Oleh Salma Banin, Aktivis Dakwah Kampus
Mediaoposisi.com-Seorang Individu yang sedang menuntut ilmu ditingkat perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta atau lembaga lain yang setingkat dengan perguruan tinggi dikenal dengan sebutan Mahasiswa. Mahasiswa perannya dalam masyarakat tidak hanya sebagai simbol insan berpendidikan, namun sering juga diidentikan dengan pelopor perubahan. 

Baik bagi para sarjana, master maupun doktor kesemuanya sedari mengenyam pendidikan tinggi sudah dituntut untuk berfikir progresif sesuai bidangnya. Mencetuskan solusi-solusi aplikatif bagi permasalahan yang dihadapi di lingkungannya melalui penelitian dan pengabdian yang dilakukan.

Kontribusinya sangat besar bagi pembangunan negeri. Sebab para mantan mahasiswa inilah yang akan menjadi pemimpin dan penguasa masa depan. Sosoknya selalu dibidik oleh peradaban manapun. Secara fisik ia kuat, secara pemikiran ia matang, usia produktif dengan segudang potensi yang menanti untuk ditelurkan.

Namun di era mulkan jabriyyatan sebagaimana hari ini, fitnah padanya juga tak terelakkan. Peperangan antara yang haq dan bathil senantiasa dihembuskan, baik secara sembunyi maupun terang-terangan. Perlu kami sampaikan, bahwa kemunduran kaum muslimin sejak keruntuhan daulah adalah disebabkan rintangan besar yang menjangkiti pemikiran umat, salah satunya melalui kurikulum pendidikan. Dimana produk intelektual dicetak dari sektor ini, ide-ide segar mengalir deras dari jalur ini, tindak tanduk kebangkitan mulai dari segmen ini dan tonggak perubahan besar ditopang mayoritas oleh kelompok ini.

Maka jika Islam telah diemban secara kaaffah oleh mereka, cahayanya akan lebih cepat benderang, menyilaukan sesiapa saja yang masih betah dalam kesuraman bahkan kegelapan akibat sistem yang diwariskan oleh penjajah.

Cahaya itu sejatinya semakin mencuat meski senantiasa mencoba dibendung sekuat tenaga. Generasi baru yang dijanjikan akan lebih mudah hadir jika para pemikir ini tidak terjebak dalam buaian sekulerisme yang gagal meniadakan Islam, lalu membuat kompromi dengan profil-profil pemuda pujaan yang tampak ideal diluar namun mematikan dari dalam.

Islam sejak diturunkannya tidak mengenal ide ke-sekte-an. Tidak pula dikotak-kotakkan berdasarkan amalan. Aqidahnya satu, Laailahaillallah Muhammadurrasulullah yang dengan itu kemuliaan Islam terjaga meski dari segi furu’ dibolehkan berbeda-beda.

Seiring dengan beralihnya kedigdayaan ideologi, Islam semakin menjadi sasaran tembak kriminalisasi. Ajarannya di mutilasi sana sini lalu dilabeli begitu begini. Parahnya kaum muslim malah menerimanya dengan senang hati, membebek dibawah ketiak kaum kuffar dan berbangga dengannya. Turut berkompromi dan selalu mengamini pada apapun yang diarahkan. Sejalan dengan yang didapat selama menempuh pendidikan, baginya yang berada diluar itu pasti salah.

Munculah satu sosok panutan yang menjadi kebanggaan warga internasional tanpa dicibir penduduk lokal. Mahasiswa Muslim Moderat yang jadi ikon berkemajuan dengan tetap memelihara hubungan dengan Tuhan. Profil sesat ini diaruskan lengkap dengan berbagai atribut yang harus melekat dan dibuat untuk mengaburkan mahasiswa sendiri dalam memposisikan diri menghadapi problem multidimensi yang ia hadapi sehari-hari. Menjadikannya mati nalar dan enggan berjuang bagi agamanya karna dirasa sudah cukup berkontribusi selama mendapat tepuk tangan dari para petinggi di dalam maupun luar negeri.

Satu, mahasiswa muslim moderat adalah pribadi yang Inovatif. Mampu berkreasi dengan keilmuannya dalam menyelesaikan permasalahan di lapangan (kerja). Sudah menjadi pemahaman umum, bahwa orientasi utama pendidikan kita adalah perburuhan. Perguruan tinggi berloka karya dengan industri sehingga siap pakai seketika ia lulus. 

Bahan ajar menyesuaikan pesanan, dijejalkan sedari semester awal sehingga mahasiswa tak sempat memikirkan hal lain selain capaian akademik bahkan berorganisasi hanya untuk menunjang melengkapi kolom CV agar lebih mudah jadi buruh industri. Ketimbang memikirkan perkara yang lebih besar lagi, yakni keselamatan di akhirat nanti. “Ah, yang sekarang aja jalani. Mati urusan lain lagi.” pembelaannya dalam hati.

Dua, mahasiswa muslim moderat haruslah adaptif. Ia yang mampu menempatkan diri dimanapun berada, bukan berdasar prinsip namun menjadi permisif terhadap semua budaya, terutama budaya barat yang banyak menabrak syariat. Pergaulan internasional senantiasa diajarkan pada mahasiswa untuk turut aktif di dalamnya, bertukar budaya yang tidak perlu, hingga tidak malu menanggalkan identitas kemuslimannya. 

Sama persis dengan yang dicatatkan dalam sejarah dahulu, dimana eropa sempat terpukau dengan era kejayaan Islam dan menjadikannya tren yang layak dan patut diikuti. Bedanya eropa menjadikannya sebagai inspirasi untuk mengembangkan revolusinya, sedang kaum muslim ini malah mabuk kepayang dibuatnya. Hingga melupakan kebudayaan Islam yang jauh lebih agung dari yang ia elu-elukan sekarang.

Tiga, mahasiswa muslim moderat ialah yang apolitis. Enggan bersusah payah memikirkan urusan rakyat. Merasa tidak perlu menjadi bagian dari pengurus umat (riayah syuunil ummah), bahkan menihilkan urgensitas ini. Efeknya parah, pemuda muslim tak sungkan lagi menampakkan diri bahwa ia merupakan pemuja egoisme meski dibalut dalam istilah yang seolah-olah diperbolehkan dalam Islam. Memusatkan ketaatan hanya bagi pribadinya, urusan agama adalah urusan privat yang haram diganggu gugat. Mengambil sekulerisme sebagai asas dalam beragama seraya meninggalkan dakwah dan mencibir para pengembannya.

Inilah fenomena jumud yang tidak boleh berlanjut. Bahwa pemuda tidak layak menggenggam profil tersebut. Hanya Islam satu-satunya yang wajib ditinggikan dan ditegakkan. Ataukah kita masih menganggap layak ditiru sifat-sifat pengecut seperti itu?

Segeralah bertaubat, kemenangan Islam sudah dekat. Jadilah bagian dari perjuangan dakwah Syariah dan Khilafah yang meski dipertentangkan namun tak akan pernah padam sebab dijaga oleh Rabb Semesta Alam. Wallahu’alam.[MO/vp]

Posting Komentar