Oleh: Muflikhah Asmad
(Praktisi Pendidikan Islam Dan Pemerhati Politik Islam)

Mediaoposisi.com-Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan tersangka kepada ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Muhammad Romahurmuzy alias Romi, Sabtu(16/3). Romi ditetapkan tersangka dalam kasus jual beli jabatan di lingkungan Kementerian Agama (Kemenag) Republik Indonesia.

Wakil ketua KPK Laode Muhammad Syarif mengatakan Romi diduga terlibat dalam korupsi sistem Lelang  Jabatan Pimpinan Tinggi di Kantor Kementerian Agama di Jawa Timur. Dalam penagkapan tersebut, Romi juga ditangkap dengan lima orang lainnya diantaranya adalah Haris Hasanudin dan Muhammad Muafag. “HRS dan MFQ menghubungi RMY untuk proses lelang jabatan tersebut,” kata Laode dalam jumpa pers di Jakarta, Sabtu. Dalam seleksi tersebut, KPK mengamankan uang Rp156,75 juta.

KPK menyimpulkan ada dugaan tindak pidana korupsi dalam seleksi jabatan 2018-2019. Lembaga ini menetapkan tiga tersangka yakni RMY, HRS dan MFQ. Romi disangkakan pasal 12 ayat a atau b jo pasal 11 UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi,  (CNN Indonesia: Sabtu, 16/03/2019).

Bulan kemaren public diramaikan dengan berita kasus korupsi salah satu kader partai Islam diatas tersebut, walapun sebelumnya pernah juga dari beberapa kader partai Nasionalis dan partai Islam yang juga kader nya tersandung kasus korupsi.  Seolah sudah menjadi hal yang tidak asing lagi bagi partai di Indonesia, kadernya korupsi dan melakukan kejahatan lainnya.

Korupsi adalah bentuk kriminalitas dan tindakan tidak benar dimata agama maupun hukum pidana. Serta sangat tidak pantas jika dilakukan oleh kalangan elit partai yang seharusnya menjadi contoh yang baik bagi masyarakat yang notabe nya mereka katanya mau memperjuangkan Islam lewat partai yang diusungnya, memperjuangkan hak-hak rakyat lewat partainya dan ingin membangkitkan umat.

Akan tetapi apa yang terjadi justru terbalik, mereka elit partai yang seharusnya menjadi contoh yang baik bagi masyarakat justru mencontohkan perbuatan kriminal dan tidak terpuji yang sangat tidak patut di contoh oleh siapapun. Ingin memperjuangkan Islam lewat partainya, perbuatannya justru melanggar syariat Islam. Ingin memperjuangkan hak-hak rakyat, perbuatan kadernya partainya justru merugikan rakyat dan membuat rakyat kecewa. Ingin membangkitkan umat tapi perbuatanya justru memalukan umat Islam.

Apa yang bisa umat harapkan dari kader partai yang antara ucapan dan perbuatannya tidak singkron. Umat butuh contoh yang baik dan perbuatan yang nyata dari apa yang selama ini mereka ucapkan dan janjikan, bukan janji-janji palsu, bukan perbuatan yang tidak terpuji yang mereka contohkan di depan mata bukan pula kemunafikan yang nyata didepan mata. Sehingga membuat masyarakat tidak percaya kembali kepada kader partai politik tersebut.

Partai politik yang merekrut anggota partainya dengan cara yang instan dan tidak berdasarkan kaderisasi atau pembinaan yang dicontohkan Rosulullah. Mereka merekrut anggotanya berdasarkan kedudukan orang tersebut dimasyarakat misalnya ia seorang selebritis, penyanyi, pemimpin dikaumnya atau orang kaya yang dihormati didaerahnya bukan karena mempertimbangkan apakah ia layak atau tidak menjadi anggota kader partai berdasarkan sudut pandang syariat. Oleh karenanya jangan heran ketika kader anggota partainya tidak faham hal apa yang harus dilakukan untuk membangkitkan umat dengan perannya sebagai anggota partai.

Kegagalan sebuah partai ketika tidak bisa membangkitkan umat salah satu penyebabnya adalah faktor manusia, individunya atau kader partainya. Sebab disamping pembentukan kelompoknya bukan atas dasar pembentukan kelompok yang benar karena tidak adanya fikrah dan thoriqoh, atau karena kesalahan dalam metode pengikatan orang-orang ke dalam kelompok-kelompok tersebut, juga tidak didasarkan pada kelayakan individunya itu sendiri, melainkan berdasarkan kedudukan orang yang tadi di masyarakat serta dari peluang diperolehnya manfaat secara cepat dengan keberadaannya dalam partai, (Taqiyuddin An-Nabhani:2016).

