Oleh: Asriadi Damis

Mediaoposisi.com-Tingkat kesuburan tanah di Indonesia tidak diragukan lagi, berbagai komoditas pertanian tumbuh dengan baik. Jika dibandingakan dengan berbagai negara di Eropa tentu Indonesia memiliki prospek lebih besar terhadap pemanfaatan lahan pertanian sebagai nilai ekonomi.

Berbagai jenis sayur mayur setiap hari bisa tumbuh dengan kualitas yang baik di tanah Indonesia, jika pengolahannya digarap dengan baik.

Anomali Prospek Pertanian

Menurut Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman bahwa ada sepuluh komoditas andalan ekspor. Bahkan, hasil ekspornya menyumbang hampir separuh Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Adapun sepuluh komoditas andalan ekspor seperti sawit, karet, kacang mede, kelapa, tembakau, kakao, teh, kopi, lada, dan madu.

“Yang menarik adalah ekspor sepuluh komoditas pertanian strategis nilainya sudah mencapai Rp 1.062 triliun yaitu separuh dari nilai APBN kita," tegas Amran di Kementerian Pertanian

Selaras dengan data tersebut, Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan bahwa pada 2014-2017, nilai ekonomi ekspor produk pertanian sebesar 4,8 persen per tahun.

Bahkan pada tahun 2018, neraca perdagangan hasil pertanian Indonesia mengalami surplus dengan nilai 10 miliar dolar AS atau setera dengan Rp 139,6 triliun kurs saat ini

Sindrom Paralisis Bangsa

Acapkali bersaing dengan berbagai sektor, nampaknya Indonesia sedang tertidur dalam menyikapi persaingan potensi hasil pertanian. Beberapa kali ketinggalan dengan negara tetangga. Pendapatan ekspor dari kelompok agro, kehutanan dan prikanan Vietnam mencapai rekor tertinggi sebesar USD 32,1 miliar pada tahun 2016.

Dari data ekspor yang dikeluarkan oleh Global Economic Monitor World Trend Plus, Ekspor Malaysia dilaporkan sebesar 19,4 USD milyar pada tahun 2019. Rekor ini naik dibanding sebelumnya yaitu 18.1 USD milyar. Sementara untuk Vietnam dan Thailand menempati top leader untuk impor beras di Indonesia.

Ironinya, Indonesia selalu muncul sebagai top cunsumer pada kebutuahan impor beras. Sedang negara di kawasan Asia menjadi penyuplai beras terbesar bagi Indonesia. Negara-negara seperti Vietnam dan Thailand yang merupakan tetangga justru menjadi rajanya. Ada sekitar 1 juta ton yang masuk di Indonesia dari kedua negara tersebut.

Hal ini sebenarnya miris mengingat Indonesia sebagai negara agraris, namun masih mengimpor komoditas pangan utama tersebut. Jika dibandingkan dengan tingkat kesuburan tanah, Indonesia 3 kali lebih subur dibandingkan dengan Thailand.

Bentuk fokus lain untuk menghadapi ketahanan pangan dari negara lain adalah membangun pusat penelitian dan pengkajian yang komprehensif sehingga memungkinkan mengembangkan rekayasan pertanian

Disisi lain, perhatian pemerintah memang memiliki kepedulia besar terhadap perkembangan industri pangan dan pertaniannya. Misalnya di Jepang, pertaniaan benar-benar diperhatikan oleh pemerintah Jepang

Tata niaga pertanian Jepang telah diatur sedemikian rupa, salah satunya adalah masalah tumbuhan dan yang ditanam petani sesuai dengan permintaan pasar. Sehingga tidak ada petani kebingungan menjual hasil pertanian mereka.

Konsep-konsep seperti inilah yang perlu sadari untuk segera menuju kebangkitan ekonomi Indonesia melalui ekspor produk pertanian.

Koreksi Dan Eksekusi

Pemanfaatan lahan pertanian ternyata belum dimaksimalkan untuk memenuhi kebutuhan pangan bangsa. Sebagai Presiden yang suka blusukan di sawah menemukan fakta di lapangan bahwa saat ini ada sekitar 36,8 juta hektar lahan pertanian Indonesia pengolahaannya belum maksimal.

Lain halnya yang katakan oleh Kepala BPS Suhariyanto, luas lahan Indonesia selalu mengalami penurun tiap tahunnya. Hal ini disebabkan oleh seringnya perubahan alih fungsi lahan pertanian.

Permasalahan lain yang paling sering dihadapi bangsa ini adalah ketergantungan dengan produk-produk impor. Bahkan tidak hanya untuk bahan baku testil tapi juga untuk kebutuhan pangan semata. Ternyata hal ini menjadi salah satu alasan mengapa petani di Indonesia belum bisa makmur.

Fakta itu menurut pengamat pertanian Didin S Damanhuri. Sangatlah menohok bangsa ini yang terkenal dengan kekayaan alam yang seharusnya mampu menjadikan Indonesia sebagai negara yang berbasis pertanian.

Indonesia yang lebih dikenal dengan negara agraris dan kelimpahan kekayaan alamnya, nyatanya produk pertanian belum bisa bersaing dengan banyak negara di Asia.

Banyak upaya yang bisa dilakukan untuk menjawab berbagai tantangan menuju pertanian Indonesia melalui peningkatan ekspor produk pertanian, salah satunya melalui program pemberdayaan beberapa daerah khusus pertanian.

Sebagaimana sumber-sumber daya yang bisa dimanfaatkan sebagai lahan pengolahan pertanian modern seperti daerah Sulawesi yang tekenal dengan produk Kakao dan Cengkeh perlu dikemabangkan sebelum terdekredasi oleh alih fungsi lahan

Pemanfaatan ini tentu tidak bersifat sementara tapi akan perlu jangka stategi jangka panjang. Sebagai negara eksportir, Jepang butuh waktu setidaknya 20 tahun untuk menuju kekuatan pertaniannya

Dengan pemanfaatan daerah potensial dengan memberikan program khusus pertanian, mulai dari proses pemilihan lahan hingga penjualan dikelolah dengan baik oleh pemerintah setempat dengan kerjasama para petani

Beberapa kawasan bisa dikembangkan sebagai geoekonomi yang bernilai tinggi dengan produk-produk hasil buminya

Namun hal ini tidak bisa direalisasikan dengan baik jika pemerintah dan beberapa intansi terkait tidak memiliki visi yang sejalan. Perlu ada kontruksi kebijakan yang berani dari Kementrian Perdagangan untuk sementara waktu tidak mengimpor beberapa barang komuditas pertanian yang dapat di kembangkan oleh Indonesia dengan manfaatkan potensi perberdayaan dearah pertanian.

Lagi-lagi ini berkaitan erat dengan kebijakan oleh pemerintah pusat maka hal ini butuh kordinasi dari segal pihak termasuk kepada Kementrian Pertanian agar program ini bisa dijalankan dengan baik dan saling terkait atar lembaga.

Potensi pertanian tidak hanya kita manfaatkan dari segi ekonomi saja, tetapi mari kita jadikan hasil pertanian sebagai salah satu sarana untuk memperkuat identitas bangsa, sehingga Indonesia mampu dipandang sebagai negara prospektif dan mampu berkompetisi dalam persaingan ekonomi global.[MO/ad]

Posting Komentar