Gambar: Ilustrasi
Oleh: Kartika

Mediaoposisi.com-Perang antar pelajar menjadi budaya di kalangan para pelajar. Dari sekian para pelajar, mereka membawa senjata tajam saat tawuran hingga memakan korban jiwa.

Pelajar adalah orang yang menuntut ilmu untuk dirinya maupun kehidupan sehari harinya. Saat ini, mereka adalah bagian dari masa transisi. Mereka belajar bukan dari sejarah kehidupan nyata melainkan belajar dari tontonan dan tokohnya pun fiktif yang diadopsi dari dunia Barat.

Ditamabah lagi, pelajaran agama Islam yang membahas tentang fungsi belajar sejarah perang dikurangi dan hampir ditiadakan. Pelajaran agama Islam yang membahas sejarah perang dalam sejarah nabi dapat membuat mata dan hati kita terbuka terhadap ibrah sejarah perang dan perjuangnan masa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam.

Perang besar pernah terjadi di masa para nabi seperti perang Uhud, perang Tabuk, dan perang Badar. Bukanlah perang yang didasari nafsu dan kepenting duniawi serta membuat para pemuda menjadi radikalisme.

Ada sebagian agama dan aliran kepercayaan yang menolak kalau sejarah perang dianggap mengajarkan peperangan, meskipun faktanya mereka melakukan peperangan dengan cara yang sangat sadis.

Sementara agama Islam menyatakan perang secara jujur dan termaktub dalam fikihnya. Keniscayaan perang ditata dan diatur dalam Islam dengan penuh kebijaksanaan dan kemuliaan. Islam mengajarkan perang yang penuh adab dan berakhlak. Allah berfirman,

“Diwajibkanya atas kamu berperang , padahal berperang itu adalah suatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu. Dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 21)

Sekulerisme sangat jelas merusak Islam. Terbukti dari tontonan yang berbau peperangan dilegalkan dan mengurangi porsi sejarah perang para nabi dalam pendidikan agama Islam.

Secara tidak langsung dengan dihilangkannya sejarah perang dalam pendidikan agama Islam, sama saja kita menghapus ayat ayat Al Quran tentang perang.Islam mengajarkan perang yang terangkai dalam sejarah perang Uhud, Tambuk dan Badar itu bernilai ibadah. Bukan membatai, membunuh secara membabi buta, penuh dendam, dan disertai kedzaliman.

Sedang film pendek, sinetron, maupun game yang ditayangkan di televisi maupun di gadget ialah sebuah tontonan yang sangat mudah mempengaruhi para pemuda.

Ketika aturan Islam diterapkan di tengah permasalahan umat yang terjadi sekarang ini, kekuawatiran terhadap kurikulum sejarah perang dapat membuat hati dan mata kita terbuka pada islam yang mengajarkan perang yang berkonsekuensi hidup mulia atau wafat jemput syahadah, bukan kemenangan yang menindas dan kekalahan yang hina. [MO/ms]

Posting Komentar