Oleh: Ummu Najla 
(Tentor dan Penggiat Dakwah Muslimah)

Mediaoposisi.com-Sadis, begitulah barangkali yang akan terbesit dalam benak kita mendengar berita tentang aksi mutilasi yang marak akhir-akhir ini. Seperti kasus yang terjadi di Malang misalnya. Betapa tersangka yang di duga bernama “Sugeng” diperkirakan berusia 34 tahun seorang tunawisma, tega memutilasi seorang wanita yang menurut penuturan pihak kepolisian, Sugeng bertemu korban tersebut pada awal bulan Mei, tepatnya sekitar tanggal 7 Mei 2019.

Dan wanita yang dia panggil “Maluku” itu tega dia mutilasi karena gagal berhubungan badan karena keluar cairan dari organ intimnya. Sugeng memutilasi tubuhnya menjadi 6 bagian, yaitu tubuh korban diletakkan di dalam toilet yang dimasukkan ke dalam karung. Sementara tangan, kaki dan kepala korban diletakkan di bagian bawah anak tangga yang akan menuju ke Matahari. (SuryaMalang.com).

Fakta lain kasus mutilasi tidak hanya terjadi di Malang saja, kasus serupapun pernah terjadi di beberapa wilayah di Indonesia. Seperti dikutip brilio.net dari berbagai sumber Jumat (22/4), ada bebarapa kasus mutilasi paling tragis yang pernah terjadi di Indonesia.

 Misalnya kasus, Nelson Hutapea Pada tahun 2012, yang tega membantai kedua orangtua kandungnya hingga tewas. Pembantaian ini dilakukan di rumah mereka di Pulo Raja, Labuhanbatu, Sumatera Utara. Kasus Ryan Jombang, pada tahun 2008 memutilasi 11 korban karena motif homoseksual. Kasus Babe Baekuni, pembunuh 8 anak jalanan yang kemudian dimutilasi pada 2010 silam.

 Sadisnya lagi, sebelum dibunuh ia menyodomi dan bahkan salah satu korban yang dibunuh pada 2004 silam itu sempat disodomi saat sudah menjadi mayat. Kasus Benget Situmorang, memutilasi istri setelah dipergoki selingkuh. Kasus Brigadir Petrus Bakus, anggota Sat Intelkam Polres Melawi, memutilasi dua anak kandungnya, di asrama Polres Melawi pada Jumat dinihari, 26 Februari 2016. Kasus Rumiyati, memutilasi suaminya akibat cemburu saat sang suami akan menghabiskan Idul Fitri dengan istri ketiga. 

Jasad suaminya terpotong 13 bagian dalam 8 kresek warna merah. Kasus Rahmad Awiwi, pada tahun 2011,nekat membunuh dan memutilasi Hartati saat korban meminta dinikahi lantaran hamil. Tak berhenti sampai di situ, Rahmad juga melakukan hal sama pada putri Hartati, untuk mengelabui jejak. Mayat Hartati ditemukan dalam kardus TV di tepi jalan Kampung Bulak Koja-Jakarta Utara. Sedangkan mayat Eriyanti di dalam koper di jalan Cakung Cilincing-Jakarta Timur. 

Kasus Agus, memutilasi kekasihnya yang sedang hamil karena mengaku kesal dengan permintaan korban yang ingin dilamar. Perlakuan keji ini ia lakukan di rumah kontrakannya pada Rabu, 13 April 2016 kemarin. Dan masih banyak lagi kasus lainnya. Lantas mengapa aksi yang biadab ini seakan menjadi hal ‘biasa’ bagi para pelakunya?

Motif Pelaku
Jika kita cermati dari fakta, modus dan motif yang mendorong pelaku melakukan aksi mutilasi diantaranya:
Pertama: Dendam pribadi. Acapkali dendam pribadi menjadi motif dan modus pelaku untuk melanggengkan niat buruknya, meski terkadang masalahnya adalah hal yang sepele. Pemicunya bisa jadi karena sakit hati, hasud, iri, dengki dan sebagainya. 

Hal tersebut wajar, karena secara fitrah manusia diberi Allah naluri mempertahankan diri (gharizah baqa’) dalam dirinya, dimana naluri ini menuntut adanya pemenuhan. Sebenarnya jika naluri ini disalurkan dengan tepat dan didasari keimanan maka tidak akan pernah terjadi penyimpangan apalagi sampai menimbulkan aksi pembunuhan disertai mutilasi. 

Ditambah lagi pengaruh faktor lingkungan dan sistem saat ini yang sangat bebas dan memisahkan agama dari kehidupan (sekulerisme) membuat seseorang bebas melakukan segala hal tanpa memandang halal dan haram untuk memenuhi semua kebutuhannya. 

