Oleh: Azrina Fauziah

(Aktivis Dakwah, Member Komunitas Pena Langit)

Mediaoposisi.com-Film dokumenter Sexy Killer yang diproduksi oleh WatchDoc cukup viral dijagat maya. Membelalak generasi milenial pada kondisi negeri tercinta. Film dokumenter ini menguak sisi gelap di balik kondisi Indonesia hari ini.


Film yang berdurasi 1 jam 28 menit 55 detik ini memberikan gambaran kelamnya bisnis  tambang batu bara dan PLTU di Indonesia. Dampak sosial, kesehatan serta ekonomi telah memberikan imbas kepada masyarakat disekeliling pembangunan tambang dan PLTU.

Fakta di lapang menuturkan bahwa pertambangan batu bara di Kalimantan Timur untuk tahun 2010 telah membebaskan lahan pertanian produktif seluas 12.000 hektar (kompas.com) sedangkan WatchDoc sendiri menyebutkan luas tambang batu bara yang dikelola oleh Perusahaan Toba Bara dan Group Toba Sejahtera saja yang  dimilik Mentri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Panjaitan sekitar 14.000 hektar. Tentu fakta ini memberikan gambaran begitu menguntungkannya usaha batu bara tersebut bagi pemiliknya namun juga mematikan usaha ribuan petani transmigrasi di pulau Borneo tersebut.

Dampak sosial pun begitu terasa dengan adanya aktivitas penambangan di sekitar desa. Selain jalur air yang dirusak, lumpur yang menghambat pertumbuhan sawah dan Puluhan rumah pun banyak yang sedikit demi sedikit mulai retak, tanah menunjukan ketidak stabilannya hingga berujuk dengan ambruknya rumah. Maka wajar banyak warga pun yang segera memindahkan diri ketempat yang aman.

Selain itu dampak kesehatan atas pembangunan PLTU dibeberapa daerah telah menunjukan efek yang nyata kepada korbanya. Dilansir dari tempo.co (2013) menyatakan bahwa pembangunan PLTU Batang pada tahun 2013 diprediksikan melepas emisi karbon sebesar 10,8 juta per tahun dan logam berat merkuri 220 kg per tahun yang tentu akan memberikan efek mencemari lingkungan serta kehidupan masyarakat pada umumnya. 

Setelah 6 tahun berlalu, kini debu atau fly ash telah menjadi makanan sehari-hari masyarakat sekitar PLTU Batang. Padahal  dambak debu batu bara dapat menyebabkan penyakit pernafasan yang serius seperti paru obsrtuktif kronik, infeksi saluran pernapasan bawah, penyakit kardiovaskular, asma serta kanker paru-paru (mongabay.co.id)

Gurita kapitalis

Wajar setelah menonton film dokumenter ini kita akan merasa marah serta geram. Permasalahan yang terbilang kompleks dan pelik, bagaimana tidak? Kondisi listrik di era abad 21 merupakan hal yang sangat vital bagi masyarakat Indonesia. namun nyatanya fakta di lapang menyajikan sisi gelap bagi terangnya lampu kita, membuat hati ini begitu teriris.

Banyak para netizen yang menyampaikan pesan untuk lebih hemat serta bijak menggunakan listrik, namun lagi-lagi ini bukanlah solusi bagi para korban terdampak.

Kita saja ketika lampu mati dalam waktu singkat pun menggerutu tak karuan. Bahkan sering tak memperhatikan dalam penggunaanya. Padahal banyak orang-orang yang hidup malang sebab nyala lampu kita. Artinya kesejahteraan pun tak didapat oleh masyarakat Indonesia khususnya mereka yang secara dekat mengalami kondisi tanpa keadilan ini.

Kekecewaan semakin membesar, sayang sungguh disayang keterlibatan penguasa beserta pemodal erat di dalam kepemilikan saham perusahaan tambang dan PLTU dibeberapa daerah di Indonesia.

Tak diherankan bila para pengusaha kini menjadi penguasa pula, merangkap demi memuluskan kepentingan politik. Faktanya tambang batu bara terbesar di Kalimantan Timur, sahamnya dimiliki oleh Luhut Panjaitan yang notabenya seorang pejabat negara. Bahkan Presiden Jokowi pula memuluskan pembangunan PLTU Batang yang menerima hasil batu bara dari pertambangannya dari Kalimantan Timur. Selain hal tersebut fakta bahwa Sandiaga Uno sabagai calon wakil presiden juga terlibat pula pada kepemilkian saham perusahaan PT Saratoga Investama Sedaya yang akhirnya ia jual sahamnya kepada Luhut Panjaitan.

Begitulah ekonomi kapitalisme yang kini diterapkan para penguasa. Para pemilik modal yang akan berkuasa sedang rakyat hanyalah kumpulan orang lemah tak berdaya.

Intervasi asing serta swasta lokal dalam pemilihan umum presiden memang tidaklah dapat dihindari. Keterlibatan Luhut Panjaitan dalam tim sukses Jokowi-Ma’aruf Amin dengan kepentingan perusahaannya ini memberikan gambaran jelas bahwa penguasa telah berselingkuh dengan para pemodal.

Ditambah lagi penyusunan peraturan perundang-undangan begitu fleksibel menguntungkan pemilik modal. Padahal sejatinya umat ini berserikat pada 3 hal, Rasulullah saw bersabda bahwa, “Kaum Muslim berserikat dalam tiga perkara yaitu padang rumput, air dan api (HR. Abu Dawud dan Ahmad)

Batu bara merupakan kepemilikan umum yang harusnya dimiliki oleh rakyat dan bukan dimiliki oleh segelintir individu pemodal yang haus akan keuntungan besar. Tentu kepemilikan pertambangan ini merupakan kepemilikan batil yang harusnya dikembalikan kepada negara untuk diurusi bagi rakyatnya.

Begitulah kapitalisme menghalalkan segala cara dalam mencari keuntungan individu. Berbeda dengan islam yang akan menerapkan hukum yang jelas dan adil bagi seluruh umat. islam mengajarkan bahwa kepemilikan umum haruslah dikelola sebaik mungkin oleh negara demi kepentingan rakyat, maka islam akan memberdayakan SDA sebaik mungkin serta SDMnya yang juga mumpuni.

Namun muncul pertanyaanya dibenak kita, darimanakah modal yang digunakan untuk mengelola itu semua? Selain SDA negara juga akan memiliki pendapatan dari beberapa sumber seperti pengelolaan fa’i, kharaj, ghanimah, jizyah serta zakat sehingga negara akan memiliki APBN yang cukup bahkan berlebih bagi pengaturan kebutuhan negeri tersebut. 

Maka akan terwujud negeri yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafûr. disinilah penerapan islam yang kaffah dengan institusi islam dibutuhkan oleh umat sebab ekonomi islam hanya berdiri sebab ditopang juga oleh penerapan islam pada seluruh aspek kehidupan dengan adanya Khilafah islamiyah ala min hajinubuwah. Wallahu’alam[MO/vp]

Posting Komentar