Oleh : Indah Purnama
( Mahasiswa STEI Hamfara )

Mediaoposisi.com-Indonesia memang negara yang tak luput dari daftar incaran para investor. Baru-baru ini dikabarkan bahwa Presiden Indonesai Jokowi Widodo bersama Luhut Binsar Pandjaitan mendatangi Forum Pertemuan Kerja Sama Tingkat Tinggi di Beijing dan telah menandatangi 28 kesepakatan dengan china dalam Proyek One Belt One Road (OBOR) atau dikenal dengan Belt And Road Initiative (BRI).

OBOR  atau BRI adalah proyek Sabuk Ekonomi Jalur Sutra Multinasional bernilai miliaran dolar yang diprakarsai komunis Tiongkok. Proyek ini mencakup negara-negara yang berada di jalur sutra melalui wilayah di sepanjang pantai Tiongkok, Asia, Samudra Hindia, dan Laut Mediterania.

Dari 23 proyek yang ditekan, nilai investasi dari 14 MoU bernilai miliaran. Meski demikian Luhut menegaskan bahwa nilai itu bukanlah hutang yang ditanggung pemerintah. Karena semua proyek yang temasuk dalam koridor Belt And Raod bersifat Business To Business atau (B to B), bukan Goverment To Geverment ( G to G ) (dilansir dari Bisnis.com).

Namun disisi lain Juru Kampanye Nasional Walhi Edo Rakhman mengatakan potensi penjaminan pemerintah atas utang yang disodorkan China melalui BRI cukup tinggi karena ada keterlibatan Badan Usaha Milik Negara (APBN) di 28 proyek yang di tawarkan pemerintah (CNN Indonesia).

Apakah Indonesia akan lepas dari jebakan hutang dan tidak ada ancaman dibalik itu semua ? proyek tersebut adalah proyek massif china untuk memperkuat penjajahan ekonomi, tidak hanya di Indonesia tapi masih banyak negara lainnya. Salah satunya negara india yang menolak dan memprotes empat koridor ekonomi Tiongkok-Pakistan dari One Belt One Road, namun di protes mereka diabaikan.

Negara-negara barat juga mengkritik proyek obor ini, karena menciptakan debt trap atau perangkap utang yang berakibat akan bergantinya kepemilikan atau menguasai aset negara yang berhutang atas fasilitas jangka panjang.

Contoh kasus, Sri Langaka yang menandatangani kontrak pelabuhan Hambantato di selatan dengan komunis Tiongkok pada akhir 2017 lalu, karena ketidakmampuannya untuk membayar utang, Tiongkok akhirnya menguasai pelabuhan hambantota selama 99 tahun ( erabaru.net ).

Melihat kesepakatan proyek OBOR tersebut, ini adalah salah satu bentuk dari cara China menjajah Indonesai secara perlahan. Kemungkinan besar nasib Indonesia akan sama seperti yang di alami Sri Langka. Sebagian besar aset Indonesia akan dimiliki para investor yang berlabuh ke negara Indonesia.

Saat ini saja sudah banyak kekayaan alam sebagai aset Indonesai yang di jajah oleh asing. Bahkan tanpa sadar Indonesia sedang dijajah melalui pemikiran. Dan sudah banyak sekali warga asing yang bertebaran di indonesia khususnya china yang berada di beberapa daerah Indonesia.

Apakah ini strategi penjajahan mereka ?  bisa jadi, karena melihat fakta yang ada. Jika proyek ini benar-benar dijalankan, dan ternyata terdapat debt trap yang katanya tidak ada maka kemungkinan besar aset indonesia akan dikuasai oleh china karena terjebak oleh hutang yang tak bisa dibayarkan. [MO/IP]


Posting Komentar