Gambar: Ilustrasi
Oleh: Destiantini Siti Mardiah., S.Pd
(Ibu Rumah Tangga/Angkrek Sumedang) 

Mediaoposisi.com-Baru baru ini, kita dikejutkan dengan film kontroversial "Kucumbu tubuh indahku" yang diduga mengandung unsur LGBT. Sebenarnya, saat membaca judulnya yang vulgar saja, masyarakat bisa menilai bahwa film ini bukan dikategorikan sebagai "film baik-baik" yang artinya tak cocok untuk ditonton semua umur termasuk anak kecil. Namun, para pelaku film tersebut tidak tinggal diam saat karya mereka mendapat kecaman bahkan pemboikotan di beberapa kota. Hal itu dikarenakan, anggapan bahwa tak ada unsur LGBT dan adegan pornografi di dalamnya.

Bahkan, Garin Nugroho menganggap, aksi pencekalan dan berbagai petisi penolakan film adalah kriminalisasi bagi karyanya. Pasalnya, film ini hanya mengangkat kisah perjalanan seorang penari lengger lanang khas Banyumas yang mendapat banyak kekerasan dalam hidupnya, bukan kisah praktik percintaan LGBT. Pelarangan kontroversi tentang film ini pun dianggap sebagai ketidakadilan dalam kebebasan berekspresi di negara demokrasi.

Jika berbicara tentang dunia perfilman, bukan hanya kali ini muncul film yang tak layak untuk ditayangkan. Banyak sekali film berkonten pornografi yang lulus sensor dan tayang di bioskop-bioskop tanah air. Bahkan, film yang bernuansa anak-anak pun tak jarang disisipkan adegan-adegan atau kisah percintaan yang bisa menumbuhsuburkan aktivitas pacaran di kalangan anak-anak. Atau bahkan, bermuatan pelecehan terhadap agama Islam seperti yang terjadi beberapa tahun kemarin.

Kebebasan berkreasi di dunia sekuler ini memang membuahkan berbagai macam kreativitas tanpa batasan yang lebih sering memuat nilai-nilai ala barat yang dicontohkan perfilman dunia. Hal ini mengakibatkan, masyarakat kita dikondisikan untuk menerima praktik sosial ala barat yang sering bertentangan dengan nilai adat Indonesia bahkan nilai-nilai Islam.

Di sini, bukan berarti Islam melarang kaum muslimin untuk berkreasi dan membuat karya seni karena Islam sendiri mencintai keindahan dan ilmu pengetahuan. Bahkan, banyak karya seni dunia yang terinspirasi dari dunia Islam. Dalam Islam, kaum muslimin diperbolehkan untuk berkreasi dan berekspresi dengan bebas namun harus selalu dalam koridor syariah. Dengan adanya aturan syariah maka setiap hasil seni yang diciptakan bukan hanya terkandung nilai estetika saja tetapi juga ada nilai kebaikan di dalamnya.

Alangkah lebih baik jika karya seni yang diciptakan bermanfaat untuk menyebarluaskan dakwah Islam karena tidak bisa dipungkiri bahwa seni sangat disukai banyak kalangan khususnya kawula muda. Ini berarti kita bisa memanfaatkan berbagai macam kreatifitas seni dakwah untuk bisa lebih diterima di kalangan anak muda seperti seni musik rap yang liriknya tentang perjuangan dakwah atau bahkan film yang bisa memotivasi kaula muda untuk menjadi the next al fatih serta berbagai macam karya seni lainnya.

Intinya, setiap kreativitas dalam seni bisa diterima oleh masyarakat luas, khususnya kaum muslimin, asalkan tidak berbenturan dengan syariah dan tidak memuat nilai-nilai ala barat bertentangan dengan akidah. Menolak seni peninggalan budaya tradisional bukan berarti memusuhi seni budaya yang ada namun jika kesenian tersebut melenceng dari syariah seperti seni tari lengger lanang dan sebagainya yang mengharuskan laki-laki ber-lenggak lenggok layaknya perempuan bukan tidak mungkin hal tersebut akan menumbuhkan penyimpangan seksual seperti LGBT.

Maka, Islam sebagai ideologi yang preventif, menjaga dan mencegah segala kemungkinan yang bisa merusak generasi kaum muslimin. Karena, Islam bukan ideologi yang akan mulai bertindak ketika permasalahan di tengah-tengah kaum muslimin baru muncul. Maka, jika kita sebagai kaum muslimin bersikap apatis bahkan mendukung aktifitas yang melenceng syariah seperti praktik LGBT dan sebagainya dengan alasan apapun, sama saja dengan menentang ketetapan Allah Subhanahu wa ta’ala. Menerima segala bentuk kemaksiatan tersebut berarti dia rela dihimpun Allah Subhanahu wa ta’ala dengan golongan yang sama di Akhirat kelak. Naudzubillah. [MO/ms]

Posting Komentar