Gambar: Ilustrasi
Oleh : Mila Ummu Nadhira
(Pegiat dakwah Komunitas Muslimah Lit-Taghyir)

Mediaoposisi.com-Hari Bumi sudah dilaksanakan untuk yang kesekian kali (22/4). Misi menyelamatkan bumi seolah masih berjalan di tempat. Direktur Wahana lingkungan hidup (Walhi), Nur Hidayati, menyoroti masalah sampah plastik. “Sampah bukan hanya masalah individu, tetapi juga dampak dari model ekonomi kita. Model ekonomi yang berkembang saat ini adalah gaya hidup instan sehingga penggunaan plastik semakin tinggi,” katanya dalam sebuah diskusi “Dari Kartini untuk Ibu Pertiwi” di Jakarta, Senin (antaranews.com, 22/4).

Tidak ada yang salah dari ungkapan Walhi ini. Sampah plastik sudah menjadi masalah klasik yang belum dapat dituntaskan hingga kini. Masalah ini tidak hanya terjadi di Indonesia, juga di seluruh dunia. Tidak hanya mencemari daratan namun hingga ke lautan.

Plastik sudah merupakan produk serbaguna, ringan, fleksibel tahan kelembapan, kuat dan relatif  murah. Oleh karena itu, mampu diproduksi untuk berbagai kegunaan demi memenuhi kebutuhan masyarakat umum. Sayang, dengan karakter dasarnya ini, masyarakat kurang menyadari dampak negatif yang bisa menghantui masa depan bumi. Karena dia tak bisa terurai dengan mudah, perlu puluhan bahkan ratusan tahun.

Dampak buruk sampah plastik antara lain: beracun, mengganggu rantai makanan, pencemaran tanah dan air tanah, menyebabkan polusi udara, membunuh hewan, dan akhirnya membutuhkan biaya penanggulangan yang mahal.

Pencemaran Plastik di Dunia
Bahaya sampah plastik di antaranya kandungan zat aditif beracun (pewarna, bahan baku seperti bisphenol A (BPA)) yang telah menggugah kesadaran publik agar memproduksi serta mengonsumsi produk ramah lingkungan. Apalagi, kota-kota di dunia hari ini menghasilkan 1,3 miliar ton plastik setiap tahun. Bahkan Bank Dunia memperkirakan, jumlah ini bertambah hingga 2,2 miliar ton pada tahun 2025. Angka yang menegaskan kecenderungan volume yang fantastis.

Menurut Program Lingkungan PBB (UNEP), antara 22 hingga 43 persen, plastik yang digunakan di seluruh dunia dibuang ke tempat pembuangan sampah. Dan, sebagian besar potongan plastik dari Amerika Serikat, Eropa, dan negara lain dikumpulkan untuk dikirim ke Cina. Negeri tirai bambu ini menerima sekitar 56 persen impor sampah plastik dari seluruh dunia untuk di-recycle. Pengolahan dilakukan dengan teknologi rendah, tanpa kontrol perlindungan lingkungan yang cukup, seperti pembuangan air limbah. (lingkunganhidup.co, 8/9/2016).

Tak terkecuali di lautan, sekitar 10-20 juta ton sampah plastik mencemari lautan setiap tahun. Sebuah studi mengatakan, sekitar 5 triliun partikel plastik dengan berat total 268.940 ton mengambang di permukaan laut. Semuanya telah mengakibatkan kerugian sekitar 13 miliar dolar setiap tahun mulai dari kerusakan ekosistem laut hingga wisata alam. Fakta kematian burung laut, paus dan lumba-lumba akibat termakan atau terjerat sampah plastik sering sekali menghiasi pemberitaan akhir-akhir ini.

Seperti kasus tahun lalu, ditemukan seekor paus sperma mati terdampar di perairan Pulau Kapota, Taman Nasional Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Hewan ini telah menelan hampir 6 kilogram plastik dan sandal jepit. Lembaga WWF dalam cuitannya terkait kasus ini merinci apa yang ditemukan pada bangkai paus tersebut. "5,9 kg sampah plastik ditemukan di dalam perut paus malang ini! Sampah plastik yaitu: plastik keras (19 pcs, 140 gr), botol plastik (4 pcs, 150 gr), kantong plastik (25 pcs, 260 gr), sandal jepit (2 pcs, 270 gr), didominasi oleh tali rafia (3,26 kg) dan gelas plastik (115 pcs, 750 gr)." (kompas.com, 20/11/2018). Miris.