Iman dan takwa tidak lagi dijadikan pegangan dalam setiap perbuatan sehingga wajarlah jika sifat egosentris dan individualisme menjadi dominan dalam diri pelaku kriminalitas hingga mereka tega melakukan aksi kejinya tanpa takut dosa dan adzab Allah.

Kedua: Motif Asmara. Motif asmara dengan bungkus seksualitas dan perzinaan, perselingkuhan bahkan LGBT kerap menjadi motif keji sang pelaku melakukan mutilasi. Secara fitrah memang Allah memberikan naluri mencintai (gharizah nau’) kepada manusia yang menuntut untuk dipenuhi. Namun, lagi-lagi sistem dan lingkungan saat ini yang tidak Islami dan cenderung bebas dan sekularisme adalah biang kerok pemicu motif ini. 

Lihat saja saat ini betapa mudahnya seseorang mengakses video porno hanya dengan mengeklik contain porno dari gawainya. Di televisipun film berbau cinta dan membangkitkan syahwat bertebaran bahkan diselipkan di film anak-anak walaupun berbentuk kartun. 

Fasilitas dan sarana dugem dan tempat-tempat hiburan serta karaoke dan cafe-cafe berselebung esek-esek pun bertebaran di mana-mana, yang bisa dinikmati bebas 24 jam nonstop bahkan notabenenya legal dari Pemerintah dengan dalih memberikan devisa dan pemasukan bagi Pemda. Hal-hal seperti ini tentu saja semakin memberi peluang lebar bagi pelaku kemaksiatan dan kriminalitas.

Ketiga: Tekanan ekonomi. Terkadang hanya karena masalah uang, warisan dan hutang piutang orang tega melakukan kriminalitas seperti perampokan, pembegalan bahkan pembunuhan disertai mutilasi. Sistem ekonomi Kapitalislah yang menyebabkan seseorang bisa gelap mata, menghalalkan segala cara. 

Lihat saja dari hari ke hari harga kebutuhan pokok semakin menjulang tinggi dan mencekik leher. BBM dan listrik pun diam-diam dinaikkan untuk mengelabui rakyat. Subsidi pendidikan dan kesehatan yang seharusnya menjadi tanggung jawab Pemerintahpun dicabut dan dialihkan kepada swasta. Alih-alih rakyat mendapatkan jaminan kesehatan, justru Pemerintah memalak rakyatnya melalui BPJS, itupun dengan pelayanan yang ‘diskriminatif’ dibandingkan dengan mereka yang tidak menggunakan BPJS. 

Lapangan pekerjaanpun semakin sempit dan sulit dicari. Bahkan, Pemerintah justru tega memasukkan tenaga asing untuk proyek-proyek mereka sementara rakyatnya sendiri banyak yang menjadi pengangguran dan tuna wisma bahkan gelandangan dan pengemis. 

Jurang kesenjangan antara si kaya dan si miskinpun semakin menggangah lebar. Sikap hidup hedonis dan permisif menjadi tontonan keseharian yang menimbulkan iri dan dengki bagi si miskin.

Padahal jika aturan Islam diterapkan, kesejahteraan rakyat begitu sangat dijamin. Terbukti pada masa kekhilafan Islam, khalifah sebagai kepala negara menggratiskan sekolah bahkan membangunkan kampus-kampus bertingkat lengkap dengan segala fasilitas dan guru-guru ahli serta Ipteknya yang menjadi mercusuar dunia hingga negara-negara Baratpun menimba ilmu di Negara atau Daulah Islam. Khalifahpun memberikan bea siswa dan fasilitas bagi siswa atau ilmuwan yang hendak melakukan penelitian. 

Jaminan kesehatanpun diberikan seluas-luasnya kepada rakyatnya dengan gratis disertai fasilitas canggih dan mentereng di zamannya. Perekonomian rakyatpun dan kebutuhan pokok dijamin distribusinya secara merata oleh Khalifah. Bahkan pada massa pemerintahan Khalifah Umar bin Abdul Aziz, tidak ditemukan satu wargapun yang berhak menerima zakat karena mereka semua sudah sejahtera dan kaya. Justru Khalifahnya sendiri yang berhak disantuni karena kezuhudannya.

Tidak seperti saat ini, justru para pejabat hidup mentereng dengan segala fasilitas megahnya yang konon semua dibiayai dari uang rakyat, sementara rakyatnya sendiri hidup dalam jurang kemiskinan. Jika sistem Kapitalisme ini tetap saja dilanggengkan esistensinya, tidak menutup kemungkinan aksi kriminalitas dan kemaksiatan akan semakin merajarela dan tak bisa lagi dibendung.  

