Oleh: Mochamad Efendi
Mediaoposisi.com-  Sungguh terlalu sebuah negeri yang menjunjung tinggi agama tidak tersinggung dan sakit hati saat agama dinistakan oleh orang-orang yang tidak menginginkan agama mengatur kehidupan umat manusia.
Agama hanyalah urusan pribadi yang tidak boleh ada saat mengatur hubungan antara manusia. Agama tidak boleh dibawa ke ranah publik. Meraka lebih suka diatur dengan hukum kufur buatan manusia yang sering bertentangan dengan keyakinannya.
 Saat agama dipermainkan dan dinistakan dianggap biasa dan hanya diselesaikan secara damai dan tidak perlu dibawa ke ranah hukum. Ini membuat para penista agama semakin leluasa malakukan penistaan agama. Mereka tidak takut atau jera karena negara tidak perduli dengan masalah penistaan agama bahkan cenderung melindunginya. Agama dianggap biasa untuk dipermainkan.

Sungguh aneh OPM yang jelas makar tidak ditangkap dan diadili dengan pasal makar. Mereka sudah menggunakan kekuatan militer untuk memisahkan diri dari NKRI. Tidak usah dicari- cari kesalahannya, mereka sudah jelas bersalah.
Tidak perlu pakar ahli hukum untuk menentukan OPM bersalah sebagai kelompok bersenjata yang ingin melakukan makar. Harusnya kemenkohulkam lebih fokus untuk memerangi dan menindak tegas OPM yang jelas melakukan tindakan makar dan sudah banyak korban baik sipil maupun militer yang berjatuhan karena tindakan makar mereka.

Sungguh memprihatinkan, tokoh sipil yang kritis dan tidak bersenjata dianggap makar. Paranoid, setiap rakyat yang benci dan kesal pada penguasa dianggap makar. Kesalahannya dicari-cari agar bisa ditangkap dan dipenjarakan. Satu persatu muncul tokoh yang menjadi target lembaga bantuan hukum bentukan menkopohulkam.
Tuduhan pasal makar sunggu berlebihan diberikan pada tokoh sipil yang tidak mungkin berbuat makar. Jika banyak orang yang kesal, benci dan tidak suka dengan presiden bukan lantas menangkapi mereka tanpa ingin tahu penyebabnya kenapa mereka berbuat seperti itu. Pemimpin yang baik harusnya introspeksi diri kenapa banyak rakyat yang tidak suka padanya, kemudian mau berubah dan belajar dari kesalahannya.

Seperti dalam satu keluarga anaknya yang nakal dan berbuat tidak baik serta menodai nilai-nilai kebaikan yang diyakini dibiarkan selama tidak menyakiti hati orang tua. Sementara, anak yang kritis dan menginginkan kebaikan untuk keluarganya diberi hukuman. Orang tua yang otoriter tidak mau tahu kenapa anaknya bersikap kurang hormat sama orang tua.
Selama itu tidak disukai orang tua, maka anaknya akan dapat hukuman. Orang tua tidak pernah mau tahu kesalahannya tapi terus menyalahkan anaknya yang berani menyampaikan sesuatu meskipun itu fakta dan kebenaran. Orang tua tidak perduli meskipun dia sendiri sudah melakukan kesalahan.
Dia tidak ingin kehilangan harga dirinya sehingga menghukum anak yang dibencinya meskipun anaknya tidak melakukan kesalahan. Kesalahan dicari-cari pada anaknya yang dibenci dan dianggap membangkang kehendaknya. Anak yang jelas melakukan kesalahan dibiarkan selama apa yang dilakukan tidak menyakiti hati orang tua.

Itulah gambaran pemimpin di negeri ini yang akan membabat habis tokoh kritis yang menginginkan perubahan dan kebaikan untuk negerinya. Bahkan rakyat kecil kesal padanya dan melontarkan ancaman pada penguasa, terancam dipenjara. Dia juga kehilangan pekerjaaan karena emosi dan kesal pada pemimpin negeri ini.
Apakah pemuda seperti ini bisa melakukan makar. Dengan akal sehat pasti kita mengatakan bahwa pemuda biasa yang tidak punya masa dan pasukan tidak mungkin mampu melakukan makar. Sungguh paranoid, semua dianggap makar walaupun mereka yang dituduh tidak mungkin melakukan perbuatan itu.

Harusnya pemimpin yang arif dan bijak akan mencari tahu kenapa banyak rakyat yang tidak suka padanya. Rakyat semakin cerdas dan tidak bisa dibohongi. Model pencitraan sudah tidak laku lagi. Menangkapi mereka hanya akan menambah kebencian rakyat yang tidak ada titik temu antara kehendak penguasa dan keinginan dan aspirasi rakyat. Rakyat sudah cukup cerdas menilai kinerja penguasa bekerja untuk rakyat atau kepentingan asing-aseng.

Semakin banyak yang ditangkap dengan tuduhan makar, semakin menumbuhkan kebencian di hati rakyat. Benih kebencian yang ditebar nantinya harus dituai. Kebencian akan semakin tumbuh subur ditengah masyarakat karena aspirasi rakyat tidak lagi didengar. Rakyat ditakuti dan ditangkapi karena dianggap menghina penguasa yang otoriter dan dzalim pada rakyatnya.

Sungguh ini tidak akan menyelesaikan masalah. Harusnya pemimpin yang arif akan bijak menyikapi kebencian rakyat yang ditujukan padanya. Bukan memberi tuduhan makar dan menangkapinya tapi harusnya dia mau mendengarkan dan lebih dekat dengan rakyat. Rakyat harusnya dijadikan prioritas utama dalam setiap kebijakan yang diambil.
Rakyat harus menjadi perhatian utama bukan kepentingan asing aseng. Rakyat akan mencintai pemimpin yang mencintai rakyatnya bukan memusuhinya apalagi mencari kesalahannya agar bisa ditangkap dan dimasukkan penjara. Jika demikian kebencian rakyat akan semakin kuat dan pada waktunya tidak ada yang bisa membendung kekuatan rakyat yang menginginkan kebaikan dan perubahan. [MO/ra]

Posting Komentar