Oleh: Ummu Zhafira 
(Member Akademi Menulis Kreatif)

Mediaoposisi.com-Lagi-lagi kasus pembunuhan yang sangat memilukan terjadi di kabupaten Bekasi. Seperti dilansir oleh radarbekasi.id (8/3/2019), bahwa telah terjadi pembunuhan yang dilakukan oleh seorang suami (S/27) kepada istrinya (N/29) di sebuah rumah di Kampung Gebang Malang, Desa Sinarjaya, Serang Baru, Kabupaten Bekasi (4/3) lalu.

Kasus ini terungkap saat ada seorang warga yang mencium bau busuk dari dalam rumah korban. Kemudian warga bersama Kepala Desa Sinarjaya, Ayoh Suryanto langsung mendatanginya. Dan kemudian melaporkan kejadian kepada pihak kepolisian.

Setelah polisi melakukan penginterogasian terhadap suami korban, akhirnya diketahui bahwa dialah pelakunya. Istri yang telah memberikannya seorang anak berusia 4 tahun itu, tega dibunuh lantaran sakit hati karena ia sering dihina. Selain itu, juga ada api kecemburuan karena sang istri ketahuan berkomunikasi dengan pria lain.

Kejadian mengerikan seperti ini bukan kali pertama terjadi. Kasus-kasus serupa telah biasa menjadi asupan kita saban harinya. Seperti tahun 2017 lalu, saat warga Karawang dihebohkan dengan kasus mutilasi yang dilakukan oleh seorang suami berinisial MK kepada istrinya, Nindya.

Sehari setelah menghabisi nyawa sang istri, MK kemudian memutilasi tubuh perempuan yang dulu pernah dicintainya. Berbekal golok, plastik hitam besar dan tas belanja yang dibelinya, MK melancarkan aksi biadabnya.

Apakah yang menyebabkan semua ini bisa terjadi? Ketidakharmonisan di dalam bangunan rumah tangga menjadi alasan utama kasus-kasus mengerikan tersebut berkelindan dalam kehidupan masyarakat hari ini. Seorang suami yang seharusnya menjadi pelindung bagi anggota keluarga, justru berubah menjadi seekor singa buas yang kelaparan. Siap mencabik-cabik kemuliaan bahkan memangsa anak ataupun istrinya tanpa belas kasihan.

Sistem kapitalis-liberal telah mengangkangi peradaban dunia hari ini. Menjadikan manusia sebagai seorang penghamba materi. Memuja kebahagiaan semu. Banyaknya harta sebagai ukuran. Segala keinginan haruslah diwujudkan. Tanpa melihat norma-norma yang ada. Apalagi mempertimbangkan kehalalan dan keharamannya.

Sedangkan kita tahu bahwa sistem ekonomi yang berjalan di negeri ini pun tidak bersahabat kepada masyarakat. Kebutuhan yang semakin sulit dijangkau. Kenaikan harga hampir pada semua kebutuhan pokok.

Harga BBM dan tarif dasar listrik dinaikkan penguasa. Biaya pendidikan dan kesehatan melambung tinggi. Hanya bisa dinikmati segelintir kalangan berada. Sedangkan BPJS, sampai saat ini saja tak mampu menyelesaikan masalahnya. Justru semakin membebani rakyatnya dengan sistem urun terbarunya.

Bagaimana masyarakat tak pusing dibuatnya. Kalau semua beban hidup sulit membelit hingga kewarasan itu sering hilang dari akal mereka.

Terutama bagi para suami yang memiliki tanggungjawab untuk menafkahi keluarga. Tak jarang seorang istripun bisa gelap mata. Karena kondisi perekonomian sulit yang mendera, mereka tega melakukan tindak aniaya terhadap anggota keluarga.

Sistem liberal yang diadopsi hari ini telah membuat fitrah manusia tercerabut dari dalam dirinya. Tak terkecuali umat muslim. Sesungguhnya Allah mengaruniai potensi kehidupan. Berupa kebutuhan jasmani, naluri-naluri juga potensi akal sebagai keistimewaannya dibandingkan makhluk yang lain. Ada rasa kasih sayang diantara keluarga.

Suami menjaga kehormatan istri juga anak-anaknya. Begitu juga sebaliknya. Istri penuh kasih sayang merawat dan mendidik anak. Patuh dan taat kepada sang suami. Karena keridaan suaminya, merupakan jalan menuju surga bagi dirinya.

Keharmonisan tersebut tercipta karena ada rasa kasih diantara mereka. Hal ini merupakan bagian dari perwujudan eksistensi naluri melestarikan jenis. Akan tetapi kita lihat hari ini. Naluri itu bak ditelan bumi. Manusia sering kehilangan akal sehatnya. Seharusnya menjaga, malah justru membuat orang tercinta celaka. Nauzubillah.

Islam beserta seperangkat aturannya, mampu mengembalikan keselarasan hidup di dalam biduk rumah tangga. Melalui sistem pendidikan, setiap individu masyakarat dibina agar memahami tujuan dalam hidupnya. Beribadah hanya kepada Sang Pencipta.

Meyakini bahwa akan ada hari pembalasan. Setiap perbuatan ada konsekuensinya. Sehingga mereka tak akan mudah terjerumus dalam kubang maksiat. Meski dalam kondisi yang menjerat.

Negara wajib memastikan terpenuhinya setiap kebutuhan primer masyarakat. Bahkan mendorong mereka agar mampu memenuhi kebutuhan sekundernya. Ada upaya-upaya yang dilakukan agar masyarakat bisa dan mau bekerja. Tersebab bagian dari tanggung jawabnya.

Menyediakan lapangan pekerjaan. Mendorong mereka untuk bisa mandiri dengan dunia perdagangan yang diperbolehkan. Memberikan jaminan penghidupan kepada mereka yang tak memiliki wali untuk menafkahinya.

Negara juga wajib menyediakan kebutuhan publik. Memastikan adanya fasilitas pendidikan yang memadai. Dengan biaya yang terjangkau semua kalangan. Bahkan digratiskan. Begitu juga di bidang kesehatan. Tersedia kemudahan untuk mengakses pelayanan ini.

Karena merupakan kebutuhan mendasar bagi masyakarat. Begitupun dengan fasilitas pelayanan lainnya. Semisal sarana transportasi, pengadaan infrastuktur, kemudahan dalam sistem birokrasi dan lain sebagainya.

Dengan demikian, hanya Islamlah yang mampu menjadi solusi untuk mengembalikan kewarasan umat saat ini. Sehingga tak akan kita temui lagi kasus-kasus pembunuhan yang menyayat hati. Karena sungguh Islam berasal dari sang Illahi. Zat yang paling memahami kondisi bumi beserta isi. Dan tentu juga mengerti bagaimana solusi atas problematika manusia yang dihadapi.

Sudah saatnya kita melirik dan kembali pada aturan Sang Pencipta. Mewujudkan peradaban mulia dengan aturanNya. Sehingga keselarasan hidup membuahkan berkah yang kini masih sulit terjamah.

Posting Komentar