Oleh: Naila Rahma Firdausi

Mediaoposisi.com-“Dan barang siapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah Jahanam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya.” (QS. An Nisa’: 93)

“Hancurnya dunia lebih ringan di sisi Allah dibandingkan terbunuhnya seorang muslim.” (HR. An-Nasa’i[VII/82] dan At-Tirmidzi no. 1395, dishahihkan oleh Syaikh Albani)

Hari ini untuk kesekian kalinya kita melihat darah umat ini terus tertumpah tanpa ada pembelaan apalagi penjagaan. Setelah penembakan keji yang menghilangkan nyawa 50 orang di dua masjid di New Zealand pada hari Jum’at 15 Maret 2019 lalu, selang satu minggu satu hari setelahnya kembali umat ini menangis karena peristiwa pembantaian di Mali.

Dengan dalih menumpas teroris, 157 nyawa melayang dengan begitu murahnya. Tak hanya orang dewasa, tetapi juga anak-anak turut menjadi korban pembantaian keji ini. Wanita dan para lansia pun tak luput dari kekejaman para pembantai pendukung militer dan pemerintah Mali.

Dua peristiwa ini bukan yang pertama dan yang terakhir kalinya terjadi. Belumlah kering luka ini karena penderitaan saudara-saudara kita di Palestina, Suriah, Rohingya, Uighur yang telah mengalami kezaliman luar biasa selama bertahun-tahun bahkan puluhan tahun.

Belum lagi saudara-saudara kita di belahan dunia lain yang mungkin tak terekspose di media atau sengaja disembunyikan dari mata dunia.

Terhina, tertindas, terlecehkan, teraniaya hingga kehilangan nyawa dengan begitu kejamnya. Tak ada yang menjaga dan tak ada yang melindungi. Maafkan kami saudaraku. Maafkan kami yang tak mampu membelamu.

Maafkan kami yang tak kuasa menghalau segala penderitaanmu. Maafkan kami yang tak kuat melawan tangan-tangan keji mereka yang membantai kalian.

Maafkan para penguasa kami yang hanya sanggup mengecam sebagai basa basi agar terlihat seolah masih peduli. Maafkan para penguasa kami yang tak mampu berbuat apa-apa selain hanya bicara, berunding tanpa jelas sementara kalian tengah meregang nyawa.

Anak-anak kalian tengah menangis menahan sakitnya luka di sekujur tubuh tanpa tahu apa kesalahan mereka. Para ibu yang teramat pilu hingga mengering air mata karena kehilangan buah hati dan kehormatannya begitu rupa tanpa belas kasihan. Maafkan, sungguh maafkan.

Kami tak diam saja melihat kalian terus menderita teraniaya begitu rupa. Namun kami juga belum sanggup mengerahkan tentara kami yang gagah perkasa untuk menghalau musuh kita bersama. Suara kami masih belum begitu jelas didengar oleh para pemimpin kami untuk menghentikan mereka bekerja sama dengan para musuh dan bersegera menolong kalian.

Teriakan kami kurang nyaring untuk membangunkan mereka yang tengah tertidur terbuai alunan senandung nasionalisme dalam orkestra kapitalisme-sekulerisme.

Kami disini hanya sanggup mengabarkan melalui tangan-tangan lemah kami dengan harapan dunia mau menoleh dan berbuat sesuatu. Kami hanya sanggup berbicara dengan suara lirih kami, mengingatkan kepada para pemimpin kami agar mau tegas bersikap, mengambil langkah berani yang seharusnya sudah mereka lakukan sejak dulu.

Agar para pemimpin kami mau memutus segala belenggu dunia yang mengikat kaki dan tengan mereka dari menolong kalian yang terdzalimi. Kami hanya sanggup berbuat disini dengan segenap keterbatasan akibat sekat nasionalisme yang terus mengungkung kami sejak lahir.

Kami hanya sanggup seperti ini sambil tak putus berdoa dan terus berharap akan datang pertolonganNya segera.

Tiadanya junnah itulah yang membuat umat terus susah. Tiadanya perisai itulah yang membuat umat terus tercerai berai. Tiadanya pelindung itulah yang membuat kedzaliman itu tak mampu dibendung. Tiadanya khilafah itulah yang membuat musuh terus menjajah dengan pongah.

Melancarkan segala agenda busuk mereka dengan bantuan penguasa boneka di negeri-negeri Islam dengan beragam topengnya. Tanpa peduli dengan kehidupan sulit yang menghimpit rakyatnya sendiri. Asal tuannya senang dan ia mendapat fulus sebagai imbalan telah melaksanakan perintahnya. Cukup sudah.

Biarkan saja umat menjerit kesakitan. Abaikan saja ratapan mereka yang mengais-ngais menghiba pertolongan. Tak melihat darah umat yang terus tertumpah dengan begitu mudahnya. Tak peduli nyawa umat ini terus melayang dengan begitu murahnya. Atas nama uang dan jabatan semua tak penting.

Padahal dengan adanya khilafah, umat ini akan terayomi seluruhnya. Dengan adanya seorang khalifah umat akan terpelihara segala urusannya, lahir dan batinnya. Dengan adanya imam atau pemimpin umat akan dapat bersatu laksana satu tubuh yang saling menopang dan saling menguatkan.

Tak akan mudah lemah dan goyah, apalagi roboh. Karena: “Sesungguhnya seorang imam adalah perisai, orang-orang berperang dari belakangnya dan menjadikannya pelindung, maka jika ia memerintahkan ketakwaan kepada Allah ‘azza wa jalla dan berlaku adil, baginya terdapat pahala dan jika ia memerintahkan yang selainnya maka ia harus bertanggungjawab atasnya” (HR. al-Bukhari, Muslim, an-Nasai dan Ahmad).

Al-imâm atau khalifah itu yang akan menjadikan umat Islam memiliki junnah atau perisai sebagai pelindung dari berbagai marabahaya, keburukan, kemudaratan, kezaliman, dan sejenisnya. Imam atau khalifah itu yang akan memberikan rasa aman atas urusan dunia dan agamanya.

Mencegah dan menghentikan segala penyimpangan akibat dari serangan musuh-musuh Islam baik itu dari kalangan kafir ataupun dari kalangan orang-orang munafik. Kewajiban seorang imam/khalifah juga memerintahkan umat untuk menaati Allah dan Rasul-Nya serta mengatur (memerintah) mereka dengan adil dan berhukum hanya dengan hukum Allah ‘Azza wa Jalla.

Sungguh, bersabarlah sedikit lagi. Meski sangat tak pantas kami katakan itu kepada kalian yang tengah meregang nyawa di ujung senapan tentara kafir. Namun, itulah kenyataannya. Hanya satu yang bisa kami pastikan pada kalian, saudara-saudari muslim dimana pun berada, bahwa kami tak tinggal diam.

Kami terus berjuang dengan segenap kemampuan kami yang ada. Mempercepat pertolongan itu tiba, meski tak tahu seberapa cepat langkah kami kesana. Namun kami tak akan berhenti melangkah sampai fajar kemenangan itu nampak. Fajar Khilafah yang dirindukan.

Posting Komentar