Hukum Mutilasi Dalam Islam

Dalam sistem sanksi Islam, mutilasi digolongkan sebagai pembunuhan dengan disengaja. Dalam kasus pembunuhan yang disengaja dengan segala jenisnya wajib dijatuhkan qishash bagi pelakunya, sebagaimana dalam firman Allah:

“Diwajibkan atas kamu qishash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh. (TQS Al Baqorah [2]:178).

Yang di maksud qishash, yaitu pelaku pembunuhan juga akan dibunuh sebagai balasan atas
perbuatannya membunuh orang dengan disengaja, itu jika wali atau pihak keluarga korban tidak memaafkan pelaku pembunuhan.

Namun jika ada pengampunan, maka pelaku harus membayar denda atau diyat dan menyerahkannya pada wali atau pihak keluarga korban. Tapi jika wali atau pihak keluarga korban tidak menuntut denda atau diyat sebagai shodaqah maka pelaku tidak perlu membayar denda atau diyatnya. Dalilnya adalah firman Allah SWT:

“Dan barangsiapa dibunuh secara dzalim, maka sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepada ahli warisnya, tetapi janganlah ahli waris itu melampaui batas dalam membunuh. (TQS al Isra [17]:33).

Juga terdapat dalam hadist yang diriwayatkan dari Tirmidzi dari Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, bahwa Rasulullah vsaw. Bersabda:

“Barangsiapa yang membunuh dengan sengaja, maka keputusannya diserahkan kepada wali-wali pihak terbunuh. Mereka berhak membunuh, atau mengambil diyat, yakni 30 unta dewasa, 30 unta muda 9jadza’ah), dan 40 unta yang sedang bunting, dan mereka juga berhak memaafkannya”.

Ini merupakan dalil yang sangat jelas bahwa hukuman bagi pembunuhan mutilasi adalah dengan dibunuh saja tanpa dimutilasi juga karena Islam melarang balasan pembunuhan tidak dengan berlebih-lebihan. 

Namun Islam masih memberi keringanan jika walinya atau pihak keluarganya memaafkan yaitu cukup dengan membayar denda atau diyat. Atau bahkan dibebaskan jika wali atau pihak keluarga mengikhlaskan.

Masya Allah betapa mulia dan agungnya Islam dalam memberikan hukuman dan pengampunan. Jelas, karena Islam adalah agama yang sempurna dan paripurna yang mencangkup dan mengatur secara menyeluruh dan komprehensif segala urusan manusia tak terkecuali masalah hukum dan sanksi. 

Karena aturan Islam adalah aturan yang datang dari Sang Pencipta yaitu Allah Swt dalam Qur’an dan Hadist. Dan sudah pasti aturan yang datang dari Sang pencipta manusia ini sangat pas dan cocok bagi makhluknya karena Sang Pencipta pasti tahu kelemahan dan kelebihan ciptaannya, sehingga segala produk hukum yang dikeluarkan pasti sesuai dengan kemampuan makhlukNya dan tak akan mungkin membebani. Lebih-lebih Allah SWT berfirman:
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya” (TQS Al Baqorah [2]:268).

Hal ini sudah terbukti diterapkan selama 1400 tahun dalam Kekhilafahan Islam. Ketika syariat Islam diterapkan secara kaffah, umat manusia bahkan non Muslim yang menjadi warga negara khilafah hidup sejahtera dan terjamin keamanannya. Bahkan pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Abdul Aziz kriminalitas hanya terjadi 2 kali pada masa pemerintahannya selama 2 tahun.

Hal ini menjadi sebuah kelaziman karena sistem sanksi dalam Islam di syari’atkan untuk mencegah manusia dari tindak kejahatan, itulah mengapa hukum sanksi atau uqubat dalam Islam berfungsi sebagai zawajir yang berarti pencegahan. Allah berfirman:

"Dan dalam (hukum) qishash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, hai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa. (TQS. Al Baqarah:179).

Selain itu juga berfungsi sebagai zawabir yang artinya penebusan, sehingga sistem sanksi yang sudah diterapkan pada pelaku kriminalitas menjadi penebus dosa-dosanya kelak di akherat. 

Hal inilah yang akan menjadikan kehidupan menjadi aman sentosa jika hukum Islam diterapkan secara kaffah dalam bingkai Khilafah. Maka mari kita berdo’a dan ikut berjuang menegakkan kembali Khilafah yang akan memberikan kesejahteraan dan kehidupan yang rahmatan lil alamiin bagi seluruh umat manusia.[MO/vp]

Posting Komentar