Oleh : Nasrudin Joha
Mediaoposisi.com-Manusia beramal itu yang terindera bukan niatnya, tapi perbuatannya. Hukum itu didasarkan zahirnya, perbuatannya, bukan niatnya. Niat itu terkait pahala dosanya, bukan sah dan afdholnya amal.

Ada orang ke masjid, sholat berjamaah, yang terindera itu sholatnya, bukan niatnya. Kalau dia sholat niatnya untuk pamer, terserah urusan dia dengan Allah SWT. Secara zahir, orang tadi sudah sholat, terpenuhi syarat rukun, sah. Perkara diterima atau ditolak ? Itu urusan Allah SWT.

Urusan curang pemilu, itu juga yang diukur perbuatannya, bukan niatnya. Sama kasus korupsi Ahok di sumber waras, itu yang dihukumi korupsinya, bukan niatnya.

Enak banget kalau korupsi itu bisa hilang karena tidak ada niat ? Misalnya saja : saya korupsi itu tidak ada niat, niat saya cuma mencari nafkah untuk keluarga. Kan logika ini ngawur ?

Dan perbuatan pidana, kejahatan pidana, itu tidak semuanya butuh unsur niat. Cukup perbuatan terjadi, maka hukum akan meminta pertanggungjawaban.

Coba tengok, mana ada orang kecelakaan niat nabrak ? Semua pasti akan bilang tidak ada niat, tapi kenapa kasus kecelakaan diproses hukum ? Karena ada perbuatan yang karena kelalaiannya menyebabkan orang luka atau meninggal dunia. Niatnya ? Tidak penting.

Kalau semua berdalih tidak ada niat, tentu kasus kecelakaan yang menyebabkan hilangnya nyawa tidak bisa diproses pidana. Jadi, tidak ada orang dihukum karena menabrak orang lain secara tidak sengaja.

Untuk kasus pemilu curang, yang terstruktur, sistematis, masif dan brutal (TSMB), itu tidak dihitung niatnya. Yang jelas, ada kecurangannya, unsurnya hingga TSMB, itu yang dilihat rakyat, bukan ada atau tidaknya niat.

Memangnya kalau Pemerintah bilang tidak ada niat, urusan selesai ? Pemilu curang dimaafkan ? Pelaku kejahatan curang TSMB bisa lepas dari hukum ? Enak sekali berhukum logika Togog Belong begini ?

Bahkan, kata bang Napi kejahatan itu tidak butuh niat, tapi karena ada kesempatan. Waspadalah ! Waspadalah !

Lantas, sekarang Wiranto bersumpah, di bulan Ramadhan bahwa Pemerintah tidak ada niat curang. Memangnya sumpah ini bisa menghilangkan kecurangan ? Bisa menghilangkan unsur curang yang TSMB ? Bisa menghilangkan pertanggungjawaban pidana ? Bisa diterima rakyat ? Bisa merubah kecurangan pemilu menjadi JURDIL ? Jelas tidak.

Sudahlah, jangan lagi tipu rakyat dengan istilah istilah yang seolah religi, tapi sebenarnya manipulatif. Menipu. Terbuka saja meminta maaf kepada rakyat, berikan kekuasaan kepada yang berhak, semoga rakyat memaafkan.

Jangan melobi, mengancam, atau menghiba. Rakyat sudah paham 'watak kekuasaan culas'. Jika terus melawan rakyat, berarti Anda telah siap digilas zaman dan diabadikan dalam sejarah sebagai pengkhianat bangsa dan negara. [MO/vp].

Posting Komentar