Oleh : Nasrudin Joha

Mediaoposisi.com-Jika kita hidup, jadilah ksatria. Jangan pernah hidup dengan menundukan muka, membuang harga diri, dan mudah dikhianati. Pernah salah itu wajar, berulang kali salah itu yang kurang ajar.

Sebelum pemilihan, rezim begitu brutal menuduh lawan sebagai tak berpengalaman, jangan menjadi Presiden kalau coba-coba. Elit rezim juga 'murah' mengeluarkan kata-kata rendahan yang tidak pantas diucapkan oleh seorang negarawan. Capres gagal, pecatan militer, lahan dipersoalkan, dan tuduhan keji lainnya.

Pada prosesnya, sejak sebelum, hari H dan pasca pemilihan, tontonan kecurangan itu begitu jelas terlihat. Hanya yang buta dan budeg saja, yang tak mampu mengindera kecurangan.

Setelah semua rakyat marah, semua keadaan berubah, dukungan rakyat untuk perubahan membuncah, rezim tebar pesona. Puja-puja setinggi langit. Dari Prabowo patriot, negarawan, bela bangsa, dll.

Sebelumya ? Seolah, mereka saja yang pantas dan bisa ngatur negara. Seolah, selain mereka akan memecah-belah bangsa, tuding umat Islam garis keras pendukung Prabowo, merendahkan Marwah, dan terus memecah-belah bangsa.

Yang tidak patriotik, yang tidak Pancasilais, yang merusak NKRI, yang memecah-belah bangsa, itu perilaku curang. Dicurangi saja Prabowo masih menang, apalagi jika tidak curang ? Mungkin rezim hanya kebagian 20 % dari total 100 % suara. Bertindak curang, tapi menuduh balik lawannya yang curang. Ini sangat keterlaluan.

Kompleks Paspampres dan TNI AU saja rezim kalah telak, apalagi di kantong-kantong suara umat Islam. Paspampres adalah pasukan terdekat Presiden, pasti tahu hitam pekatnya kelakuan rezim. Pantas di kompleks Paspampres rezim kalah, karena orang yang ingin bangsa ini bangkit tentu tak akan merekomendasikan melanjutkan rezim gagal.

Sudah terbukti curang luar biasa brutal, mengemis ingin bertemu untuk rekonsiliasi damai. Damai untuk kecurangan ? Damai untuk mengakui kemenangan rezim ? Damai untuk menerima permen rezim agar bungkam ? Damai untuk mengkhianati suara rakyat yang inginkan perubahan ?

Rezim ini kepribadiannya rusak, terbiasa mencaci, tapi enteng juga menjilat puja puji untuk sebuah misi. Kekuasaan mereka sudah di tenggorokan, mereka mengais nafas untuk meminta tangguh kekuasaan.

Semoga saja Prabowo teguh lebih memilih bersama umat, bersama rakyat yang rindu perubahan, ketimbang meladeni proposal damai abal-abal dari rezim. Sekali waktu, Prabowo tunjukkan kemarahan, karena sudah terlalu banyak bersabar. Sekali waktu, Prabowo bersikap layaknya umat yang sudah marah keubun-ubun melihat kelakuan rezim.

Baik langsung, maupun kirim utusan, tidak perlu berurusan dengan rezim. Fokus menyiapkan agenda perubahan, agenda untuk memenuhi ekspektasi umat, dan berhenti menyia-nyiakan waktu meladeni rezim.

Kelak, rezim ini cukup diundang saat peralihan kekuasaan. Saat itu, baru bisa diberi waktu kepada rezim dan begundalnya untuk menyampaikan salam perpisahan. Enak saja, siapa yang curang ? Siapa yang dituduh ? Siapa yang minta damai ? [MO/vp].

Posting Komentar