Sedangkan di Indonesia, tidak ditemukan data akurat soal pencemaran sampah plastik. Dikutip dari geotimes, jumlah total sampah di Indonesia diperkirakan mencapai 175.000 ton/hari per orang atau sekitar 67 juta ton per tahun. Sebagian besar sampah tersebut adalah jenis plastik. Bahkan, menurut Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), sampah plastik dari 100 toko/gerai anggota APRINDO selama 1 tahun sekitar 10,95 juta lembar bisa menutupi 60 kali luas lapangan bola!

Sampah plastik yang sempat jadi pembicaraan para pemerhati lingkungan selain kresek adalah sampah popok sekali pakai. Karena, ibu-ibu jaman now lebih senang memasang diapers kepada bayi dan anak mereka yang belum bisa atau belum dilatih toilet training. Diapers mengandung 55 persen bahan plastik, sisanya gel penyerap air dan bahan lainnya. Jika pembuangannya tanpa pengolahan secara baik, akan berujung mencemari perairan (sungai).

Karena, sampah popok sekali pakai biasanya mengandung bakteri e-coli dan tentu saja plastik yang sulit terurai. Menurut Brigade Evakuasi Popok (BEP), di Sungai Brantas (Jawa Timur) sekitar 37 persen dari semua sampah adalah sampah diapers bekas. Ini setara dengan 1,5 juta sampah popok bekas pakai setiap harinya. Kasus serupa juga ditemui di sungai-sungai lain di Jawa Timur, Jawa Tengah dan Yogyakarta. (hipwee.com, 25/9/2018).

Ini merupakan salah satu gambaran gaya hidup masyarakat terutama kaum ibu di sistem kapitalis yang suka instan. Abai akan dampaknya di masa depan.

Kapitalisme Membinasakan Kehidupan
Saat ini, berkembang cara pandang yang berkutat pada hilir masalah terkait problem lingkungan dan sampah plastik. Bahkan, terkesan dangkal kepeduliannya terhadap ekologi (shallow ecology). Apa maksudnya? Misalnya, pandangan yang mengatakan bahwa penggunalah yang bertanggung jawab terhadap lingkungan bukan mempersoalkan aspek hulu (produsen) yang justu punya andil besar.

Mengabaikan para produsen yang tak pernah berhenti memproduksi barang konsumsi berbahan plastik, membuat penyelesaian masalah ini menjadi sulit. Mengapa? Karena dalam sistem ekonomi kapitalis yang eksploitatif, mengejar laba dan keuntungan besar adalah sebuah keharusan. Sehingga, jelas saja produsen dan kalangan industri di dunia ini akan berpikir bagaimana cara meningkatkan keuntungan dengan terus memproduksi dengan modal irit dan menjual dalam jumlah yang banyak.

Yang seringkali diabaikan adalah persoalan limbah dari proses produksi dan limbah pasca pemakaian oleh konsumen. Jadi, kalau cuma menghimbau para konsumen untuk membuang sampah pada tempatnya atau mengganti kresek dengan kertas atau plastik ramah lingkungan, tentu tak seketika menyelesaikan masalah sampah plastik. Apalagi, cuma recycle atau daur ulang jelas tak sepenuhnya menjamin solusi tuntas.

Kita pun juga harus tahu bahwa masalah pencemaran dan kerusakan ekosistem di muka bumi bukan melulu soal sampah plastik. Di era industrialisasi abad 21 ini, telah terdorong negara-negara untuk mengekspansi pembangkit energinya. Karena energi sangat dibutuhkan untuk menjalankan industri-industri, bahkan mesin perang mereka. Misal energi listrik, hari ini masih sangat tergantung dengan batubara sebagai sumber energi primer.

Pembangkit listrik di Cina, India, Polandia, Indonesia, termasuk negara maju seperti Jepang, Jerman, dan Amerika serikat, masih belum bisa meninggalkan ketergantungan akan emas hitam ini. Karena, memang jumlahnya berlimpah dan diasumsikan bermodal rendah.

