Gambar: Ilustrasi
Oleh: Sahara 
(Aktivis Dakwah Lubuk Pakam)

Mediaoposisi.com-“Bukan lautan hanya kolam susu, kail dan jala cukup menghidupimu. Tiada badai tiada topan kau temui. Ikan dan udang menghampiri dirimu. Orang bilang tanah kita tanah surga, Tongkat kayu dan batu jadi tanaman. Orang bilang tanah kita tanah surga. Tongkat kayu dan batu jadi tanaman.”

Siapa yang tak kenal dengan tembang lagu lawas era 70an dari group band Koes plus ini? Bait tadi adalah cuplikan dari lagu "Kolam Susu" yang sangat fenomenal dan masih sering dinyanyikan hingga sekarang. Tiap bait syair lagu tersebut menggambarkan kekayaan sumber daya alam di Indonesia. "Gemah Ripah Loh jinawi" merupakan sebutan yang telah lama disematkan untuk negara Indonesia.

Pasalnya selain menjadi negeri agraris, Indonesia juga merupakan negeri maritim. Sungguh luar biasa anugerah yang Allah ciptakan untuk Indonesia tercinta ini.

Salah satu kekayaan Alam Indonesia yang paling mudah disoroti dan paling terkenal seantero dunia ialah “Freeport.” Pertambangan yang menghasilkan ribuan ton emas dan jenis tambang lainnya yang tak ternilai harganya. Seharusnya, dengan kekayaan sumber daya alam ini, kehidupan rakyat indonesia sudah menjadi kehidupan yang makmur dan sejahtera. Namun terkadang, harapan tak sesuai dengan kenyataan yang ada.

Realita yang ada saat ini ialah masih banyak kasus stunting di negeri agraris (gizi buruk), penimbunan bahan pangan impor yang kualitasnya tak lebih baik dari yang indonesia miliki. Krisis air bersih hingga tidak memiliki tempat tinggal.

Tak bisa dipungkiri, melihat kondisi kehidupan rakyat Papua saat ini, masih jauh dari kata sejahtera. Fasilitas yang terbatas dan harga jual produk untuk menunjang kehidupan sehari-hari yang terbilang lebih mahal dari kota besar di tiap-tiap provinsi di Indonesia.

Baru-baru baru ini, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan mengatakan tidak boleh ada lagi rasa bahwa perusahaan tambang ini milik asing. (katadata.co.id)

"Sekarang Freeport sudah milik bangsa, jadi tidak boleh ada perasaan ini milik asing lagi. Memang kita pegang 51%, sisanya masih Amerika Serikat (AS)," tutur Jonan dalam acara Peresmian Aset LPMAK 2019 di Timika, Papua, Kamis (2/5/2019).

Jonan meyakini, bangsa Indonesia mampu mengelola tambang Freeport. Namun, juga dibutuhkan kedisiplinan yang tinggi dalam mengelola tambang tersebut.

"Secara teknologi anak bangsa mampu, tapi disiplin dan keselamatan kerja masih kurang," ujar Jonan.

Jika yang menjadi masalah adalah kualitas SDM, sebenarnya banyak bibit unggul generasi bangsa yang mampu mengelelolanya. Ala bisa karena biasa. Dan tentu, kualitas SDM tersebut tidak terlepas dari dunia pendidikan. Namun kenyataan yang ada saat ini, betapa banyak anak yg putus sekolah atau bahkan untuk mengenyam pendidikan di bangku sekolah adalah mimpi belaka bagi mereka. Sebab, keterbatasan ekonomi atau bahkan memang tak tersedia fasilitas pendidikan di daerahnya.

Disamping itu pula, banyak sarjana muda yang pengangguran sebab lapangan pekerjaan yang ada sebagian besar dikelola oleh asing dan aseng. Untuk melamar menjadi karyawan honorer saja pun, minimal harus punya relasi. Ada pula sebagian orang yang melakukan praktik penyuapan. Lalu, apalah daya mereka yang tak punya uang dan tak punya relasi?

Dengan kondisi yang seperti ini, wajar saja bila masyarakat Mimika, Papua merasa tertindas. Mereka merasa hanya menjadi seorang penumpang di tanah kelahiran mereka sendiri. Walaupun Indonesia telah memiliki setengah dari pengelolaan Freeport, tetap saja Amerikalah yang menjadi corongnya. Dan sampai saat ini juga, belum ada perubahan yang signifikan pada hidup rakyat. Ini membuktikan bahwa Indonesia sebenarnya masih berada dibawah cengkraman pihak asing.

Lantas apa yang harus kita lakukan dan bagaimana solusinya?

The best Solution, The one and only is "Islam.” Yakni, penerapan aturan Islam secara Kaffah.

Mengapa harus Islam? Sebab, Islam memiliki aturan di seluruh aspek kehidupan, termasuk aspek kepemilikan dan pengelolaan SDA. Tentu, aturan yang diterapkan tersebut bukanlah aturan buatan tangan manusia yang abu-abu, tak jelas mana yang bathil dan mana yang haq. Melainkan, aturan tersebut berasal dari Sang Khaliq, Allah Subhana Wa Ta'ala.

Dalam Islam, sumber daya alam merupakan kepemilikan umum. Maka, tidak boleh satupun individu mengakuisisi sumber daya alam tersebut menjadi milik pribadi dan dalam pemanfaatannya pun harus digunakan secara bersama sama. Ada yang digunakan secara langsung dan ada juga yang akan dikelola terlebih dahulu oleh negara yang pada akhirnya akan diserahkan kembali untuk kepentingan dan kesejahteraan rakyat.

Dalam hal ini Rasulullah sudah menjelaskan tentang kepemilikan umum: “Kaum muslim bersekutu (dalam kepemilikan) atas tiga hal: yaitu air, padang rumput dan api.” (HR. Al-Bukhari)

Dan, ketika aturan Islam dijalankan secara kaffah, seorang Khalifah akan mengambil alih seluruh SDA yang dicengkeram oleh asing. Jika pun menjalin kerja sama, tetap daulah yang menjadi kepala ataupun corongnya. Dan, pihak asing tersebut dibayar sesuai kinerja yang telah disepakati bukan malah memberikan sebagian saham SDA atau bahkan menyerahkan seluruh pengelolaanya kepada pihak asing.

Seluruh solusi Islam yang telah dipaparkan di atas, tidak akan mungkin bisa diwujudkan sebab masih berada dalam kungkungan sistem kapitalisme yang asas dasarnya adalah materi. Sistem itu hanya mendasarkan pada bagaimana meraup keuntungan sebanyak-banyaknya? Maka dari itu, sudah saatnya umat sadar, bahwa tidak ada sistem yang terbaik selain Islam dan mencampakkan jauh-jauh sistem demokrasi-kapitalisme ini yang sudah tampak jelas kebobrokannya. Hanya dengan Islam hidup umat memiliki perisai.

Hanya dengan Islamlah, dapat diwujudkan kehidupan umat yang gemilang dalam naungan Khilafah ‘ala minhaji nubuwwah. Wallahu A`lam Bishawab. [MO/ms]

Posting Komentar