenanya tidak heran jika GN menilai, sikap para pejabat daerah yang ikut melarang pemutaran film KTI di daerah mereka ikut menciderai kualitas nilai-nilai demokratis di Indonesia.
"Ini menunjukan kualitas demokrasi massa serta elit pemimpin telah merosot ditengah pemilu yang tengah mencari pemimpin berkualitas," kata Garin Nugroho. (tribunnews. com, 01/05/19)
Kedua, bahwa dalam pandangan sekuler kapitalis, yang menjadi standar baik dan buruk itu bukan halal dan haram, melainkan asas manfaat secara materi. Sehingga ketika dirasa akan menguntungkan, maka produk tersebut akan dijual. Meski produk itu haram, serta akan berdampak merusak generasi.
Ketiga, bahwa dalam sistem kapitalis, selain untuk mencari keuntungan secara materi, keberadaan media juga dijadikan sarana untuk menyebarkan ide-ide bebas semisal LGBT.
Karena itu, yang menjadi penyebab maraknya film-film tidak mendidik dan menyesatkan adalah karena Indonesia menerapkan sistem demokrasi dan kapitalis sekuler.
Dengan demikian, seharusnya umat Islam menyadari betapa bahayanya jika sistem ini terus dipakai di negeri ini. Moralitas dan akhlak kaum muslim akan semakin rusak dan jauh dari akhlak yang sesuai dengan yang dicontohkan Rasulullah saw. dan para sahabat.
Islam dan Seni
Pertama, Islam tidak melarang umatnya untuk berkreativitas. Hanya saja, ada aturan yang harus dipatuhi, sehingga kreativitas yang dihasilkan tidak melanggar aturan Islam. Misalnya saja, Islam akan melarang dengan keras pembuatan film yang di dalamnya ada tayangan LGBT. Dan negara akan memberikan sanksi yang tegas bagi pihak-pihak yang tetap membuatnya.
Kedua, di dalam Islam, yang menjadi standar baik dan buruk adalah halal dan haram. Dengan pandangan seperti ini, maka umat Islam tidak akan mau membuat dan menjual produk kreativitas yang diharamkan, meski menawarkan keuntungan yang besar. Karena dia lebih takut akan masuk neraka, dibandingkan takut dengan kemiskinan.
Ketiga, dalam Islam, media bukan sekedar untuk hiburan, namun sebagai sarana dakwah dan pendidikan untuk mencerdaskan generasi dengan Islam.
Oleh karena itu, mari sama-sama berjuang untuk mengganti sistem yang ada hari ini, yang berpotensi merusak generasi, dengan sistem Islam, yang akan mencerdaskan generasi. Wallahua'lam. [MO/ra]

Posting Komentar