Oleh: Merli Ummu Khila 
Kontributor Media

Mediaoposisi.com-"Dan siapakah yang saya namakan kaum Marhaen itu?".  Yang saya namakan Marhaen itu adalah setiap rakyat Indonesia yang melarat atau lebih tepat yang telah dimelaratkan oleh setiap kapitalisme, imperialisme, dan kolonialisme".( Soekarno, Presiden RI 1901-1970)

Ketika paham kapitalisme sudah mengakar hingga ke para pemimpin negeri, maka mereka hanya berfokus pada keuntungan materi semata tanpa memikirkan efek domino dari sebuah kebijakan.

Dilansir oleh Liputan6.com, 13/4/2019, Capres nomor urut 01 Joko Widodo mengatakan " Pemerintah saat ini harus cepat tanggap dan responsif terhadap perubahan global yang terjadi saat ini tentang strategi pengembangan e-Sport dan Mobile Legend.

Oleh sebab itu, pemerintah akan membangun infrastruktur digital.Cara lainnya, membangun ekosistem yang sama bagi mereka untuk bisa berusaha membuat game. Ini peluang yang besar bagi industri game di Indonesia," jelas Jokowi di Hotel Sultan, Jakarta, Sabtu (13/4/2019)

Ekonomi sekular memang  hanya mengutamakan profit tanpa berpikir bahwa dampak dari game online justru ancaman kemunduran kualitas baik secara fisik maupun mental.

Negara hendaknya bertanggung jawab dalam mencetak generasi muda yang kelak akan menerima tongkat estafet kepemimpinan di masa yang akan datang. Bagaimana masa depan anak remaja kalau sudah kecanduan game online.

Disadari atau tidak sistem pendidikan di negeri ini sangat sekular. Tak jelas arah dan kental aroma bisnis berbasis proyek digitalisasi. Negara seolah abai dalam melindungi generasi dari kerusakan media "game online" dengan memfasilitasi sarana teknologi bahkan menjadi ajang lomba.

Miris jika kita mengamati gaya hidup anak muda saat ini yang sudah ketergantungan gadget dan game online. Mulai dari anak-anak, remaja hingga dewasa.

Padahal game online juga memiliki efek kecanduan yang akan berdampak buruk bagi kesehatan baik fisik, psikologis dan gangguan otak anak. Berikut ini adalah dampak negatif dari kecanduan game online

Dari segi kesehatan yaitu gangguan pada otak seperti  penurunan konsentrasi, memicu autisme, mengganggu fungsi daya ingat, memicu halusinasi dan gangguan sirkulasi seperti pusing kepala, migrain atau vertigo.

Belum lagi dampak secara psikologis yang lebih berbahaya karena menyangkut masa depan mereka kelak seperti : mudah cemas, frustasi , sulit konsentrasi, kesulitan mengontrol emosi, insomnia, anak cenderung agresif dan bahkan agitatif.

Terbukti bahwa negeri ini tak lepas dari hegemoni budaya Barat yang sangat merugikan dan bahkan merusak masa depan anak bangsa. Tidak ada solusi yang mampu melepaskan hegemoni Barat yang merusak kecuali merubah sistem.

Karena selama ideologi yang di emban negara ini yaitu berkiblat pada sistem Barat maka kita tidak akan mampu mencetak generasi muda yang bermasa depan cemerlang. Hanya Islam solusi yang komprehensif dari semua permasalahan.

Sistem Khilafah ala Minhajjin Nubuwwah, yang telah terbukti memberi kesejahteraan rakyat menuju rahmatan lil'alamin.[MO/ad]

Posting Komentar