Gambar: Ilustrasi
Oleh: Supiani
(Member Forum Muslimah Peduli Umat, Serdang Bedagai)

Mediaoposisi.com-Belum lama ini, akun youtube Watchdoc Image telah mengunggah sebuah film dokumenter bertajuk Sexy Killers. Film yang diunggah 13 April 2019 itu telah ditonton 19.025.406 kali per 23 April 2019. Film ini menceritakan, industri batubara dari hulu ke hilir, dari pengerukan tambang, distribusi, sampai penggunaan batubara buat PLTU yang menimbulkan banyak masalah lingkungan, sosial, ekonomi sampai kesehatan masyarakat. Dokumenter merekam, penderitaan warga dampak hidup berdekatan dengan tambang maupun PLTU batubara. (mongabai.co.id, 16/04/19)

Dilansir dari news.antara.com (25/01/18), sebuah artikel bertajuk “Mengungkap potensi Kekayaan Sumber Daya Energi dan Mineral di Indonesia” menjelaskan, betapa kayanya negeri yang terkenal dengan keramahtamahannya ini. Karena sumber daya mineral belum dimanfaatkan secara maksimal maka cadangan mineral di negeri ini pun tetaplah masih berlimpah.

Salah satu sumber daya alam yang melimpah di Indonesia berdasarkan dokumenter Sexy Killers ialah batubara. Berdasarkan data 2015, Kementerian Energi Sumber Daya Alam dan Mineral menyatakan bahwa cadangan batubara Indonesia berlimpah dengan total cadangan 32 miliar ton yang terbukti sedangkan yang terkira mencapai angka 74 miliar ton. (news.antara.com, 25/01/19).

Namun, keberlimpahan batubara di Indonesia seolah tak diamini oleh Direktur Pembinaan Program Mineral dan Batubara. Kementerian ESDM Muhammad Wafid mengatakan, Indonesia bukan negara yang kaya cadangan batu bara (detikfinance, 12/09/18)

Indonesia, Gadis Cantik Penarik Investor
Jika menonton film Sexy Killers dari awal hingga akhir, kita akan menemukan fakta mengerikan yang sedang menjerat sumber daya alam Indonesia. Kekayaan sumber daya alam yang kita miliki nyatanya tak hanya mengalirkan cahaya ke rumah-rumah kita akibat adanya listrik. Namun, juga menunjukkan kepada kita gelapnya masa depan Indonesia jika sumber daya alamnya terus dikeruk.

Bahkan, kekayaan Indonesia dapat diibaratkan tumbal demi menarik para investor. Indonesia sebagai negara dengan kepemilikan kekayaan yang terbilang besar dibanding negara-negara lain di dunia, dimana kontribusi emas Indonesia bahkan mencapai 39% cadangan dunia, mampu menduduki posisi nomor dua di bawah Cina. Hal ini pun menarik perhatian kaum jetset kapitalis yang mampu melihat peluang besar untuk mendapatkan keuntungan dari potensi Indonesia.

Adi Maryonodi, Praktisi Ekplorasi Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) dalam acara Sejarah dan Manfaat Investasi Asing di Sektor Pertambangan (Jakarta, 15/05/19) berujar, “Orang akan lihat Indonesia segitu besar potensinya. Dimana negara kita cukup cantik di mata investor, companies.” Bahkan, di akhir artikel yang dirilis Kompas.com (15/05/19) ditutup dengan kalimat dari orang yang sama, “Tanpa eksplorasi, kita tidak tahu potensial kita seberapa besar.”

Namun di balik keelokan yang ditampilkan oleh negeri Rayuan Pulau Kelapa ini, jelas ada begitu banyak polemik yang terus menggurita. Misalnya saja, peristiwa pilu yang dialami Aprilia Wulandari (13) dan Ardi bin Hisyam (11). Mereka harus meregang nyawa akibat tenggelam dalam danau (kubangan air) akibat pengerukan bekas lubang tambang yang ada di dekat rumah mereka (harnas.co, 22/11/16). Bahkan di menit ke 12, Sexy Killers menyatakan, antara 2011 sampai dengan 2018 setidaknya tercatat 32 jiwa melayang akibat tenggelam di lubang bekas tambang. Dan itu hanya untuk wilayah Kalimantan Timur.

Belum lagi rusaknya kawasan lahan pertanian yang ada di sekitar wilayah pertambangan. Kemudian, Rusaknya terumbu karang akibat dilewati tongkang-tongkang pengangkut batubara. Meningkatnya penderita penyakit gangguan pernafasan. Juga lain sebagainya.

Hal ini jelas memberikan rasa pedih di hati rakyat Indonesia. Ketika mereka kesusahan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, ada pihak-pihak yang justru menambah kesusahan bagi hidup mereka. Ketika perusahaan-perusahaan tambang dikelola penguasa, justru mereka seolah tutup mata dengan fakta yang terpampang nyata.

Eksplorasi atau Eksploitasi
Menurut Wikipedia, Eksplorasi disebut juga penjelajahan atau pencarian, adalah tindakan mencari atau melakukan penjelajahan dengan tujuan menemukan sesuatu; misalnya daerah tak dikenal, termasuk antariksa (penjelajahan angkasa), minyak bumi (eksplorasi minyak bumi), gas alam, batubara, mineral, gua, air, ataupun informasi.

