Oleh : Nasrudin Joha

Mediaoposisi.com-Nampaknya, antara pemilik suara dan yang memperoleh mandat suara berbeda pandangan tentang jalur perjuangan yang ditempuh untuk membela hak. BPN Prabowo - Sandi, pada akhirnya menyerah dan membawa perkara ini ke MK. Satu tindakan yang sejak jauh hari sudah bisa ditakar ujungnya.

Apalagi, bagi Prabowo berperkara di MK bukanlah untuk kali yang pertama. Jelas, Prabowo juga sudah bisa menakar apa putusan yang akan diterima.

Dibeberapa sengketa Pilkada, banyak kasus paslon maju berperkara di MK bukan karena optimis akan menang. Tetapi bagian dari ikhtiar untuk meredam gejolak konstituen yang sudah berjibaku membela paslon.

Dengan membawa perkara ke MK, paslon bisa mengangkat tangan dan menyatakan menyerah kepada konstituen, bahwa dirinya telah berjuang sungguh-sungguh namun apa daya MK membuat putusan berbeda. Jadi, proses hukum ke MK bukan untuk mencari keadilan apalagi berharap kemenangan. Proses ke MK hanya dijadikan argumen kepada konstituen bahwa paslon telah optimal berjuang, dan pada akhirhya keputusan MK berkata lain.

Pada titik itulah, konstituen akhirnya diminta menerima keadaan, menyerah dan bisa memaklumi posisi paslon. Sampai disini sengketa Pilkada selesai.

Namun, pada Pilpres saat ini perkaranya bukan sekedar persoalan Prabowo - Sandi dengan Jokowi - Ma'ruf yang dimenangkan KPU. Sengketa bukan hanya gugatan 02 terhadap KPU dimana 01 hanya menjadi pihak terkait.

Tapi sengketa Pilpres 2019 ini telah melebar menjadi sengketa antara segenap rakyat dengan rezim yang curang dan zalim. Sengketa ini, tidak akan mungkin redam meskipun MK telah mengumumkan putusan kekalah Prabowo - Sandi.

Sengketa antara rakyat vs rezim ini menjadi memuncak, ketika aparat kepolisian menangani demo rakyat atas kecurangan pemilu secara brutal dan tidak bermoral. Perseteruan dan dendam itu, makin mendalam dan meluas, ketika dikubu rakyat jatuh korban meninggal dan luka-luka akibat penanganan demonstrasi yang zalim.

Jadi, ini bukan lagi persoalan Prabowo Sandi yang bisa diselesaikan di MK. Ini adalah peraoalan antara rakyat vs rezim Jokowi yang akan diadili melalui Mahkamah Rakyat.

Jokowi tidak akan dapat berdiri kokoh mendeklarasikan kemenangan berdasarkan pengumuman KPU. Jokowi akan terus mendapat perlawanan dari rakyat yang sebelumnya dicurangi ditambah lagi di zalimi saat menyampaikan aspirasi.

Saat rezim mampu menundukan Prabowo Sandi, menundukan segenap partai, hingga bersorak sorai atas pelantikannya oleh ketua MPR. Namun rezim tidak mungkin mampu mengunggah kebahagiaan rakyat atas pelantikan itu.

Rezim telah membangun istana kepalsuan diatas bangkai, darah dan air mata penderitaan rakyat. Rezim telah bersorak sorai diantara seriosa kepedihan dan jerit tangis rakyat.

Lantas, sampai kapan pertentangan ini akan terjadi ? Nampaknya, pasca pengumuman putusan MK rezim akan terus mendapat perlawanan dari Mahkamah Rakyat yang tidak terima dicurangi dan dizalimi.
Selamat datang, di era Mulkan Jabriatan ! [Mo/vp].

Posting Komentar