Gambar: Ilustrasi
Oleh: Hasrianti 
(Mahasiswi P. Kimia UHO)

Mediaoposisi.com-Teknologi yang semakin berkembang pesat telah menjadi ladang yang subur
bagi para pemodal untuk mengeruk rupiah. Industri digital merupakan proyek dalam pengembangan ekonomi berupa bisnis games. Saat ini, industri games menjadi tren dikalangan para pebisnis.

Para pelaku bisnis tak tanggung-tanggung dalam menggelontorkan dana yang besar untuk proyek ini. Berbagai macam industri games turut hadir, salah satunya games aksi dan games olahraga elektronik (e-sport) yang dinilai mampu mendatangkan keuntungan besar serta mampu mengembangkan sektor ekonomi negara.

Sebagaimana yang diutarakan pada debat capres-cawapres beberapa waktu lalu dibahas terkait kebijakan pengembangan ekonomi negara dapat bertumbuh pesat melalui e-sport. Tahun 2017, sebanyak 11-12 triliun hasil perputaran pendapatan games yang meningkat pesat hingga 35 %. Industri games mampu menghasilkan keuntungan yang banyak (www.idntimes.com 13/4/2019).

Data yang dihimpun oleh kompas tekno sebuah situs e-sport internasional bahwasanya Indonesia memiliki 43,7 juta pemain games yang mampu menghasilkan 880 juta dolar atau sekitar Rp 11 miliar pertahunnya, tentu ini bukanlah jumlah yang sedikit. Total ini membuat Indonesia menduduki peringkat ke-16 negara dengan pendapatan hasil games terbesar di dunia.

Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi berpendapat bahwa e-sport harus mulai dikembangkan dalam kurikulum pendidikan untuk semakin memajukan potensi bakat generasi. Ia menyebut, pemerintah telah menganggarkan dana sebesar Rp 50 miliar untuk tujuan ini (www.cnnindonesia.com 28/1/2019). Tren games, khususnya PUBG dan mobile legend, cukup menyita perhatian publik.

Dampak Industri Games 
Kapitalisme memiliki tabiat yang ‘memaksa’, bukan sesuatu hal yang sulit untuk menghalalkan segala cara dalam mengembangkan sektor ekonominya. Dengan prinsip modal sekecil-kecilnya dapat menghasilkan keuntungan yang sebesar-besarnya. Tak peduli apapun yang terjadi, meskipun harus menabrak norma dan peraturan agama yang berlaku. Termasuk, apakah itu berimbas pada pendidikan atau tidak. Ditambah lagi, dampak dari games ini banyak menyeret usia remaja.

Dampak games tidak selalu bernilai negatif bagi dunia pendidikan. Beberapa dampak positif juga turut hadir di dalamnnya, seperti berfikir, belajar bahasa asing, kerjasama tim, melatih konsentrasi, dan relaksasi dengan berbagai tuntunan belajar.

Rupanya, dampak negatifnya dari games ini jauh lebih banyak dan berbahaya dibandingkan dampak positifnya. Salah satunya, seorang gamers terkadang tidak mampu mengontrol diri ketika bermain games. Hingga akhirnya menjadi malas, kecanduan, boros, mengganggu kesehatan, dan tak jarang pula memakan korban. Sebagai contoh, aplikasi Pokemon Go yang juga pernah menjadi games terlaris, akibat kelalaian dapat merenggut nyawa seorang pengemudi (www.cnnindonesia 30/8).

Selanjutnya, PUBG sudah menjadi games yang sedang ‘naik daun’ di kalangan para remaja. Dampaknya, memberikan inspirasi dan penguat untuk seseorang melakukan aksi teror atau kejahatan lainnya.

WHO sendiri berpendapat bahwa bermain games dapat mengakibatkan gangguan mental, merusak kehidupan pribadi, sosial, pekerjaan, keluarga, dan sosial. Ini menjadi bukti yang kuat bagaimana game menimbulkan banyak masalah yang tidak disadari. Serta, masuk dalam kategori disorder due to addictive behavior alias kecanduan berat.

Fenomena games dapat dilihat dari semakin maraknya warung internet dengan berbagai fasilitas game online yang dijajakan dengan harga yang bervariasi. Diharapkan, tawaran harga yang ada mampu membuat para pecandu games betah menghabiskan waktu berjam-jam untuk bermain game online.

