Gambar: Ilustrasi
Oleh: Rita Yusnita

Mediaoposisi.com-“Kucumbu Tubuh Indahku." Baru membaca judulnya saja membuat merinding sekaligus jijik. Tapi, ketika melihat trailernya untuk memastikan bahwa perasaan ini tidak salah, ternyata benar bahwa film ini tidak layak untuk ditayangkan. Pantaslah film ini banyak menuai protes. Melansir dari Kompas.com (25/04/2019), film ini menimbulkan kontroversi lantaran memuat konten penyimpangan sosial.

Petisi menentang dan memboikot film tersebut bermunculan di medsos. Pengajuan petisi melalui laman Change.org tersebut berjudul “Gawat! Indonesia sudah mulai memproduksi film LGBT dengan judul “Kucumbu Tubuh Indahku.” Garin Nugroho sebagai Sutradara film tersebut angkat bicara melalui akun Instagramnya @garin_film.

Menurutnya, petisi yang dibuat untuk menentang filmnya tersebut seperti penghakiman sepihak masyarakat tanpa adanya ruang dialog, “Gejala ini menunjukkan, media sosial telah menjadi medium penghakiman massal tanpa proses keadilan, melahirkan anarkisme. Bagi saya, anarkisme massa tanpa proses dialog ini akan mematikan daya pikir terbuka serta kualitas warga bangsa.” seperti dikutip Kompas.com, Kamis (25/4/2019).

Seperti karya-karya Garin sebelumnya, film ini pun telah diakui kualitasnya di dunia dan menorehkan sederet prestasi Internasional di antaranya memenangkan Asia Pasific Screen Award, Film terbaik Festival Des 3 Continents Nantes 2018, dan mengikuti seleksi Festival Film Internasional di Venesia. Namun, semua penghargaan itu tak bisa memuluskan publikasinya di Indonesia.

Seperti diberitakan Antara, Wali Kota Depok, Muhammad Idris melalui surat bernomor 460/185-Huk/DPAPMK tertanggal 24 April 2019 menyampaikan keberatan dan melarang penayangan film tersebut di wilayahnya. Alasannya bahwa film tersebut dapat meresahkan masyarakat karena bisa mempengaruhi cara pandang atau perilaku masyarakat terhadap kelompok LGBT dan dianggap bertentangan dengan nilai agama. Hal senada diungkapkan juga Bupati Kubu Raya, Muda Mahendrawan yang memberi tembusan surat kepada KPID Kalimantan Barat (Kalbar) ke Gubernur Kalbar.

Meski film ini mengisahkan tentang perjalanan penari Lengger Lanang di sebuah desa kecil di Jawa, tetapi di dalamnya juga terdapat cerita yang mengisahkan sang penari yang nota bene laki-laki menyukai laki-laki yang berprofesi sebagai petinju. Inilah yang kita khawatirkan.

Sistem sekuler menggiring masyarakat untuk hidup bebas berekspresi termasuk di dalamnya membuat sebuah film. Seni menurut mereka adalah ruang dimana sebuah aspirasi bisa diwujudkan. Tak peduli lagi batasan halal dan haram yang penting untuk mereka adalah kepuasan diri dan mendapatkan penghargaan yang tentunya dari orang-orang yang berpikiran sama. Ini merupakan kebebasan yang kebablasan.

Islam merupakan agama realistis yang memperhatikan tabiat dan kebutuhan manusia baik jasmani, rohani, akal, dan perasaannya. Sesuai dengan kebutuhan dalam batasan-batasan yang seimbang. Jika olahraga merupakan kebutuhan jasmani, beribadah sebagai kebutuhan rohani, ilmu pengetahuan sebagai kebutuhan akal, maka seni merupakan kebutuhan rasa (intuisi) yaitu seni yang dapat meningkatkan derajat dan kemuliaan manusia. Bukan seni yang dapat menjerumuskan manusia dalam kehinaan.

Begitupun dengan seni (perfilman), seharusnya bisa dijadikan alat untuk menebar kebaikan atau sarana dakwah serta pendidikan untuk mencerdaskan umat/generasi dengan Islam. Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, Ia berkata, ”Orang beriman itu bersikap ramah dan tidak ada kebaikan bagi seorang yang tidak bersikap ramah. Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Thabrani dan Daruquthni) [MO/ms]

Posting Komentar