Oleh: Supiani

(Member Forum Muslimah Peduli Umat, Serdang Bedagai)

Mediaoposisi.com-Dua tahun belakangan, kata khilafah ramai dibicarakan. Ada yang menjadikan khilafah sebagai cita-cita dan massif disebarkan dalam agenda dakwah. Namun ada pula yang menjadikan kata khilafah sebagai bahan pembicaraan dengan tujuan menolaknya.

Sana-sini membicarakan khilafah. Ada yang paham benar maksud dari khilafah. Ada yang sekedar tahu namun seolah tak tahu. Ada yang tahu namun berusaha menolaknya. Bahkan, ada yang tak tahu namun tahu-tahu sudah menolaknya saja. Sebab beragam dalih disajikan, namun beragam bukti pun kian menunjukkan. Khilafah pernah ada dan menaungi 2/3 dunia.

Khilafah Ala HTI

Khilafah memang menjadi ide andalan HTI. Seolah khilafah menjadi kalimat sakti dalam tiap dakwah HTI. Namun, bukankah khilafah ajaran Islam? Ada bukti yang menunjukkan keberadaannya. Bisa dicari dan ditemukan di lini maya. Bahkan ada banyak buku yang membahasnya.

Akan tetapi, bukan itu yang akan menjadi pembahasan kali ini. Khilafah yang digadang-gadang ala HTI ini mengusik rasa angkuh beberapa orang maupun kelompok. Jika dulu, mereka yang anti HTI jelas-jelas menolak khilafah dengan dalih tiada landasan jelas akan eksistensinya. Setelah mendapati bukti adanya sistem Islam bernama khilafah, mulai berganti jurus. Setuju khilafah, tapi tidak ala HTI.

Bahkan, belakangan, ghirah Islam selalu dilabeli dengan “ditunggangi HTI”. Seolah tak bosan menjadi golongan yang memfitnah ormas ini. Mulai dari badan hukumnya dicabut, aktivitas dakwahnya dipersulit, bahkan ustadz dan ustadz yang mengamini ide “ala HTI” ini dikriminalisasi. Padahal dakwah adalah kewajiban, kan?

Khilafah sejatinya ajaran Islam dan tidak ada khilafah ala HTI. Hizbut Tahrir sebagai partai politik, hanyalah menginginkan kembalinya kehidupan Islam dalam naungan khilafah ala minhajin nubuwwah. Bukan khilafah bikinan HTI.

Maka, sebuah kekeliruan besar, jika kita menganggap bahwa khilafah adalah ide buatan yang dibawa HTI demi mendobrak tatanan hidup bernegara di bawah Pancasila. Apalagi sampai membenturkannya.

Khilafah Anti Keberagaman

Tuduhan paling fasih diucapkan oleh para penentang ide khilafah ialah tentang keberagaman. Akbar Risaldi melalui tulisannya di kumparan.com, jelas-jelas memberi tajuk: “Hak Keberagaman dalam Khilafah adalah Mustahil.” Isinya pun koheren dengan tajuknya. Khas sekali sebagai pengusung dan penjaga demokrasi garis keras. Sebab ia mendasarkan ide khilafah dengan sistem demokrasi.

Jelas tidak mungkin mencapai suatu pemahaman yang sinkron antara khilafah dengan demokrasi. Karena jelas berbeda. Khilafah hanya menjadikan Islam sebagai dasar kehidupan, sedangkan demokrasi menjadikan segala macam dasar yang memungkinkan bagi kehidupan, baik itu benar maupun salah.

Menurut DR. Mahmud Al-Khalidi, dalam Qawa’id Nizham Al-Hukm Fi al-Islam, khilafah adalah kepemimpinan umum atas seluruh kaum Muslim di dunia untuk menerapkan syariah dan mengemban dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia.

Jadi, yang sudah was-was bahkan antipati terhadap khilafah, mungkin perlu upgrade pemahaman terkait khilafah kepada orang yang pro khilafah. Karena, khilafah jelas lebih baik daripada demokrasi. Untuk buktinya? Silahkan cari dari sumber valid!

Memang, di era kapitalis sekuler ini ketakutan menjadi daya tarik. Sebab, kita senantiasa diberi suasana mencekam oleh rezim. Takut anak tidak bisa sekolah. Takut sakit. Takut tidak bisa begini. Takut tidak bisa begitu. Maka, kewaspadaan meningkat terhadap apa yang dilarang oleh pemerintah. Sayangnya, pemerintah sebagai pihak yang dipercaya nyatanya telah menghianati kepercayaan rakyat. Inilah salah satu buah busuk dari sekian banyaknya kebusukan demokrasi.

