Rizkya Amaroddini
(Jurnalis Media Oposisi)

      Mediaoposisi.com-  Pilpres 2019 memicu berbagai kalangan menjadi pemantau hasil pilpres. Siapakah yang menang ? Mari kita berfikir sejenak dengan istilah “ People Power ” yang mencuat di tengah-tengah masyarakat.

Sebelum itu kita akan merujuk kepada people power adalah penggulingan kekuasaan presiden secara paksa melalui aksi demonstrasi rakyat. Nah people power sendiri pernah terjadi pada Mei 1998 oleh demo besar mahasiswa dan rakyat menuntut reformasi dan perubahan dalam rezim soeharto.

     Kini seolah sejarah berulang, tahun 2019 menjadi tahun mencekam masa depan Negeri ini seperti apa. Faktanya banyak kedzaliman terjadi di Negeri ini khususnya pada rezim Presiden Joko Widodo.

Bukti-bukti dapat terindra oleh rakyat sehingga rakyat bisa menilai sendiri bagaimana kinerja dari penguasa dalam meri’ayah umat.

    Mari kita berkaca pada kebijakan-kebijakan yang telah di buat oleh presiden Joko Widodo. Banyak kebijakan yang menyengsarakan rakyat dan janji-janji yang di lupakan.

     Lebih mirisnya lagi dalam pilpres kali ini bukan hanya terkait menjadi penguasa melainkan ada hubungan yang istimewa antara penguasa dan para pengusaha. Sangat ironis, namun inilah realita yang ada di mana kekuasaan hanya sebagai penunjang bisnis-bisnis dan perusahaan mereka mengalami kemajuan.

     Bagaimana nasib rakyat ? 
Rakyat terus di jadikan korban dalam pertarungan para kandidat. Mereka tidak pernah memikirkan bagaimana kehidupan rakyat kalangan bawah sampai menengah, mereka hanya memperhatikan bagaimana kehidupan keluarganya. Rakyat terus di palak dengan pajak, mari kita renungkan segala produk dan lain sebagainya memiliki pajak.

     Tak hanya itu, dengan kekuasaan mereka melegalkan segala bentuk proyek baik dalam Negeri maupun luar Negeri. Salah satunya OBOR atau BRI, terlihat nyata bahwa pengesahan ini di segerakan demi kesuksesan perusahaan sebelum di lengserkan dari kursi kekuasaan.

     Dapat di prediksi jika Presiden Joko Widodo yang menjabat lagi maka akan terjadi “People Power”. Karena jelas kebijakan yang di buat Jokowi akan lebih menyengsarakan rakyat. Maka terlihat bahwa umat kian muak sehingga akan terjadi pelengseran besar-besaran.

Pergantian Presiden hanyalah pergantian boneka, namun permainan tetap di kendalikan oleh Negara adidaya. Sebab aturan main atau sistem masih tetap mengadopsi ideologi kapitalisme atau ideologi komunisme.

 Tinta sejarah kembali terulang, akankah rakyat sadar dengan keddzaliman yang lebih merajalela dari sebelumnya ?

Akankah umat diam jika terus di tindas ?

Umat tak perlu takut, Mengapa ? Kekuatan sebuah Negara itu terletak pada topangan rakyat. Jika penguasa saja sudah menzhalimi rakyat, Apa yang mau kita harapkan kepada para penguasa wahai umat ?

Cobalah kita membuka fikiran dengan fakta yang ada, dan berfikir jernih agar fikiran umat bisa tercerahkan. Dan mengetahui siapa yang peduli dengan umat secara tulus dan siapa orang-orang munafik  dalam kursi kekuasaan. [MO/ra]

Posting Komentar