Gambar: Ilustrasi
Oleh: Mochamad Efendi

Mediaoposisi.com-Pemilu dan aksi 22 Mei menelan banyak korban tapi pemimpin negeri ini tidak peduli karena ambisinya untuk berkuasa telah menutup hati dan perasaannya. Pemimpin dalam sistem demokrasi sudah mati rasa atas penderitaan dan jeritan rakyat yang ingin sebuah keadilan dan perubahan yang lebih baik. Aspirasi rakyat tidak lagi penting saat kemenangan sudah pada genggaman tangan. Dia tidak akan mau melepaskannya meskipun harus mengorbankan rakyatnya.

Baca Juga: Masa Depan Bangsa Setelah Pengumuman KPU

Rakyat ditipu. Ternyata, yang menentukan bukan suara rakyat tapi tangan-tangan yang menginput data dan merekap suara mereka. Entah karena kelelahan sehingga salah masukkan angka atau memang disengaja, hanya Allah yang tahu. Yang jelas, rakyat sudah mencium bau kecurang mulai dari pra-pemilu, proses pemilihan di TPS sampai dengan penghitungan suara, menginput data, sampai rekapitulasi hasil suara pemilu. Sungguh memilukan, baru kali ini pemilu menelan banyak korban hanya karena memenuhi ambisi penguasa yang ingin mempertahankan kursi kekuasaannya.

Pemimpin dalam sistem demokrasi lupa mengurusi rakyatnya karena disibukkan dengan ambisinya untuk bisa berkuasa lagi. Kekuasaan menjadi perhatian utamanya bukan urusan rakyat. Bila perlu, rakyat dikorbankan untuk memenuhi ambisi politiknya untuk bisa terus berkuasa. Dia tidak peduli jika harus dibenci dan bermusuhan dengan rakyatnya. Rakyat disuruh bungkam atau masuk penjara bagi yang mengancam kekuasaannya.

Itulah gambaran kepemimpinan dalam sistem demokrasi yang menjadikan rakyat sebagai tumbal untuk kepentingan politiknya. Ambisi untuk berkuasa lebih kuat dari keinginan untuk mengurusi rakyat. Jadi, pemimpin dalam sistem demokrasi tidak pernah dekat dengan rakyat. Mereka mendekat dengan rakyat hanya menjelang pemilu demi mengambil simpati rakyat agar mau memilihnya kembali. Tapi, semuanya yang dilakukan hanyalah pencitraan yang penuh dengan kepura-puraan. Rakyat semakin cerdas tidak mau tertipu dengan wajah lugu yang suka menipu.

Sangat berbeda sistem kepemimpinan dalam Islam yang tujuan berpolitiknya adalah mengurusi urusan rakyat. Rakyat menjadi skala prioritas. Dia sangat takut jika ada rakyat yang terzolimi dan diberlakukan tidak adil. Dia sangat mendengar aspirasi rakyat dan bertindak cepat untuk memenuhi tuntutan rakyat.

Rakyat merasa aman karena bebas menyampaikan kritik pada penguasa tanpa ada tekanan dan ancaman akan dapat hukuman. Terpenuhinya seluruh kebutuhan rakyat adalah tujuan utama selama dia memimpin karena setiap langkah kepemimpinannya pasti dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah.

Sungguh, kita merindukan kepemimpinan dalam Islam yang mencintai dan selalu mendoakan kebaikan untuk rakyatnya. Mereka saling mencintai sehingga kedamaian bisa terwujud. Pemimpin melindungi dan membela rakyatnya. Negara akan benar-benar terbebas dari intervensi asing karena rakyat mendukung sepenuhnya untuk bisa bebas dan merdeka mengelola negeri yang kaya raya ini.

Pasti hidup rakyat sejahtera, rasa aman terjamin, dan keadilan bisa terjaga. Tentunya, hanya dengan menerapkan Islam secara kaffah impian itu bisa terwujud. [MO/ms]

Posting Komentar