Gambar: Ilustrasi
Oleh: Irianti Aminatun 
(Member AMK, Pemerhati Masalah Umat)

Mediaoposisi.com-Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Puan Maharani mewacanakan akan mengundang guru dari luar negeri untuk menjadi tenaga pengajar di Indonesia. Menurut Puan, Indonesia sudah bekerjasama dengan beberapa negara untuk mengundang para pengajar. Salah satunya dari Jerman. “Kami ajak guru dari luar negeri untuk mengajari ilmu-ilmu yang dibutuhkan di Indonesia,” ujar Puan dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan Nasional Bappenas, di Hotel Shangri-La, Jakarta Pusat, Kamis 09/05/2019 (tirto.id).

Wacana Puan mengundang guru dari luar negeri membuktikan bahwa sistem pendidikan sekuler gagal mencetak guru berkualitas untuk mewujudkan generasi mandiri, tangguh, problem solver, dan memiliki skill dalam kehidupan.

Hal itu wajar sebab kurikulum sistem pedidikan sekuler hanya melahirkan produk pendidikan sebagai “tukang” yang siap “dimanfaatkan oleh para “pemesannya”. Produk pendidikan kita tidak pernah menghasilkan manusia yang faham dengan apa yang harus dikerjakan alias tidak mandiri. Sebanyak apapun pakar yang dihasilkan, tetap hanya sebagai tukang terampil yang siap untuk dipekerjakan. Dengan kata lain, sistem pendidikan model ini hanya akan menyebabkan bangsa ini menjadi terjajah. Yang bisa dilakukan dari produk pendidikan model ini hanya akan mengikuti agenda dan arahan dari para penjajahnya.

Dikatakan bahwa pada tahun 2017, pemerintah akan menghentikan izin pendirian lembaga-lembaga pendidikan tinggi akademik dan mendorong pengembangan pendidikan tinggi kejuruan (Kompas, 29 Desember 2016). Tujuan untuk sejalan dengan kepentingan dan meniru penyelenggaraan pendidikan tinggi di negara-negara maju, telah menjadi pertimbangan utama.

Ini adalah bukti kuat bahwa desain pendidikan tinggi Indonesia bersifat pragmatis, berorientasi pada peradaban Barat, serta tidak memiliki visi yang cukup untuk menghasilkan sumber daya manusia yang akan membangun negara dan memimpin peradaban. Perguruan tinggi sedang diarahkan untuk memenuhi kebutuhan industri atau pasar. Ini juga menunjukkan, desain pendidikan bersifat pragmatis yang hanya mampu memproduksi para pekerja untuk negara. Sistem pendidkan yang ada gagal menghasilkan generasi unggul untuk mewujudkan peradaban yang luhur.

Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Indonesia M.Nasir merencanakan, pada awal tahun
2017, sebuah proposal untuk membawa para intelektual asing yang ternama (masuk) ke Indonesia.
Mereka berasal dari Amerika Serikat, Jerman, Belanda, Inggris, Australia, Jepang dan Korea Selatan.
Bahkan, terdapat wacana mengenai impor rektor dari luar negeri. Jadi, wacana yang disampaikan
Puan untuk mengundang guru asing masuk Indonesia hanya merupakan tindak lanjut dari rancangan
Menristek.

Kebijakan tersebut ditempuh untuk mencapai target guna mendorong perguruan tinggi Indonesia masuk ke dalam kategori World Class University melalui peningkatan program doktoral serta publikasi dan penelitian kemitraan internasional dengan lembaga-lembaga pendidikan tinggi dan
universitas.

Harus kita akui bahwa kebijakan ini merupakan bukti inferioritas Indonesia di hadapan lembaga pendidikan negara-negara lain. Di sisi lain, kebijakan ini menunjukkan dominasi dan kooptasi dunia oleh Negara Kapitalis Sekuler Barat atas pendidikan tinggi di dunia Islam.

