Oleh : Rheiva Putri R Sanusi
Alumni SMAN 1 Rancaekek

Mediaoposisi.com-Di era digital yang makin canggih ini segala sesuatu sudah bisa dengan cepat kita akses. Yang dulunya untuk mendapatkan informasi kita harus datang dari media cetak, kini bisa kita akses di media online dengan cepat. Yang dulu untuk mendapat hiburan kita hanya bisa dengar radio kini lebih asik nonton film.

            Bicara terkait film, beberapa waktu lalu negeri kita dihebohkan dengan penayangan film “Kucumbu Tubuh Indahku” yang tayang serentak di beberapa bioskop di Indonesia pada 18 April 2019. Jika dilihat dari judulnya terasa sangat membingungkan, tapi memang sesuai judulnya yang ternyata isi film tersebut tak pantas dan tak layak untuk ditonton apalagi di negeri dengan mayoritas muslim didalamnya. Tak perlu melihat filmnya secara full, dilihat dari trailernya pun orang yang memiliki akal sehat pasti tau pesan terselubung di dalam film tersebut.

            Menurut sang sutradara Garin Nugroho film tersebut menceritakan tentang perjalanan Juno yang kerap menyaksikan kekerasan di lingkungannya. Pertama, ia melihat kekerasaan saat bergabung dengan grup tari lengger di desanya, dan menjadikan dia berpindah dari satu desa ke desa lain. Dalam hidupnya, Juno tak hanya menyaksikan kekerasan, tapi juga mendapat kekerasan sosial hingga kekerasan politik.

            Sekilas membaca sinopsis tersebut terlihat seperti kisah perjuangan yang amat mengharukan sekaligus menyedihkan, namun dibalik itu semua terselubung pesan lain. Perlu kita ketahui bahwa ada sesuatu yang benar-benar lekat pada tokoh Juno di film tersebut yaitu sebagai penari lengger. Tari lengger adalah sebuah tarian perempuan yang dibawakan oleh penari laki-laki, dimana kehidupan Juno kecil adalah kehidupan peleburan tubuh maskulin dan feminim yang terbentuk alami oleh kehidupan desa dan keluarganya.

            Secara tidak langsung film ini mengisahkan seorang laki-laki yang memiliki kecenderungan sifat laki-laki dan perempuan yang dibiarkan begitu saja. Hal ini sungguh bertentangan dengan Islam, dimana dalam Islam tidak boleh seorang laki-laki menyerupai perempuan ataupun sebaliknya. Karena ketika seorang laki-laki menyerupai perempuan atau bahkan bertingkah laku seperti perempuan maka akan cenderung dirinya menyukai sesama jenis. Inilah hal yang sangat ditakuti oleh masyarakat jika film tersebut ditayangkan, maka akan melahirkan kaum LGBT yang terinspirasi tersebut. Lalu jika banyak masyarakat yang takut mengapa film tersebut masih ditanyangkan dan masih banyak yang mendukung?

            Pertama, adanya pro kontra terkait adanya unsur LGBT dalam film tersebut atau tidak. Orang-orang penganut paham liberalis sekuler hanya menganggap film tersebut hanya sebuah karya seni yang inspiratip dan mengesankan. Ini sangat berbahaya karena seni menurut kaum liberal ini tak memliki batasan yang jelas, apapun yang halal atau haram jika itu seni dibolehkan. Berbeda halnya dalam Islam, Islam memiliki batasan jelas tentang sesuatu yaitu hukum sya’ra. Begitu pun terkain seni, jika itu bertentangan dengan Islam maka itu akan dilarang.

Sebagai contoh kita lihat banyak sekali pelukis ataupun pemahat patung yang membuat lukisan atau patung wanita tanpa busana, bukankah itu seharusnya termasuk dalam kriminal terkait pornografi? Di era demokrasi ini tidak, hal tersebut dilegalkan dengan dalil seni sehingga tak ada kejelasan hukum dalam seni yang membuat kebebasan bisa bersembunyi dibalik seni. Tapi jika kita hukumi dalam islam hal tersebut sudah jelas hukumnya melanggar hukum sya’ra tekait aurat maka hal tersebut diharamkan mau itu seni atau pun bukan.

            Kedua, tak ada kejelasan apakah LGBT itu dilarang negara atau tidak. Dimana dengan adanya film ini menjadi salah satu cara kaum LGBT untuk lebih bebas dan mersa terwakilkan. Setelah penayangan ini banyak para akivis LGBT yang akhirnya muncul dan berkoar mendukung film ini.

            Disinilah seharusnya ada andil negara, karena yang bisa menghentikan hal itu hanyalah penguasa. Penguasa yang seharusnya menjadi yang pertama melarang film tersebut ditayangkan, namun yang dilakukan negara hanya diam karena tak memiliki hukum yang pasti terkait hal tersebut. Dan juga negara tak peduli sistem sekuler ini menyuburkan kebebasan yang merusak generasi melalui seni terutama perfilman untuk meraih keuntungan materi.

            Berbeda dengan Islam yang menjadi satu-satunya solusi ditiap prolebmatika umat. Islam akan menindak tegas apapun yang bertentangan dan melanggar hukum sya’ra. Dan terkait seni pun Islam tak hanya memandang keberadaannya sebatas hiburan saja tapi juga untuk saran/alat dakwah dan pendidikan untuk mencerdaskan umat terutama para generasi muda.

            Maka yang diperlukan saat ini adalah negara yang mampu menjadikan Islam sebagai solusi dalam setiap masalah, agar film seperti “Kucumbu Tubuh Indahku” ini tak lagi ada. Dan juga agar negara memiliki hukum pasti dalam setiap permaslahan. Satu-satunya sistem yang mampu melakukan hal itu hanyalah Khilafah. Dan ketiadaan Khilafah ini lah yang menjadi masalah utama yang menyebabkan masalah-masalah lain. Maka sudah seharusnya kita perjuangan tegaknya Khilafah untuk kemaslahatan bersama.

Wallahu’alam Bi Shawwab.[MO/vp]

Posting Komentar