Sedangkan Eksploitasi berarti politik pemanfaatan secara sewenang-wenang atau berlebihan terhadap objek eksploitasi hanya demi kepentingan ekonomi semata tanpa mempertimbangkan rasa kepatutan, keadilan, serta kompensasi kesejahteraan.

Menilik dua kata tersebut, kata manakah yang mampu menginterpretasikan kondisi tambang Indonesia? Jelas bukan Eksplorasi jawabannya. Sebab SDA berlimpah yang dimiliki Indonesia nyatanya bukanlah digunakan untuk kepentingan rakyat. Namun, dirampas oleh tangan-tangan pengusaha yang dilegalkan oleh penguasa.

Alih-alih mengeksplorasi, tambang Indonesia bak mesin penghancur ketahanan ekonomi negara. Sebab, swastanisasi oleh kapitalis jelas tak menguntungkan bagi rakyat. Apalagi, muncul indikasi penyumbatan aliran informasi betapa kayanya negeri ini dari apa yang disampaikan oleh Direktur Pembinaan Program Mineral dan Batubara Kementerian ESDM, Muhammad Wafid. Dalam acara Mining & Engineering Indonesia 2018 di JI-Expo Kemayoran, Jakarta, Rabu (12/09/18) beliau mengatakan, “Indonesia bukan negara dengan batubara yang melimpah. Walaupun saat ini merupaka eksportir batubara terbesar di dunia, cadangan hanya untuk 2% dari total cadangan di seluruh dunia.” (detikfinance, 12/09/18)

Hal ini jelas menimbulkan tanda tanya besar. Seolah Direktur Pembinaan Program Mineral dan Batubara Kementerian ESDM mencoba memutarbalikkan fakta yang sebenarnya. Beliau seolah berusaha memusatkan opini bahwa Indonesia tidak sekaya yang digadang-gadang banyak orang. Namun, hal ini pun seolah menjadi paradoks. Bagaimana mungkin jika kita tidak kaya namun kita berani mengekspor batubara?! Dimana masih banyak wilayah di negeri ini yang membutuhkan batubara terutama bagi ketersediaan listrik.

Ironi Negeri Kaya yang Dieksploitasi
Upaya eksplorasi hanyalah kedok. Kamuflase atas aktivitas yang sebenarnya, yaitu eksploitasi. Dan ironinya, ini terus berkelanjutan seolah tak pernah menemukan penyelesaian. Hal ini disebabkan pengelolaan SDA dalam sistem politik demokrasi dan sistem ekonomi kapitalisme yang dikendalikan oleh korporasi. Akibatnya, lingkungan menjadi rusak dan penderitaan pun bermunculan.

Ada beberapa hikmah dalam tayangan Sexy Killers. Diantaranya ialah, pertama, upaya menghemat penggunaan listrik. Kedua, kepedulian lingkungan seperti yang dilakukan oleh aktivis Greenpeace yang mengusir kapal tongkang pengangkut batubara.

Namun pada dasarnya, kedua solusi di atas tak mampu mengakhiri legalisasi eksploitasi SDA Indonesia yang dilakoni pengusaha kapitalis. Sebab sejatinya, sistem negeri ini menjadikan penguasa sebagai lembaga pembuka keran eksploitasi tersebut. Oleh karena itu, dibutuhkan sebuah sistem yang mampu membentengi hal tersebut berlanjut bahkan kembali menjadikan sumber daya alam sebagai penjaga kesejahteraan rakyat.

Sebagai negeri dengan mayoritas kependudukan Muslim terbesar di dunia, menjadikan Islam sebagai dasar bagi tiap keputusan adalah sebuah keharusan. Menjadikan Allah dan Rasul-Nya sebagai rujukan legitimasi atas segala sesuatu.

Allah berfirman dalam Surah an-Nisaa’ ayat 65:
“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.”

Oleh karenanya, kita telah berada dalam kekeliruan besar. Menyerahkan pembuatan hukum kepada manusia yang jelas terbatas akalnya. Terlebih lagi, jika para penguasa sejatinya adalah tangan-tangan bagi legalisasi kekuasaan kapitalis atas Indonesia. Pengusaha dan penguasa sejatinya bekerja sama demi keuntungan semata di balik kedok eksplorasi SDA.

Sejatinya, pengelolaan SDA haruslah dilakukan oleh negara dan demi kesejahteraan rakyat. Bukan malah menjadi ajang penebal kantong para konglomerat yang akhirnya menjadikan rakyat kian melarat.

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda:
“Manusia berserikat dalam 3 hal: padang rumput, air dan api. Berserikat artinya memiliki bersama.” (HR. Imam Ahmad, Ibnu Majah dan Abu Daud).

Berdasarkan hadist di atas, maka sudah sepatutnya kita kembali kepada penerapan hukum sesuai dengan kaidah syara’. Terlebih lagi fakta menunjukkan, Indonesia berkependudukan mayoritas Muslim dimana perasaan dan ghirah mereka jelas masih tampak kental pada individu-individunya.

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al-A’raf: 96) [MO/ms]

Posting Komentar