Oleh: Mahganipatra
Member Akademi Menulis Kreatif

Mediaoposisi.com- Realitas manusia senantiasa mengharapkan perubahan. Perubahan menjadi sebuah kepastian dalam hidup yang mendorong manusia untuk bekerja keras meniti langkah-langkah menuju perubahan. Salah satu upaya yang dilakukan masyarakat menuju perubahan dalam era demokrasi kapitalisme ini  adalah dengan melaksanakan Pemilu.

Melalui pemilu, sistem demokrasi kapitalisme menawarkan kepada masyarakat jalan perubahan. Dengan jargon "dari-oleh-untuk rakyat", demokrasi telah membius masyarakat  untuk terus berharap akan terjadi perubahan agar realitas kehidupan mereka semakin baik, terpenuhi seluruh kebutuhan hidup mengecap manisnya kesejahteraan.

Benarkah melalui jalan pemilu  perubahan yang diharapkan oleh masyarakat benar-benar terbukti?
Nyatanya, sudah 12 kali pemilu dilaksanakan di Indonesia tidak mampu merubah masyarakat ke arah yang lebih baik. Sejak masa peralihan dari Orde Lama ke Orde Baru hingga masa reformasi. Masyarakat semakin sengsara, kemiskinan, kezaliman dan kesenjangan ekonomi malah semakin tinggi. Bukan hanya kelaparan dan penderitaan hidup yang dirasakan, tetapi kerusakan dan perpecahan semakin nyata di tengah-tengah masyarakat. Melalui pemilu masyarakat dan para elit politik diajarkan saling  mengecam, menyerang tanpa adab untuk menjatuhkan lawan politiknya.

Pemilu telah dijadikan alat oleh para pemilik modal dan calon-calon legislatif untuk bekerja sama, berlomba menguasai kekayaan negara, membangun korporasi dan rezim baru untuk menguasai rakyat. Pemilu adalah jalan bagi para pemilik modal Asing dan Aseng menguasai kekayaan negara dan rakyat. Mereka hadir untuk menjajah negeri-negeri kaum muslimin atas nama investasi.

Dilansir oleh CNBC Indonesia, Jakarta (18/4/2019). Perusahaan manajemen investasi PT Bahana TCW Invesment Management memperkirakan hasil hitung cepat (quick count) Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 akan membawa dampak positif ke pasar keuangan domestik. Aliran dana asing ke pasar saham dan obligasi tahun ini bahkan diperkirakan bisa lebih dari US$ 6 miliar atau sekitar Rp 84,35 triliun, lebih besar dari 2018.

"Indonesia merupakan salah satu negara berkembang yang tetap dipercaya oleh asing meskipun sedang melaksanakan pemilu. Arus inflow pasar saham dan obligasi mencapai US$ 6 miliar, jauh lebih besar dari total inflow 2018," kata Chief Economist Bahana TCW Budi Hikmat dalam ulasan Post-Election Brief yang dipublikasikan, Kamis (18/04/2019).

Selain itu, seperti yang dilansir oleh tirto.id, Kamis 17/4/2019. Penyelenggaraan pemilihan umum 2019 di sejumlah daerah mengalami kendala. Mulai dari masalah distribusi logistik, kekurangan surat suara, kerusakan kotak suara, kerusakan surat suara, hingga surat suara tercoblos lebih dulu. Deretan kasus ini menunjukkan KPU gagal menjamin pemilu berjalan langsung. Bahkan tidak hanya kegagalan dalam pelaksanaan saja ternyata pemilu 2019 juga menelan korban paling banyak.

Dilansir oleh detiknews.com, Jakarta. Jumlah petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) yang meninggal dunia terus bertambah. Saat ini jumlah petugas KPPS yang meninggal berjumlah 272 orang.

"Jumlah bertambah, anggota wafat 272 dan sakit 1.878," ujar komisioner KPU Evi Novida Ginting Manik, kepada wartawan, Sabtu (27/4/2019).

