Oleh: Itsnaini Afrida 
(Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta)

Mediaoposisi.com-Pemilihan presiden akan dilaksanakan pada tanggal 17 April 2019 serentak mulai dari Sabang sampai Merauke. Berbagai wilayah di Indonesia sudah mempersiapkan diri untuk pesta demokrasi dengan memasang atribut-atribut partai dan foto masing-masing calon presiden.

Segala cara dilakukan pleh masing-masing calon presiden dan wakil presiden untuk memenagkan hati masyarakat Indonesia memasang iklan mulai dari layar bioskop, televisi, iklan di sosial media, pamflet dan baliho dengan ukuran besar.

Dalam pemilihan presiden tahun ini Jokowi Dodo mencalonkan kembali menjadi presiden untuk periode 2019-2024. Terdapat berbagai fakta yang menyebar di sosial media terutama Instagram dan Facebook yang mengungkapkan fakta calon petahana tidak mau mudur dalam posisinya menjadi presiden atau mengambil cuti selama masa kampanye

Penggunaan fasilitas negara dalam kampanye yang seharusnya hanya digunakan untuk kepentingan rakyat, produksi kaos secara besar-besaran, dan memberikan hadiah atau bingkisan kepada masyarakat berupa sarung, sembako, sabun cuci piring, nasi bungkus bahkan sejumlah uang.

Bahkan partai yang berkoalisi berlomba-lomba merebut hati umat muslim melalui pesantren-pesantren dengan berkunjung kepada pemimpin pesantren dan meminta dukungan pada calon presiden yang mereka usung.

Demokrasi merupakan anak buah dari ideologi Liberialisme yang memisahkan agama dengan kehidupan.

Sudah terbukti rusaknya demokrasi telah dirasakan oleh setiap masyarakat di Indonesia bahkan seluruh dunia misalnya, kelaparan, kemiskinan, kebodohan, mahalnya bahan-bahan rumah tangga, hilangnya moral generasi bangsa, kemaksiatan semakin menyebar dan yang paling memprihatinkan adalah hilangnya Aqidah di dalam jiwa umat Muslim sehingga agama hanya ritual peribadatan.

Agama berlaku untuk individu dan hanya digunakan dalam perihal ibadah di masjid, pernikahan, puasa dan haji. Islam tidak diterapkan dalam setiap lini kehidupan sehingga kesejahteraan dan kemakmuran tidak dapat dirasakan setiap insan.

Islam mengatur pemimpin atas kebutuhan rakyat bukan untuk berlomba-lomba dalam mencari dukungan untuk mempertahankan posisi sebagai kepala negara.

Pemimpin dipilih untuk mengurusi berbagai problematika umat bukan untuk mencari kekuasaan sehingga lupa akan janji-janji yang telah diucapkan kepada masyarakat.

Tugas dan tanggung jawab pemimpin dalam Islam sangat besar dengan kekuasannya ia dapat mendakwahkan Islam kepada rakyatnya, membuat aturan sesuai wahyu Allah yaitu Al-Qur’an dan Hadits bukan hukum manusia, melawan kekuatan asing yang ingin menghancurkan umat Islam dengan kekuatannya sehingga setiap jiwa terlindungi.

Masyarakat membutuhkan sosok pemimpin yang peduli dengan Islam yang akan meninggikan agama Allah, memberlakukan peraturan sesuai dengan Al-Qur’an dan hadits, memberikan kesejahteraan bagi masyarakat, mengelola kekayaan alam dengan kekuatan negara tanpa membutuhkan kekuatan aseng sehingga keuntungan diberikan kepada rakyat.

Sehingga tidak akan ada lagi kesenjangan masyarakat, tidak akan ada lagi kemiskinan, kebodohan, kerusakan-kerusakan moral dan setiap insan akan merasakan keindahan Islam.[MO/ad]

Posting Komentar