Oleh : Shita Ummu Bisyarah

Mediaoposisi.com-Tanggal 22 Mei 2019, sejarah mencatat bagaimana demokrasi kapitalisme menyibak topeng munafiknya di hadapan rakyat.

Wajah manis yang dipasang hampir seabad kini mulai terlihat kejam dan cacat. Hari itu pemimpin yang ingin tetap berkuasa walau rakyat sudah muak dengan janji - janjinya terang - terangan dzolim kepada rakyat yang hanya ingin bersuara. Menuntut keadilan karena kecurangan yang terindra dan kejanggalan yang meresahkan jiwa mereka.
 
Kekejaman rezim yang tak ingin tumbang itu sudah terlampau kejam, rakyat tak bersalah ditembaki dengan peluru tajam, walau mereka berdalih tak ada tembakan dan peluru tajam tapi bukti lapangan tak bisa disembunyikan.

Pejuang yang telah syahid dan ratusan korban yang terluka adalah bukti nyata tak bisa terbantahkan. Lalu bagaimana bisa mereka masih menyangkal dan berusaha menutupi fakta dengan membatasi jaringan?  Berdalih demi kedamaian tapi hanya menambah kecurigaan dan ketidak percayaan rakyat kepada kalian.

Wahai para petugas keamanan. Pendidikan dan persenjataan kalian difasilitasi oleh rakyat. Namun mengapa kalian hianati rakyat dan berpihak kepada antek asing yang sistemnya mulai sekarat? Apa kalian tak melihat kemunafikan tuan yang kalian bela? Apa kalian tak melihat bobroknya sistem yang kalian tuhankan yang tak lama lagi kan menemui ajalnya?
 
Sungguh sedikit demi sedikit muka munafik kapitalis telah tersibak. Bau busuknya mulai tercium. Bisikan kemunafikannya mulai terdengar.

Dan rakyat mulai sadar lalu berusaha melepaskan diri dari pengaruhnya. Rakyat mulai sadar betapa bobroknya sistem demokrasi. Rakyat mulai sadar sebetapa besarpun suara mayoritas akan kalah dengan suara elit berkepentingan.
 
Karena dari awal demokrasi tercipta dari pemikiran utopis Vox Populi vox Dei dan kini berujung dengan kisruh sana sini. Dari awal lahir demokrasi sudah cacat, rakyat hanya di jerat dan diperalat.

Undang - undang dicipta hanya untuk kepantingan penguasa boneka dan tuannya. Pasal karet tercipta dan tak punya standar pasti pada maknanya.

Rakyat diperas dengan pajak yang menyiksa, SDA milik rakyat dijual paksa sedangkan pendapatan harus berhutang mengiba. Sedangkan para kapitalis hanya duduk manis menunggu aliran harta yang tak habis. Sungguh ironis.
 
Kedzoliman memang semakin menyakitkan ketika ajalnya kian dekat di hadapan. Ibarat orang tenggelam maka jerami terapungpun akan diambil sebagai penolong saking panik tak tertahan. Sungguh kedzoliman ini tak akan lama lagi insyaAllah.

Karena demokrasi kapitalisme tak lama lagi akan menemui ajalnya. Sistem dzolim ini akan runtuh dan penguasa dzolim akan turut tumbang bersamanya.

".....Selanjutnya datang periode mulkan jabbriyyan (penguasa-penguasa yang memaksakan kehendak) dalam beberapa masa hingga waktu yang ditentukan Allah ta’ala. Setelah itu akan terulang kembali periode khilafah ‘ala minhaj nubuwwah. Kemudian Nabi Muhammad saw diam.” (HR Ahmad; Shahih).

Ketika fajar kemenangan kian dekat maka malampun akan semakin pekat. Maka jangan lah lengah para pejuang, karena pahala besar menanti di akhirat. Demi kemuliaan islam yang akan menjadi rahmat, dan demi keridhoan Allah ketika kita bertemu denganNya kelak di surga tertingginya.[MO/ad]

Posting Komentar