Gambar: Ilustrasi
Oleh Wini Nurdiyani
(Tenaga Pengajar)

Mediaoposisi.com-Seorang pemain game online YS ditangkap oleh jajaran Ditreskrimum Polda Metro Jaya. Perempuan 26 tahun ini ditangkap setelah membobol bank sebesar Rp 1,85 miliar lewat game online, Mobile Legend. Awalnya, pihak Polda Metro Jaya menerima laporan dari pihak Bank yang meminta penggantian lewat game online. Berdasarkan keterangan dari pihak bank, ada beberapa transaksi yang janggal dari sebuah akun game Mobile Legend. 

Mendapati laporan tersebut, polisi kemudian melakukan penyelidikan dan mengumpulkan bukti kepemilikan. Akhirnya, tim mencari YS di daerah Pontianak, Kalimantan Barat, pada hari Rabu, 1 Mei 2019.

Ade Ary menjelaskan bahwa YS menyadari perbuatannya telah merugikan pihak lain. Sebab, YS membeli peralatan di Mobile Legend namun tidak menggunakan uang nya. YS menggunakan cheat jadi uang yang ada di akunnya tidak berkurang. (Viva.co.id)

Bermain game online memang dipandang lebih berkelas, selain membutuhkan kuota alias tidak gratis. Game online juga memiliki kelemahan yang lebih mengerikan dan lebih serius, salah satunya membeli fasilitas-fasilitas yang ada dengan menggunakan transaksi uang elektronik. Disamping, terindikasi adanya perjudian terselubung maupun efek candu dalam memainkannya.

Inilah yang menjadi masalah pelik bagi setiap individu dan masyarakat. Selain dampak kejahatan, permainan game online ini mampu membuat pemainnya kecanduan. Kasus-kasus itu tidak lepas dari pengaruh lifestyle jaman now yang kian akrab dengan kemajuan teknologi. Dampak yang dihasilkan dari bermain game tidaklah main-main, dapat menimbulkan narkolema (narkotika lewat mata). Istilah tersebut merujuk pada efek candu dan merusak dari tayangan yang menarik perhatian seseorang.

Menurut penelitian para psikolog yang tergabung dalam American Medical Associations (AMA), ketika bermain game online, terjadi pelepasan zat yang menimbulkan perasaan senang dan nyaman seperti melakukan hobi yang disuka dan makan enak.

Hal ini bisa jadi panduan bagi orangtua untuk mengawasi game-game yang dimainkan anak-anak  mereka atau orang dewasa lainnya agar tidak berdampak negatif untuk masa depannya.

Sampai-sampai timbul rencana dari MUI untuk mengeluarkan fatwa haram. Namun, hal ini menjadi polemik bagi penggemar games di indonesia dan tidak sembarangan.

Sekretaris Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia atau MUI, Asrorun Niam Sholeh, mengatakan ada dua kriteria yang menjadi faktor haramnya fatwa pada sebuah game online. Pertama, tentang konten dan dampak apa yang ditimbulkan. Ia mengatakan, jika konten juga berdampak baik, jelas itu tidak dikategorikan haram. Namun, hal yang berbeda, "Kalau kontennya tidak benar, contoh perjudian atau pornografi. Itu jelas haram," kata Asrorun di Kantor Pusat MUI, Jakarta, Selasa malam, 26 Maret 2019.

Namun, ia melanjutkan, akan berbeda jika konten menghasilkan baik dan buruk, dimana hal-hal buruk yang akan mencegah. Asrorun juga mengatakan bahwa kekerasan bisa datang dari game online yang bertema kekerasan pula. (viva.co.id)

Tentu hal ini butuh peran orang tua dalam mengawasi apa yg menjadi kegemaran anak. Orang yang berpikiran maju dan produktif akan paham bahwa kecanduan bermain game itu akan menghabiskan waktu mereka. Bermain game adalah suatu hal yang tidak baik. Orang tua tidak suka apabila anaknya kecanduan main game. Para guru dan pendidik pun selalu memperingatkan generasi muda akan bahayanya game terhadap pemikiran anak.

Beberapa efek negatif kecanduan game misalnya menghabiskan waktu dengan sia-sia, komunikasi dengan orang terdekat menjadi jauh, kecanduan, bahkan ada hal-hal mudhorot lainnya seperti adanya aurat yg tidak berhak dilihat, lagu dan musik, serta ungkapan dan kalimat yang dilarang syariat atau hal-hal yang memperlihatkan sesuatu yang tasyabbuh (menyerupai) orang kafir dan fasik.

Sebagai seorang muslim, Islam telah mengajarkan agar mengisi waktu kita dengan hal-hal yang positif dan bermanfaat. Jika tidak, maka kita pasti akan mengisi waktu kita dengan hal-hal yang sia-sia atau bahkan negatif.

