Oleh : Pitria Arpani, S.Pd
(Aktivis Back to Muslim Identity Dan Anggota Muslimah Jambi Menulis)

Mediaoposisi.com-Umat islam kembali berduka,  aksi serangan teror di dua masjid di Christchurch, New Zealand (Selandia Baru), pada Jumat (15/03/2019) lalu membuat masyarakat dunia bersimpati. Video live streaming berdurasi 17 menit dengan angel kamera menyerupai game online ini menjadi sorotan dunia.

Terlebih lagi pembantaian ini dilakukan tepat pada waktu sholat jum’at di Masjid yang menjadi tempat ibadah sekaligus simbol umat islam. Kepolisian menyebutkan serangan itu dilakukan dengan perencanaan yang sangat matang dan tersistem. Bagaimana, dimana dan kapan terror itu dilakukan menjadikan banyak pihak yang menyimpulkan bahwa serangan teror ini adalah buah dari islamophobia.

Seperti di lansir Detik News.Com. Anning yang mewakili dunia bagian Queensland di senat Australia, berkomentar lewat serangkai cuitan di tweeter.

“Penyebab pertumpahan darah sesungguhnya di jalanan Selandia Baru  hari ini adalah program imigrasi yang memungkinkan kaum muslim fanatik untuk berimigrasi ke Selandia Baru,” tulis Anning dalam salah satu cuitannya.

“Penembakan hari ini di Chrischurch menyoroti ketakutan yang berkembang dalam komunitas kita baik Australia maupun Selandia Baru atas meningkatnya keberadaan muslim.” Tulisnya dalam cuitan lain.

Permusuhan terhadap muslim, kebencian serta Serangan yang sering terjadi terhadap masjid dan muslim di dunia barat selama ini di percaya terjadi akibat serangan islamophobia. Islamophobia adalah perang opini yang menjadi bagian dari perang ideologi yang di lakukan oleh barat melalui kelompok-kelompok yang berkontibusi menumbuhkan islamophobia yang menglobal dari dunia barat hingga negeri-negeri kaum muslimin.

Buah dari islamophobia global ini tidak hanya dirasakan oleh muslim New Zealand. Negeri-negeri muslim seperti Palestina, Suriah, Aleppo, Rohingya, dan Uyghur sudah kenyang mengalami kebengisan para pembenci islam ini. Mereka diteror, dibombardir, dirampas hak-haknya, bahkan di usir dari tanah mereka sendiri.

Bungkamnya Dunia Jika Islam Diserang
Sikap dunia Barat terhadap kaum muslimin di New Zwaland, Suriah, Palestina, Rohingya dan lainnya sungguh sangat tidak adil. Bagaimana tidak saat kaum muslimin menjadi korban dunia diam membisu, kemanakah para pemuja HAM?, kemanakah para penguasa muslim?.

Akan tetapi saat kafir yang jadi korban dunia bersuara paling lantang dan langsung menuduh Islam sebagai biang (baca: teroris).

Sejatinya HAM memang bukan untuk muslim. Justru teriakan HAM adalah alat untuk menindas dan menyerang muslim dan ajarannya. Ditambah sekat nasionalisme yang juga menjadikan umat dan bahkan para penguasa yang fungsinya sebagai junnah (baca: pelindung) terbelenggu hanya dalam batas simpati dan kecaman tanpa tindakan.

Tak ada yang dapat berbuat secuil pun untuk memberikan perlawanan dan pembelaan terhadap saudara muslim di antar Negaranya yang juga merupakan bagian dari umat yang wajib dijaga di bawah kepemimpinannya.

Hal itu menjadi bukti, bahwa ide HAM hanya berlaku bagi penganut paham kapitalis. Sementara bagi umat Islam, HAM hanya bualan. Suatu pembantaian yang nyata di depan mata, disaksikan oleh seluruh penduduk bumi, tidak dianggap sebagai teroris. Padahal apa yang dilakukan oleh Tarrent jelas suatu tindakan yang tidak bisa dibenarkan oleh agama manapun.

Menghilangkan nyawa tanpa sebab, dalam kondisi beribadah adalah tindakan melanggar HAM. Dimanakah mereka yang selalu berteriak toleransi? Pernahkah kita dapati di suatu negeri yang mayoritas muslim mendiskriminasi non muslim? Sebaliknya kaum muslim di negeri-negeri yang minoritas mendapat perlakuan tak manusiawi.

Khilafah Perisai Hakiki Kaum Muslim
Negara (Khilafah) adalah rumah umat dengan pemimpin (Khalifah) sebagai pemegang otoritas penuh untuk menjalankan fungsi negara sebagai rumah umat sesuai dengan aturan dari pencipta alam semesta.

Umat yang satu akan bernauang dibawahnya dengan terjamin keamanan, kesejahteraan, dan bahkan keimannya. Fungsi pemimpin sebagai junnah (baca: pelindung) akan terlaksana dengan sempurna.
Umat Butuh sosok pemimpin mampu menjadi garda terdepan membela izzul Islam wal muslimin.
Rasulullah ﷺ bersabda,

إنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ، فَإِنْ أَمَرَ بِتَقْوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَعَدَلَ كَانَ لَهُ بِذَلِكَ أَجْرٌ، وَإِنْ يَأْمُرْ بِغَيْرِهِ كَانَ عَلَيْهِ مِنْهُ

“Sesungguhnya al-imam (khalifah) itu (laksana) perisai, dimana (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)nya. Jika seorang imam (Khalifah) memerintahkan supaya takwa kepada Allah ’azza wajalla dan berlaku adil, maka dia (khalifah) mendapatkan pahala karenanya, dan jika dia memerintahkan selain itu, maka ia akan mendapatkan siksa.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, An-Nasa’i, Abu Dawud, Ahmad)

Pemimpin seperti yang digambarkan dalam hadis di atas adalah pemimpin umat Islam yang mengikuti metode Rasulullah. Yaitu seorang Khalifah yang memimpin negara kesatuan umat Islam seluruh dunia dalam bentuk Khilafah.

Hanya dengan Khilafah, seluruh permasalahan yang menimpa umat Islam sedunia bisa teratasi. Karena sumber kekacauan dan ketidakadilan atas kaum muslim adalah tidak diterapkannya hukum Allah.

Sehingga jelas, kebutuhan umat akan pemimpin yang menerapkan hukum-hukum Islam sangatlah mendesak. Umat tak bisa menunggu lebih lama lagi. Karena tanpa Khilafah, umat Islam tercerai-berai. Mudah diadudomba dan dihancurkan oleh para penjajah.

Kemuliaan Islam hanya akan tampak jika hukum-hukum Allah diterapkan dalam seluruh aspek kehidupan. Hal ini hanya bisa dilakukan dalam sebuah negara yang menganut sistem Khilafah. Maka tidak bisa dipungkiri umat membutuhkan Khilafah.

Posting Komentar