Dalam Islam Pimpinan Partai adalah seseorang yang sudah benar-benar memahami Islam, perasaannya berdasarkan Islam,memahami fikroh dan thoriqoh partai yang berdasarkan akidah Islam sehingga ucapan dan perbuatannya akan sama serta perbuatannya tidak akan berani menyalahi syariatNya karena ia benar-benar takut kepada Allah dan RosulNya sebab yang ia perjuangkan adalah Islam.

Sehingga  Syekh Taqiyuddin an-Nabhani menuliskan dalam kitabnya  At-Takatttul  al- Hizbiy “Pimpinan Partai atau halaqoh pertama dapat diserupakan dengan motor penggerak dengn motor buatan pabrik dari satu segi, tetapi berbeda dari segi lain. Segi keserupaannya adalah sebagai berikut. Motor  yang digerakkan gas umpamanya, mempunyai energi panas yang dihasilkan dari percikan api (busi) dan bensin pada sebuah gerakan motor. Energi panas ini menghasilkan tekanan gas. Tekanan ini mendorong piston yang menggerakan mesin dan menggerakkan seluruh peralatan mesin. Atas dasar ini keberadaan busi, bensin dan putaran mesin merupakan asal-usul penggerak motor. Sebab dari ketiga hal itulah akan dihasilkan energi panas yang akan menimbulkan tekanan dan tekanan inilah yang akan menggerakkan bagian lain dari mesin dan menggerakkan motor.

Apabila putaran mesin berhenti, maka berhenti pulalah gerakan alat-alat yang lain. Dengan demikian harus ada busi, bensin dan gerakan motor agar dapat dihasilkan perputaran mesin dan pergerakan seluruh peralatan mesin. Seperti itulah perumpamaan pimpinan partai. Fikrohnya bagaikan percikan api dari busi, perasaan para anggotanya yang penuh kesadaran bagaikan bensin dan manusia yang perasaannya terpengaruh oleh fikroh adalah bagaikan gerakan motor.

Atas dasar ini, apabila fikroh berhubungan dengan perasaan manusia, akan lahir energi panas yang menggerakkan pimpinan partai untuk bergerak. Gerakan pimpinan partai tersebut kemudian akan menggerakkan bagian-bagian lain dari partai, baik individu-individu, halaqoh-halaqoh maupun lajnah-lajnah mahaliyyah dan yang lainnya. Semuanya akan terrpengaruh oleh panasnya gerakan pimpinan partai, sehingga bergeraklah semuanya dan berputar seperti berputarnya mesin. Disinilah partai mulai bergerak kemudian berkembang dalam pembentukan dirinya, (Taqiyuddin an-Nabhani:2016)

Jadi Pimpinan Partai Islam atau kader Islam yang dicontohkan Nabi kita adalah mereka yang benar-benar memahami konsep politik Islam sesuai yang dicontohkan Nabi, kepribadianya mencerminkan kepribaian Islam, perasaannya merupakan perasaaan Islam, pemikirannya merupakan pemikiran Islam, memahami fikroh, dan toriqoh Partai, adanya ia didalam partai karena ikatan akidah Islam dan  semata-mata karena ia ikhlas ingin berjuang karena Allah, membangkitkan umat dan memperjuangkan Islam bukan menginginkan jabatan dan kehormatan dimata manusia. Karena ia memahami bahwa ”sesungguhnya Allah telah membeli  jiwa orang-orang yang mukmin dengan surga”.

Kader partai yang seperti inilah yang bisa menjadi motor penggerak yang menghasilkan panas yang bisa disalurkan kesemua anggotanya yang kemudian anggota kadernya menjadi pribadi yang sama seperti pemimpinnya dan merekapun akan bersama-sama bekerja keras membangkitkan umat yang sedang tertidur lelap dan bersama memperjuangkan Islam dalam semua aspek kehidupan, bukan kader partai yang bermasalah dengan hukum dan tidak bisa diharapkan untuk membangkitkan umat. Sehingga umatpun sekarang sudah bisa menilai dengan akal sehatnya memilih mana sebenarnya yang diinginkan dari umat dari kader sebuah partai politik yang mampu membangkitkan.

Wallahu’alam Bishowab.

Posting Komentar