Sebab, sebagai sistem buatan manusia, maka keuntunganlah yang senantiasa ingin diraih. Aspek halal-haram jelas bukan sesuatu yang penting untuk dipertimbangkan. Sebab, mereka, para roda penggerak demokrasi pun dipenuhi dengan ketakutan. Ketakutan jabatan yang akan lenyap. Tuntuntan hedonisme keluarga dan kerabat. Atau bahkan barangkali ada simpanan yang butuh disejahterakan. Ketakutan membayangi kehidupan di alam demokrasi.

Maka, masihkah bertahan dalam sistem rusak dan merusak ini? Padahal telah jelas nyata kerusakannya? Ataukah masih antipati terhadap khilafah yang bahkan telah terbukti kejayaan dan kegemilangannya?

HTI Mencari Kekuasaan

Mari sejenak kita membuka mata, bahwa sebenarnya khilafah yang digaungkan oleh HTI adalah sebuah ide yang diharapkan mampu ditegakkan dengan tujuan kemasalahatan umat. Bukan sebuah negara yang lantas mengentaskan entitas keberagaman. Pluralitas adalah sebuah berkah dan tidak dapat dinafikan keberadaannya, sebab berasal dari Allah.

Khilafah tak lantas menjadikan seluruh penduduknya menjadi satu warna. Melainkan sebagaimana sebuah negara pada umumnya, namun menerapkan sistem (aturan hidup) Islam. Kaum Nasrani dan Yahudi pun tak akan diusik perihal agama dan area privatnya. Tidak akan ada diskriminasi, seperti yang selama ini dituduhkan. 

Jika dalam negara yang mayoritas berpendudukan muslim masih menolak khilafah, maka sistem apakah yang mampu menandingi sistem yang Allah ciptakan? Bukankah ini suatu keanehan? Ketika kita berkata menggantungkan hidup kepadaNya, namun menolak aturan yang berasal dariNya.

Namun jika keberagaman yang dimaksud dalam sistem demokrasi kapitalis, pluralitas mengarah kepada pluralisme. Sebuah paham yang menghapus sekat perbedaan antar agama, sehingga semua agama dianggap sama. Ini jelas berbahaya, sebab akan terjadi penghalalan terhadap yang haram dan pengharaman terhadap yang halal.

Maka sejatinya, cita-cita menegakkan khilafah bukanlah hanya menjadi cita-cita HTI semata. Bukan pula hanya tugas HTI dalam mendakwahkannya. Pencabutan badan hukumnya menjadikan kita sadar, sebagai muslim kita punya tugas yang sama atas tegaknya agama Allah di muka bumi. Sebab ialah mahkota kewajiban bagi umat Islam. Kemuliaan bagi yang mengupayakannya dan kebahagiaan bagi yang telah berhasil menegakkannya.

Perihal khilafah bukan lagi soal siapa yang menyuarakannya. Namun ini persoalan apakah yang mampu mengentaskan kita dari carut marut sebab kebergantungan kita pada pemuasan nafsu dunia melalui sistem demokrasi, selain khilafah. Sebab dengan mengembalikan hak pembuat hukum kepada Sang Maha Ahli membuat hukum adalah satu-satunya cara mengentaskan segala problematika kehidupan yang ada saat ini.

“....maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu." (al-Maidah: 48)

Maka, berhentilah menuduh bahwa HTI hanya haus kekuasaan. Sebab pemimpin yang akan mampu dan mau menerapkan Islam, bukanlah menjadi ambisi HTI. Kehidupan di bawah naungan khilafah sejatinya kebutuhan kita bersama, umat Muslim khususnya. Sebab muslim manakah yang tidak menginginkan kehidupannya berada dalam koridor syara’? Jika ada muslim yang menolak khilafah, berarti ia telah menolak janji Allah dan tidak mempercayai kabar gembira yang Rasulullah sampaikan

“Siapa saja yang mati sedangkan tidak ada baiat di lehernya (kepada Imam/ khalifah) maka ia mati jahiliyah. (HR. Muslim)

Berdasarkan hadist di atas, menurut syaikh ad-Dumaiji dalam al-Imamah al-Uzhma ‘inda ahi as-Sunnah wal Jamaah mengangkat seorang Imam (khalifah) hukumnya wajib.

Oleh sebab itu, sebagai muslim sejati sudah seharusnya menjadikan keimanan sebagai landasan kehidupan yang dilindungi dan dinaungi negara bersistem syariah (Islam), yaitu khilafah. Wallahu’alam bish-showab. [MO/vp]

Posting Komentar