Oleh : Ifa Mufida
( Praktisi Kesehatan dan Pemerhati Masalah Sosial)

Mediaoposisi.com- Game online yang selama ini menuai pro dan kontra di tengah masyarakat kembali membuat kerusakan. Kali ini, kerusakan tersebut  adalah seorang gamers wanita yang nekat melakukan tindakan kriminal demi memuaskan dirinya dalam bermain game.
Sebagaimana diberitakan bahwa seorang gadis asal Pontianak, berinisial YS (26) diamankan aparat kepolisian dari Polda Metro Jaya karena membobol bank hingga Rp 1,85 miliar. Dana sebanyak itu, digunakannya untuk bermain game online, Mobile Legends (viva.co.id).
YS merupakan seorang gamers atau pemain game online Mobile Legends sejak setahun terakhir. Wakil Direktur Reskrimum Polda Metro Jaya AKBP Ade Ary Syam mengatakan perempuan muda asal Pontianak, Kalimantan Barat itu membobol bank dengan cara transfer dana dalam bentuk e-voucher dan mata uang lain dalam game online Mobile Legends (ML) (viva.co.id).
Jika kita amati di sini mengapa seseorang bisa senekad itu? Bahkan uang sebanyak itu tidak digunakan untuk kebutuhan  yang lain dan memang khusus untuk membeli peralatan yang ada di Mobile Legends (ML). ML adalah salah satu game online yang  menimbulkan ketagihan. Permainan ini akan merangsang insting mempertahankan diri dan aktualisasi, sehingga berupaya untuk terus naik ke level di atasnya.
Pembobolan bank hingga nominal sebesar tersebut hanya untuk game online merupakan  salah salah satu bukti bahwa game adalah aktivitas yang rusak dan merusak. Selanjutnya, jika  beberapa waktu lalu pemerintah mewacanakan game online masuk kurikulum, adakah kontribusinya terhadap kepribadian dan intelektualitas generasi bangsa?
Faktanya, Mobil Legends adalah salah satu game online yang banyak menyuguhkan dampak negatif bagi para remaja. Dampak negatif utama yang ditimbulkan yaitu kecanduan dalam bermain game, sehingga menyebabkan buruknya kesehatan psikologis para pemain game.
Karena para pemain biasanya jika sudah mulai bermain game akan membutuhkan waktu selama berjam-jam. Kemudian, tanpa disadari permainan game online akan mendorong para remaja melakukan hal-hal negatif seperti berbicara hal yang kasar dan juga kotor. Karena biasanya para pemain dalam bermain game merasa kesal saat bermain, mungkin karena mereka kalah dalam permainan yang dimainkan.
Selain dari itu, para remaja yang bermain game online akan mengalami perubahan dalam pola makan dan istirahatnya. Mereka sampai lupa makan dan beristirahat karena sudah asyik dalam bermain.
Hal semacam inilah yang kemudian akan mengganggu kesehatan para pemain game dan dapat menyebabkan mereka jatuh sakit. Waktu yang mereka habiskan ketika bermain, akan membuat pekerjaan di dunia nyata menjadi terbengkalai.
Sebab, ketika sudah keasyikan dalam bermain mereka akan terus menyelesaikan game karena game yang dimainkan sudah menuju puncak kemenangan. Akibatnya mereka lupa menunaikan ibadah, lupa menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan rumah, tugas sekolah ataupun tugas-tugas kuliah sehingga terbengkalai.
Demikianlah, remaja yang di usianya seharusnya menjadi insan yang produktif akhirnya terperosok kepada ke sia-sia an semata.  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Di antara tanda kebaikan keIslaman seseorang: jika dia meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat baginya.” (Hadits hasan, diriwayatkan oleh at-Tirmidzi no. 2318 dan yang lainnya).
Maka untuk menyelamatkan remaja, harusnya remaja didorong untuk  meninggalkan kesia-siaan salah satunya adalah bermain game online. Lalu jika nyata kerusakan di atas, hal apa yang akhirnya justru mendorong berkembangnya game ini bahkan akan dimasukkan di dalam kurikulum sekolah?
Kita bisa lihat di sini bahwa pola pikir Kapitalis-liberal telah menjadi tolak ukur segala hal dalam kehidupan saat ini. Termasuk bagaimana pemerintah meilihat bahwa mobile Legends dilihat bisa memberikan keuntungan secara finansial. Padahal, banyak riset menunjukkan dampak buruk kecanduan games.
Di antaranya terpapar radiasi, insomnia, mudah depresi, pornografi dan kekerasan, memicu tindak kriminal, phobia sosial, dll. Tentu, ini sangat merusak stamina dan akal sehat generasi. Menjadikan mereka apatis dan individualis. Bukankah ini sebuah kedangkalan berpikir? Lebih jauh dari itu, Orientasi generasi pejuang kebangkitan tidak mungkin ada. Karena mereka tersibukkan oleh permainan yang melalaikan. Na'udzubillahi min dzalik.
Berkaca dari peristiwa tindak kriminalitas atas nama game online tersebut, seharusnya ada langkah strategis dari pemerintah untuk mencegah kriminalitas selanjutnya. Sebab game online nyata telah memicu tindak kriminal, menghalalkan segala cara demi kepuasaan jasadiyahnya semata.
Ironisnya, pemerintah mengatakan bahwa wacana tersebut muncul dengan pertimbangan game online berkaitan dengan cabang olahraga (e-sport). Hal ini sudah tentu sebuah keputusan yang bathil, karena sesuatu yang jelas rusak dan merusak harusnya tidak diambil oleh pemerintah. Terlebih jika efek utama program ini adalah merusak generasi yang kelak akan mengisi negeri ini.
Masih menjadi pe-er  besar untuk bisa menuntaskan problematika kompleks remaja. Maka tidak patut jika pemerintah justru mengeluarkan kebijakan yang memberi jalan remaja untuk tidak produktif.
Sebaliknya, pemimpin harus bisa mendorong para milenials menjadi generasi bertakwa. Mereka harusnya didorong menjadi insan yang melek teknologi untuk menebar kemaslahatan dan memperjuangkan kebangkitan umat. Karena mereka adalah generasi yang akan meneruskan estafet perjuangan untuk membangun peradaban gemilang.
Namun nyatanya di era kapitalis-liberal, sangat susah membentuk remaja yang ideal. Bahkan virus-virus perusak difasilitasi untuk bisa menjangkiti remaja kita. Hanya dengan kembali kepada pangkuan Islam saja, remaja kita akan menjadi remaja berkualitas dan produktif, insya Allah.
Wallahu a'lam bi showab. [MO/ra]

Posting Komentar