Sudah banyak diketahui bahwa tambang batubara adalah tambang terkotor dan memiliki dampak lingkungan yang buruk. Namun, tetap saja para kapital yang haus akan keuntungan besar menambangnya untuk kepentingan komersial. Namun, tak peduli akan pengelolaan limbahnya, karena akan menyedot biaya yang sangat besar. Akhirnya, tailing dibuang langsung tanpa memperhatikan AMDAL.

Semua berujung pada pencemaran lingkungan yang berefek pada masalah kesehatan dan rusaknya kehidupan di sekitar tambang. Termasuk, merusak kawasan hutan. Seperti yang terjadi di hutan Pegunungan Meratus di Kalimantan.

Lebih parah lagi, sebagai energi fosil maka batubara melepaskan CO2 ke udara ketika dibakar. Intergoverment Panel on Climate Change (IPCC) mengeluarkan pernyataan bahwa batubara yang dihaluskan melepaskan emisi CO2 spesifik sebesar 820 gr/kWh. Sedangkan rerata di dunia melepaskan 1,1 kg CO2/kWh dari PLTU ke atmosfer. Ini jelas merupakan angka emisi tertinggi dibanding gas alam, panas bumi, dsb. Sehingga, emas hitam dituding sebagai driver utama perubahan iklim. (R.Andika Putra Dwijayanto, S.T (nuclear engineer)/2019).

Sayangnya, negara dalam sistem Demokrasi-Kapitalis tak punya taring untuk memaksa para produsen menghentikan segala hal yang merusak “kesehatan” dan keindahan bumi. Karena, negara kadang dikuasai mereka dengan menjadi pemodal dalam kontestasi pemilu. Bahkan, pengusaha atau kapital itu sendiri yang terjun dalam kontestasi untuk jadi penguasa. Kalau sudah begini, apa yang bisa dilakukan pegiat LSM pemerhati lingkungan dan masyarakat umum?

Yang paling mungkin diajukan adalah kritikan pedas dan himbauan yang kita tak tahu kapan akan diwujudkan penguasa. Sungguh utopis upaya menyelamatkan bumi kalau kapitalisme masih bercokol di dunia ini. 

Allah Subhanahu wa ta’ala telah memeringatkan, “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari perbuatan  mereka, agar mereka kembali.” (TQS. AR-Ruum: 41).

Sungguh, kita butuh sistem alternatif untuk mampu mengemban misi penyelamatan bumi. Karena, penerapan ideologi kapitalis yang dipaksakan di seluruh negeri-negeri muslim hanya akan membinasakan kehidupan manusia. Harusnya, negara hadir dan bersungguh-sungguh mengatur pengelolaan segala energi agar terjamin alam yang ramah lingkungan. Segala kepemilikan umum harus dikelola negara sesuai aturan Allah dan hasilnya bisa dinikmati rakyat.

Kalau perlu, dioptimalkan energi yang ramah lingkungan seperti energi nuklir. Sedangkan terkait limbah dan sampah, negara Islam bertanggung jawab agar bisa diolah dengan teknologi tinggi. Tentu dengan kecanggihan Iptek, tenaga ahli, dan dana yang mencukupi dari Baitul Mal. Sebagaimana, tercatat dalam sejarah keemasan peradaban kaum muslimin di beberapa abad yang lalu di bawah kekhilafahan Islam.

Negara pun juga wajib menyuburkan lifestyle yang Islami pada masyarakat, dengan edukasi, pengaturan, dan pemberian sanksi ta’zir yang tegas bagi pelaku perusak alam. Walau, hanya karena membuang kresek atau diapers sembarangan. Ta’zir ini bisa berupa denda, cambuk, penjara bahkan hukuman mati tergantung tingkat bahaya dan kerugian yang ditimbulkan. Intinya, ta’zir akan menimbulkan efek jera agar kejahatan perusakan ekosistem tidak terjadi lagi. 

Nabi Shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda: “Kebersihan merupakan salah satu bagian dari iman” (HR Muslim). Dan, sesungguhnya bumi ini milik Allah, tak layak kita merusaknya dengan prilaku buruk atau bahkan dengan menerapkan sistem buatan manusia seperti saat ini. Maka, tak ada solusi lain yang akan menyelesaikan persoalan lingkungan mulai dari hulu ke hilir, kecuali dengan Islam. Wallahu’alam [MO/ms]

Posting Komentar