Pemerintah sekali lagi hanya menutup mata melihat berbagai dampak yang ditimbulkan dari game. Indonesia sebagai penganut kapitalisme, wajarlah jika industri games terus digaungkan sebagai alasan dapat menambah pendapatan ekonomi negara. Padahal, industri games hanya menambah ekonomi para pemilik modal. Sistem pendidikan yang carut marut semakin menambah peluang generasi terpapar games online. 

Melihat fenomena ini, membuat kita bertanya-tanya mengapa ini semua bisa terjadi? Hal ini terjadi tidak lain karena negara hanya memperhatikan keuntungan yang masuk dan mengabaikan tanggung jawab dalam melindungi generasi. Fasilitas sarana teknologi disediakan bahkan sampai diadakan ajang lomba.

Sudah jelas, keberadaan proyek industri games bertujuan bukan untuk sarana edukasi melainkan sebagai proyek bisnis yang menjanjikan keuntungan semata. Sejatinya, negara yang berasas kapitalisme tidak akan peduli dalam melindungi generasi. Terbukti dari abainya negara terhadap dampak buruk yang ditimbulkan. Pada kenyataannya, negara hanya menjadi sarana dan regulator semata bagi para pemilik modal besar. Harusnya, umat jeli melihat keadaan ini dan memperkuat pemikiran generasi hanya dengan ilmu Islam.

Games Dalam Pandangan Islam
Islam sebagai agama yang sempurna dan komperhensif sangat melindungi generasi dari bias teknologi termasuk games. Islam dengan tujuan membentuk generasi muda islami, sangat memperhatikan apa saja yang bisa dilakukan dalam mengisi waktu luang.

Bermain games merupakan perkara yang mubah selama tidak mengantarkan pada keharaman. Akan tetapi dalam Islam, tidak memfasilitasi aktivitas games ini, terlebih sudah banyak mendatangkan mudharat. Perbuatan lahwun atau melenakan bisa saja membuat seseorang melalaikan kewajibannya terhadap Allah Subhanahu wa ta’ala.

Islam menggiring generasi untuk mengisi waktu luangnya dengan hal yang lebih bermanfaat misalnya menyalurkan kreativitas dan keahlian sesuai dengan kemampuannya, memanfaatkan teknologi untuk dakwah, mengkaji Alquran, dan menghafal hadits.

Tak lupa pula, penanaman ilmu Islam sedini mungkin dengan pembentukan akidah yang kokoh akan menghasilkan generasi bertaqwa yang akan berkontribusi besar terhadap peradaban bangsa.

Para generasi terdahulu telah mencontohkan bagaimana mengisi waktu luang yang produktif yang pernah tertoreh 1400 tahun lalu. Nama-nama mereka, hingga kini, terus terukir dalam lembaran sejarah.

Peran negara sangat strategis untuk menjauhkan generasi dari hal yang membahayakan. Kebijakan pemimpin dalam Islam tidak akan pernah mengabaikan masa depan generasi.

Kurikulum Islam yang diterapkan dalam sistem pendidikan mampu mengkondisikan pelajar dalam keadaan fokus dan terjaga. Selain itu, dengan pemikiran Islam yang dimiliki mampu memfilter pemikiran-pemikiran Barat yang disuguhkan. Tujuan sistem pendidikan Islam agar membentuk dan menyiapkan generasi untuk menyongsong masa depan agar bisa mengemban misi Islam dan menyebarkan risalah keseluruh dunia, sekaligus sebagai calon pemimpin.

Seorang muslim harus memahami hakikat kehidupan ini yang akan berakhir. Sangat disayangkan jika harus diisi dengan hal yang menjauhkan kita dari rahmat Allah. Semua hal ini hanya dapat terwujud dalam sebuah naungan sistem Islam. Karena, terbukti hanya Islamlah yang mampu menyelesaikan seluruh problematika kehidupan umat. Islam bukan hanya menjaga ekonomi umat tetapi juga generasi. Hanya dengan menerapkan Islam secara kaffah maka rahmat-Nya bisa kita rasakan. Wallahu’alam bishawab. [MO/ms]

Posting Komentar