Oleh : Indah Purnama
( Mahasiswi STEI Hamfara )

Mediaoposisi.com- Pemilu 2019 telah berlalu, namun sampai hari ini kisruh terkait data hasil pemilu masih menjadi topik perbincanagan panas di tengah-tengah masyarakat. Pasalanya terjadi beberapa kejanggalan dari hasil data yang input oleh KPU. 

Tak hanya di satu daerah saja kesalahan itu terjadi, tapi terjadi diberbagai daerah. Berikut kejadian salah input data yang terjadi di beberapa daerah :

Proses perhitungan suara pilpres 2019 melalui Sistem Perhitungan Suara (SITUNG) Komisi Pemilihan Umum (KPU) memunculkan ketidakwajaran di Nia selatan, Sumatra uatara. Jumlah raihan paslon pilples jauh tidak sesuai denggan jumlah daftar pemilih tetap (DPT) di TPS bersangkutan. 

Di TPS 03, Kelurahan Marao, Kecamatan Ulonoyo, Nias Selatan, Sumatra Utara terdapat salah satu paslon Pilpres 2019 mendapat lebih dari 700 suara, padahal DPT di TPS tersebut hanya sebanyak 78 pemilih.

Pasangan Calon Presiden Jokowi-Ma'ruf, dalam input data di Situng KPU, tertulis mendapat 723 suara. Padahal, berdasarkan pindai C1 yang turut dilampirkan, pasangan nomor urut 01 tersebut hanya mendapat 72 suara (CNN Indonesia).

Hal serupa pun terjadi di wilayah DKI Jakarta Timur Kelurahan Cakung Timur. Hasil perhitungan suara di Tempat Pemungutan Suara (TPS) 03 berbeda dengan data yang dimasukkan ke dalam situng KPU.

Hasilnya, pasangan Jokowi-Ma'ruf mendapat kelebihan suara. Pada form C1, pasangan nomor urut 01 mendapat jumlah suara 71, namun KPU menginput perolehan suara Jokowi-Ma'ruf menjadi 99 suara (CNN Indonesia).

Berbeda dengan di Jawa Tengah karena bukan kubu 01 yang di untungkan tapi kubu 02, tepatnya di TPS 9, Desa Bulugede, Kabupaten Tegal, terdapat kesalahan input data yang menguntungkan paslon 02. Mulanya, data yang diinput untuk perolehan suara paslon 02 sebanyak 854 suara. Namun dalam lembar C1 perolehan yang sebenarnya hanya 54 suara (CNN Indonesia).

Tidak hanya di dalam negeri kejadian salah input itu terjadi, di luar negeri hal yang sama juga terjadi. Salah satunya yang terjadi di Malaysia, KPU diduga melakukan input data yang tak sesuai dengan hasil laporan form C1. Temuan tersebut terungkap pada hasil penghitungan kotak suara keliling (KSK) 57, Johor Bahru, Malaysia.

Dalam input perolehan suara di Situng KPU, pasangan Jokowi-Ma'ruf ditulis meraih sebanyak 208 suara. Padahal berdasarkan form C1 yang dipindai, pasangan nomor urut 01 itu hanya meraih 81 suara. Bedanya, pasangan nomor urut 02 tersebut justru mengalami penyusutan suara. Di situng KPU, Prabowo-  Sandi tertulis meraih 35 suara, padahal berdasarkan pemindaian form C1, pasangan nomor urut 02 tersebut meraih sebanyak 48 suara (CNN Indonesia).

Mahfud MD kemudian menuturkan bahwa keuntungan dan kerugian kepada masing-masing kubu paslon terjadi secara saling silang dan sporadis. Sehingga semua pihak mendapatkan keuntungan dan kerugian tersebut (TRIBUNBATAM.id).

KPU menduga kesalahan entri data itu terjadi akibat human error atau faktor kesalahan manusai. Tetapi apakah pernyataan itu masuk akal ? saya rasa tidak, karena berapa fakta yang ada, bukan suatu hal yang wajar jika kesalahan entri data itu karena humam error. Jika hanya satu kasus mungkin masih bisa dimaklumi tetapi yang terjadi kali ini lebih dari 199 kasus.

Tidak hanya salah entri data, tapi ada beberapa video yang beredar di sosial media tentang kecurangan-kecurangan yang terjadi pada saat pemilihan umum 2019. Penemuan kertas-kertas yang sudah dicoblos, dan kecurangan lainnya yang mungkin tidak terekspos.

Akibat dari kesalahan entri data tersebut akan berdampak pada perolehan persenatse suara di tiap-tiap daerah atau provinsi yang dapat memenangkan kubu paslon   01 atau 02. 

Namun bukan kubu mana yang di untungkan atau di rugikan, tapi yang menjadi pertanyaan kenapa hal ini terjadi ? bukankah teknologi yang dipakai sudah canggih. Apa penyebab dibalik terjadinya kesalahan entri data, apakah hanya karna human error?

Berawal dari kepentingan masing-masing kubu, dan sebuah tujuan yang ingin dicapai baik dari kubu 01 maupun kubu 02, apa? yaitu kekuasaan. Masing-masing menginginkan kekuasaan,  untuk mencapai itu harus melakukan sesuatu yang dapat mendukung tercapainya tujuan. Baik dengan cara yang halal maupun dengan cara yang haram. Karena sistem saat ini mempunyai prinsip kebebasan.

Jika melihat dari film Sexy Killer yang ternyata ada kaitannya dengan kedua paslon, bisa jadi salah satu cara untuk menguasai semuanya, karena untuk menguasai semuanya seseorang harus  mempunyai kekuasaan yang besar dalam sebuah negara (pemimpin), agar semua dapat dikendalikan sesuai dengan tujuan yang akan dicapai. 

Kemungkinan besar, kesalahan entri data yang terjadi dalam perhitungan suara karena ada sebuah kepentingan di antara kedua kubu untuk mendapatkan kekuasaan. Jika menilik rezim kubu 01, sejak menjabat hingga saat ini saya rasa sama saja.

Bahkan rezim saat ini sangat kelihatan kebobrokannya, masyarakat pun sudah menyadarinya. Sama halnya dengan kubu 02, meskipun belum terlihat. Nah, ini adalah buah dari sistem demokrasi yang semakin nampak kegagalannya.

Kita sama-sama menanti keputusan dari hasil rekapitulasi pemilu 2019 pada tanggal 22 Mei nanti, Apakah paslon 01 yang akan kembali memimpin Indonesai ? apa yang akan terajdi jika paslon 01 kembali menjabat, semakin baik atau malah sebaliknya ?  [M0/IP]

Posting Komentar