Ibnul Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah menyebutkan sebuah kaidah emas,

وَنَفْسُكَ إِنْ أَشْغَلَتْهَا بِالحَقِّ وَإِلاَّ اشْتَغَلَتْكَ بِالبَاطِلِ

“Jika dirimu tidak disibukkan dengan hal-hal yang baik, pasti akan disibukkan dengan hal-hal yang batil.” (Al Jawabul Kaafi hal. 156)

Termasuk kebaikan bagi seorang muslim adalah meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat bagi dirinya baik dunia maupun akhirat, sedangkan bermain game umumnya tidak bermanfaat.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مِنْ حُسْنِ إِسْلامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ

“Di antara tanda kebaikan dalam Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat baginya." (HR. Ahmad dan Tirmidzi )

Dalam hadits tersebut, jelas bahwa seseorang dikatakan baik apabila ia meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat baginya. Sebuah hal positif, jika sebagai muslim melihat nikmat besar yang Allah Subhanahu wa ta’ala berikan. Namun terkadang kita lalai terhadap nikmat Nya, yaitu nikmat mendapatkan waktu luang.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ ، الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

“Ada dua nikmat yang banyak membuat manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan nikmat waktu luang.”

Di dunia, terkadang kita menghabiskan waktu tersebut untuk hal-hal yang tidak ada manfaatnya, baik manfaat untuk kehidupan di dunia maupun di akhirat kelak. Kita jutsru menghabiskan waktu untuk main game seharian, atau nonton serial film, atau mengecek timeline facebook dari ujung atas sampai ujung bawah. Dilihat dan dibaca satu-satu, padahal tidak ada status yang berfaidah yang terkadang membuat kita terjerumus ke dalam dosa besar. Hal ini akhinya akan muncul masalah-masalah baru.

Jika sudah seperti ini, artinya pemerintah telah lalai dalam mengawasi aturan kehidupan rakyatnya terutama pemuda, yang nantinya akan menjadi penerus generasi negeri ini. Pemuda merupakan aset bangsa yang tak ternilai harganya. Pemuda menjadi hal yang sangat sensitif untuk dibicarakan. Kenapa seperti itu? Hal ini terjadi karena dalam beberapa tahun ke depan, para pemudalah yang akan menggantikan para pemimpin di dunia ini.

Saat ini, banyak pemimpin yang tidak amanah dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya. Oleh karena itu, kita harus mempersiapkan diri untuk menyiapkan generasi pemuda yg tangguh, berakhlak, dan menjadi pemimpin yang amanah dan bertanggung jawab di masa depan.

Dalam memimpin dunia, jelaslah diperlukan karakter yang kuat juga diimbangi dengan pengetahuan yang luas. Kita sebagai pemuda Islam, harus bertanggung jawab atas segala yang dilakukan. Selain itu, kita juga harus disiplin pada diri sendiri, peduli antar sesama umat manusia, saling tolong-menolong, serta saling menghargai satu sama lain. Sikap-sikap tersebut mendukung kita sejak dini, karena sikap tersebut akan mencerminkan identitas diri kita sebagai pemuda Islam yang terpuji.

Jika kita melihat ke masa lalu ketika Islam berjaya, Islam memiliki pemuda-pemuda hebat pada zamannya masing-masing. Di usianya yang cenderung masih sangat muda, mereka mengisi kegiatan keseharian mereka dengan hal yang bermanfaat seperti belajar, menghafal Al Qur'an, menuntut ilmu, dan beribadah. Mereka mampu menorehkan karya-karya yang luar biasa. Seperti Muhammad Al-Fatih, Usamah bin Zaid yang ditunjuk langsung oleh Rasulullah untuk memimpin pasukan muslim menyerbu Syam, Tariq Bin Ziyad yang kuat, Umar bin Abdul Aziz sampai Ali bin Abi Thalib, pemuda yang memeluk Islam.

Mereka semua berhasil menunjukkan masa depan yg cemerlang. Tokoh pemuda memiliki andil atau memainkan peran yang sangat penting terkait dengan masalah peradaban, termasuk bagaimana membangun bangsa.

Namun jika kita lihat jejak keutamaan pemuda Islam tersebut, sangatlah kontras dengan kondisi mayoritas pemuda Islam saat ini. Maka dari itu, sebagai pemuda yang cerdas kita harus menyadari betapa pentingnya peranan kita bagi negeri ini terutama dalam meneladani perjuangan-perjuangan para pemuda islam di masa lalu.

Sampai saat ini tidak dapat dipungkiri lagi, kejayaan islam mampu mencetak generasi-generasi pemuda yg tangguh, bahwa pemuda sering disebut sebagai “agent of change” yang berarti pembawa perubahan bagi suatu kaum dan negara. Kemajuan suatu negara dapat dilihat dari perilaku pemudanya. Apabila pemuda-pemuda dalam suatu negara tersebut dapat berkontribusi melalui ide-idenya yang kreatif dan inovatif, maka negara tersebut akan memiliki potensi untuk menjadi negara yang lebih maju. Namun, jika para pemuda kita tidak berkreatif dan memanfaatkan waktu luang, hanya diisi dengan bermain game, dan hura-hura maka dapat dipastikan hal tersebut bisa menjadi racun dunia perusak bangsa. [MO/ms]

Posting Komentar