Oleh: Betha Vanglos
(Penikmat Literasi)

Mediaoposisi|Redaksi.com-Semangat umat muslim dalam kanca perpolitikan Indonesia tidak lagi diragukan, kontribusi terhadap Indonesia sangatlah besar. Mulai dari merebut kemerdekaan sampai dengan kontestan Pilpres 2019.

Berbagai upaya dan daya dikorbankan umat muslim untuk pasangan Prabowo-Sandi. Mulai dari tenaga sampai dengan materi

Dalam berbagai kesempatan, pasangan calon presiden urut 2 mendapatakan sumbangan dari berbagai elemen masyarakat khususnya umat muslim

Prabowo saat orasi di Gelora Bung Karno mendapat sumbangan materi yang luar biasa dari para pendukungnya

Tiba-tiba, ketika sedang berorasi ada masyarakat yang naik ke panggung membawa kantong plastik berisi uang yang disambut oleh Ketua Presidium 212 Ustaz Yusuf Martak.

"Ini keikhlasan dari hamba Allah yang hadir semua disini, uang dua plastik dari jamaah," kata Yusuf.

Lalu, Prabowo menerima menerima plastik tersebut sambil berpelukan dengan seorang bapak yang membawa kantong plastik tersebut. Bahkan, peserta yang lain juga berebut untuk menyisihkan uangnya.

Memang tidak bisa dipungkiri bahwa barisan pendukung Prabowo adalah umat muslim. Oleh karna itu Prabowo punya hutang budi dengan umat muslim.

Selain fenomena baju putih yang dikenakan oleh pendukung dan barisan aliaansi umat muslim ternyata ada yang lebih menarik dari kubu 01

Setelah kampanye, kubu Jokowi ada yang mengkaim bahwa kampanye Prabowo di GBK adalah adalah pendukung Jokowi

Akun facebook bernama Winarto Larto membagikan gambar kondisi kampanye 02 di GBK lalu menuliskan caption di branda facebooknya dengan kalimat, "Luar Biasa Kampanye Jokowi dan Ma'ruf Amin. Dengan mamakai baju putih-putih memeuhi stadion sepakbola" tulisnya diakun media sosialnya.

Berbagai reaksi pun terlihat  dari netizen, gambar ini sudah dibagikan sebanyak 244 kali, 882 komentar dan 298 like.

                                      (Keadaan Kampanye di GBK)

Selain kubunya yang suka klaim ternyata Jokowi pun suka mengklaim sesuatu dari pasangan Prabowo-Sandi

Kasus yang paling hoboh dan spektakuler adalah pembangunan jalan tol trans Jawa yang selalui dimonotais oleh Jokowi sebagai prestasi.

Suhendra menilai keberhasilan pemerintahan Jokowi membangun jalan tol Trans Jawa hanyalah klaim sepihak. Klaim itu telah mengecilkan prestasi pemerintahan-pemerintahan sebelumnya.

"Ini pendapat Basuki Hadimuljono sangat ngawur. Mengecilkan prestasi pemerintahan-pemerintahan sebelumnya. Ini harus dikoreksi agar publik mengetahui fakta yang sebenarnya," kata Suhendra dalam keterangannya, Kamis (20/12/2018).

Suhendra menjelaskan, sejak kurun waktu 1995-1997, pemerintahan Soeharto melakukan upaya percepatan pembangunan jalan tol 19 ruas sepanjang 762 km yang di dalamnya terdapat ruas Trans Jawa. Namun pembangunan 19 ruas jalan tol ditunda akibat kisis moneter.

Upaya percepatan pembangunan jalan tol digiatkan kembali melalui Keputusan Presiden 7/1998 tentang Kerjasama Pemerintah dan Swasta dalam penyedian infrastruktur.[MO/ad]

Posting Komentar