Oleh : Nasrudin Joha

Mediaoposisi.com-Beredar kabar melalui juru bicara rezim divisi menpolhukam, melarang rakyat untuk merayakan kemenangan perubahan sekaligus merayakan kejatuhan rezim. Wiranto berdalih pada UU, bahwa kegiatan ini itu butuh izin. Perayaan kemenangan wajib menunggu KPU, mau menunggu keputusan kemenangan di edit KPU ?

Kepanikan ini menjalar, setelah sebelumnya umat akan membuat Mahkamah Rakyat, dengan menggelar hajatan 'People Power' untuk menghukum kecurangan jika rezim memaksa mengambil methode ini untuk melanggengkan kekuasaan. Umat sudah paham, membawa kecurangan politik ke MK sama saja mengubur harapan politik yang dicederai oleh rezim.

Kapolri dan para pengamat bayaran, telah membuat Framing untuk mengkanalisasi aspirasi umat agar tersalurkan ke MK. Artinya, sudah ada potensi curang dan rezim mendorong aspirasi umat pada kuburan politik di MK.

Sementara itu, umat sudah paham jalan apa yang akan ditempuh. Umat telah membuat serangkaian tindakan antisipasi, jika suara umat yang menghendaki perubahan berusaha dibungkam oleh alat negara yang telah beralih fungsi menjadi alat kekuasaan.

Perayaan kemenangan umat, sangat wajar dilakukan agar otoritas pemilihan tidak mengubah seremoni kemenangan umat menjadi seremoni melanggengkan kekuasaan rezim. Apalagi dengan sarana informasi yang ada, umat dapat mengetahui secara lebih cepat dan lebih tepat kabar kemenangan umat dan hari kejatuhan rezim, jauh sebelum pengumuman dari otoritas lembaga pemilihan.

Karena itu wahai umat, jangan pernah takut dengan ancaman rezim yang berlindung dibalik jubah konstitusi. Setiap warga negara, memiliki kedudukan yang sama dimuka hukum, dan memiliki hak dan kebebasan untuk berserikat, berkumpul dan menyatakan pendapat. Menyatakan seremoni aspirasi kemenangan dijamin konstitusi.

Sejak sekarang kuatkan barisan umat, siapkan podium dan mimbar-mimbar orasi kemenangan, untuk memagari rencana curang rezim, yang mungkin saja telah dirancang secara sempurna.

Indikasi curang itu menguat, setelah secara nyata rezim mustahil memenangkan kontestasi secara alami. Rezim berusaha mengais elektabilitas hingga ke tanah suci, namun itu tak mampu menutup hakekat boroknya wajah rezim, sehingga umat tetap tidak terpikat dengan rayuan dan tipu daya rezim.

Sejak saat ini menabunglah, siapkan bekal. Kita akan rayakan kemenangan dan syukuran atas kejatuhan rezim, bersama elegi romantisme 212 di Jakarta.

Tunggu komando ulama, patuhi perintah ulama, sementara ocehan Wiranto cukuplah untuk dikesampingkan. Aura kemenangan dan perubahan itu telan nampak jelas didepan mata.

Sementara, jeritan kesakitan dan keluhan atas kekalahan rezim sayup-sayup semakin keras terdengar. Tuntaskan misi politik ini dengan mengantar jasad rezim hingga di tempat peristirahatan yang terakhir. Diatas nisan rezim, kelak kita akan tuliskan "di kuburan ini, terbaring rezim represif anti Islam". Wahai umat, tetaplah berjuang. Allahu akbar ! [MO/vp].

Posting Komentar