Belajar dari kasus-kasus di atas, maka semakin jelas bahwa pemilu hanya mampu memberikan ilusi perubahan bukan kenyataan. Pemilu hanya dijadikan kedok oleh demokrasi untuk menipu dan membodohi rakyat agar terus berharap.
Para pengusung demokrasi sering mengklaim bahwa demokrasi menjamin kemakmuran, kesejahteraan dan keadilan, mampu memberikan garansi kebebasan dan persamaan serta mampu menawarkan kemajuan peradaban. Faktanya, semuanya  dusta belaka.
Kemakmuran, kesejahteraan dan keadilan yang dijanjikan oleh demokrasi hanya berlaku bagi segelintir orang yang memiliki kekuasaan dan modal. Demokrasi hanya akan berpihak pada penguasa dan para para pemilik modal Asing dan Aseng untuk melanggengkan penjajahan sistemisnya dalam segala aspek (politik, ekonomi maupun sosbud).

Lebih dari itu, sejarah telah membuktikan bahwa perubahan melalui demokrasi adalah utopis. Selama pemilu digelar di Indonesia tidak mampu melahirkan perubahan mendasar yang terjadi hanya perubahan orang dan rezim. Tidak mampu merubah sistem politik ke arah yang lebih baik justru membuka peluang masuknya cengkraman asing melalui lahirnya puluhan UU dari DPR dan pemerintah yang semakin mengokohkan dominasi Asing dan Aseng untuk menjajah negeri ini.

Fakta ini semakin menambah bukti bahwa pemilu yang didesain oleh demokrasi hanya untuk memilih dan mengganti  orang-orang yang ada di parlemen dan pemerintahan demi mempertahankan demokrasi itu sendiri bukan untuk melakukan perubahan.
Jalan Perubahan Menurut Islam
Di dalam Islam pemilu bukan jalan menuju perubahan.  Pemilu hanya salah satu sarana untuk memilih pemimpin yang hukumnya mubah. Pemilu di dalam Islam, bukan satu-satunya cara untuk memilih dan menentukan pemimpin, tidak menjadi sebuah keharusan apalagi menjadi simbol sebagai alat dalam memilih dan menentukan pemimpin.

Perubahan yang harus di lakukan umat saat ini adalah lahirnya kesadaran bahwa alam demokrasi adalah sebuah sistem yang rusak dan merusak. Kerusakan yang bersumber dari ideologi Demokrasi Kapitalis yang memiliki landasan sekulerisme  sebagai asas kehidupan merupakan biang dari segala persoalan hidup mereka.
Umat harus dipahamkan bahwa untuk melakukan perubahan mereka harus kembali kepada akidah Islam sebagai landasan kehidupan dan sumber pemikiran. Dengan asas ini umat akan dibimbing dalam setiap pemikiran dan perbuatannya dengan mengaitkan keimanan, pahala dan dosa.

Perubahan hanya bisa dilakukan ketika lahir sebuah kesadaran di tengah masyarakat bahwa akidah Islam adalah asas kehidupan, tempat lahirnya seluruh aturan kehidupan yang akan mengatur seluruh kepentingan manusia  bukan semata-mata karena asas kemaslahatan. Manusia hanya akan tunduk dan taat kepada Allah Swt, bukan kepada sesama manusia, kekuasaan apalagi uang.

Perubahan yang akan diterapkan oleh Islam adalah perubahan yang menyeluruh terhadap seluruh aspek kehidupan bukan perubahan yang bersifat parsial. Perubahan yang diperoleh dari dukungan umat , ahlul quwwah, atau orang-orang yang memiliki kekuatan politik, militer dan ekonomi  karena proses pembentukan kesadaran akan pentingnya penerapan syariah melalui jalan dakwah.
Dakwah merupakan jalan satu-satunya menuju perubahan hakiki untuk membentuk kesadaran umum di tengah masyarakat menuju tegaknya syariah dan khilafah yang akan mewujudkan Islam rahmatan lilalamin di seluruh dunia.

Wallahu a'lam. [MO/ra]

Posting Komentar