Ketika perguruan tinggi gagal mencetak sumber daya manusia berkualitas, kita perlu memformat ulang sistem pendidikan yang ada agar mampu mencetak manusia yang dapat menjadikan bangsa ini sebagai pemimpin dunia, bukan menjadi bangsa yang terjajah dan inferior. Sistem pendidikan yang benar adalah sistem yang mampu menjawab secara benar tentang hakikat hidup manusia, dari mana ia ada, untuk apa ia ada, dan kemana setelah ia mati. Tugas sekolah adalah menuntun anak didik untuk dapat memperoleh jawaban benar secara obyektif dari ketiga pertanyaan di atas.

Sistem pendidikan mampu menjawab ketiga pertanyaan tersebut dengan benar adalah sistem pendidikan Islam. Sebab ini berasal dari wahyu yang diturunkan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala, Pencipta alam semesta ini.

Pendidikan dalam Islam adalah upaya sadar, terstruktur, terprogram, dan sistematis dalam rangka mencapai tujuan pendidikan yang telah digariskan oleh syariat. Beberapa tujuan itu diantaranya: Pertama, membentuk manusia bertaqwa yang memiliki kepribadian Islam secara utuh yaitu pola fikir dan pola sikapnya didasarkan pada akidah islam.

Kedua, menciptakan ulama, intelektual, dan tenaga ahli dalam jumlah berlimpah di setiap bidang kehidupan yang merupakan sumber manfaat bagi manusia. Mereka harus melayani masyarakat dan peradaban, serta akan membuat negara menjadi negara terdepan, kuat dan berdaulat.

Perguruan Tinggi dalam Islam sangat diperlukan untuk mewujudkan tiga tujuan. Pertama, fokus dan memperdalam kepribadian Islam para mahasiswa dan menghasilkan ulama/intelektual Islam dengan spesialisasi di semua cabang kebudayaan Islam.

Kedua, menghasilkan gugus tugas yang mampu melayani kepentingan vital umat, serta gugus tugas
yang dapat menggambarkan rencana (strategi) jangka pendek dan jangka panjang.

Ketiga, mempersiapkan gugus tugas yang diperlukan untuk mengurus urusan umat, seperti
menghasilkan dokter, guru, perawat, insinyur, dan orang-orang dengan profesi penting lainnya
dengan jumlah yang cukup untuk kebutuhan masyarakat dan negara.

Diharapkan, produk yang dihasilkan dari sistem pendidikan model ini akan mampu mencetak manusia yang sejati, mandiri, tidak mudah diperbudak penjajah. Produk sistem pendidikan model ini diharapkan juga, akan mempunyai kemampuan untuk mempertahankan kehormatan dan harga diri di negerinya sekaligus mampu menyebarkan rahmat bagi alam semesta. Bukankah misi Islam menyebarkan rahmat ke seluruh dunia?

”Permisalan hidayah dan ilmu yang Allah Subhanahu wa ta’ala sampaikan kepada diriku bagaikan air hujan yang menimpa sebidang tanah. Di antara tanah itu ada tanah baik yang mampu menyerap air dan menumbuhkan rerumputan serta pepohonan yang sangat banyak.

“Di antara tanah itu ada pula tanah liat yang mampu menahan air sehingga Allah Subhanahu wa ta’ala memberikan manfaat kepada manusia dengan tanah tersebut. Manusia bisa meminum air darinya, mengairi kebun kebunnya, dan memberi minum hewan-hewan ternaknya.

“Air hujan itu juga menimpa tanah jenis lain, yaitu tanah datar lagi keras yang tidak bisa menahan air dan menumbuhkan rerumputan.

“Demikianlah, perumpamaan orang yang faqih terhadap agama Allah dan orang-orang yang bisa mengambil manfaat dari apa-apa yang telah Allah sampaikan kepada diriku sehingga ia bisa belajar dan mengajarkan (ilmu tersebut kepada orang lain).

“Ini juga perumpamaan orang yang menolak hidayah dan ilmu dan tidak mau menerima hidayah Allah Subhanahu wa ta’ala yang dengan itulah aku diutus.” (HR Bukhari dan Muslim)


Wallahu a’lam bish shawab. [MO/ms]

Posting Komentar