Oleh : Jahar Haiba
(Editor Buku Islami & Alumni Fakultas Psikologi UIN  Bandung)


Mediaoposisi.com-Tulisan ini sebenarnya saya buat di awal rezim Jokowi anti-Islam memerintah, tepatnya pertengahan 2015. Namun saya kira momennya tepat sekali jika tulisan ini saya bagikan dengan penyempurnaan kutipan data. Daripada tenggelam di lautan file laptop, boleh jadi akan lebih baik jika tulisan dibaca banyak orang dengan berharap penulis dan juga para pembaca tentunya mendapatkan kebaikan.

Saat itu saya mendapatkan pekerjaan menulis dan menyunting proyek buku yang sungguh menggedor-gedor nurani saya untuk berontak, dan mengatakan: TIDAK. Bagaimana tidak berat, saya harus membagus-baguskan Jokowi yang baru saja naik ke tampuk kekuasaan dan belum ada karya atau dedikasinya sebagai preiden sedikit pun untuk negeri ini. Hati saya berulangkali menanyakan, apa yang harus saya tulis. Muncul dari tekanan itulah, akhirnya saya beranikan diri menulis tentang Revolusi Mental yang dijagokan Jokowi di awal pemerintahannya.

Ide revolusi mental dirumuskan berdasarkan sebuah artikel berjudul Revolusi Mental yang ditulis oleh Jokowi dan tim suksesnya yang dimuat di Harian Kompas 10 Mei 2014. Pada hari itu juga, artikel berjudul Revolusi Mental yang ditulis oleh Benny Susetyo dimuat di Koran Sindo. Karena berjudul sama, meskipun kontennya berbeda, berkembanglah isu plagiarisme.

Pengamat komunikasi politik Unair, Suko Widodo mengatakan tidak etis dan tidak mengedepankan aspek moralitas jika penulis artikelnya adalah tim Jokowi, sementara yang tercantum pada artikelnya hanya nama Jokowi. Menurutnya akan lebih baik jika yang dicantumkan dalam artikel tersebut adalah Tim Sukses Jokowi. Hal tersebut menurut Suko merupakan plagiarisme dan pelanggaran akademis (merdeka.com/13/5/2014).

Pakar lain, Bachtiar Alam, antropolog dan dosen Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI menyebut bahwa konsep revolusi mental merupakan idenya Gandhi yang menjadi rujukan Gusdur (liputan6.com).

Sementara Hamdi Muluk, Pakar Psikologi Politik UI menilai bahwa ide revolusi mental bukanlah ide yang benar-benar baru. Dia menyebutkan Benny Susetyo yang juga mengutarakan ide tersebut. Kemudian Musthafa Bisri (Gus Mus) saat diwawancarai pada tahun 1997 juga menyebut istilah revolusi mental (liputan6.com/15/5/2014).

Trisakti dan Nawa Cita

Terlepas dari polemik mengenai plagiarisme dan pelanggaran akademik, sebenarnya bagaimanakah konsep revolusi mental ala Jokowi? Dalam artikelnya, Jokowi dan tim mereview orde reformasi yang menurutnya baru merombak sistem di Indonesia yang pencapaiannya baru pada tahap institusional. Menurutnya, yang luput dari perombakan tersebut adalah aspek mindset sumber daya manusianya. Kemudian Jokowi menawarkan solusi untuk aspek yang luput dari pembenahan melalui ide revolusi mental yang dijiwai trisakti Bung Karno. Trisakti memiliki tiga pilar: Indonesia berdaulat secara politik, mandiri secara ekonomi, dan berkepribadian secara sosial-budaya.

Ide Trisakti tersebut kemudian diejawantahkan lebih lanjut dalam Nawa Cita yang berupa 9 cita-cita yang hendak dicapai dalam pemerintahannya selama 5 tahun ke depan, antara lain: menghadirkan kembali negara yang melindugi seluruh bangsa; membangun pemerintahan yang bersih, efektif, demoratis dan terpercaya; memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka Negara kesatuan; reformasi sistem dan penegakan hukum yang bebas korupsi; meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia; meningkatkan produktivitas rakyat dan daya saing di pasar internasional; menggerakkan sektor strategis ekonomi domestik; revolusi karakater bangsa; memperteguh kebhinekaan dan memperkuat restorasi sosial Indonesia (kompas.com/20/5/2014).

Sebagai langkah awal dalam pemerintahanya, Jokowi menerbitkan trikartu sakti yang diklaim sebagai langkah konkret penerapan ide trisakti. Trikartu sakti terdiri atas Kartu Indonesia Sehat, Kartu Keluarga Sejahtera dan Kartu Indonesia Pintar.

Jauh Panggang dari Api

Kita lihat implementasi revolusi mental pasca kemenangan Jokowi sebagai presiden ‘kebanggaan’ Indonesia yang sampai-sampai Majalah Time memujinya dengan “A New Hope”. Sebaliknya, baru-baru ini para netizen membuat meme tandingan “A New Hoppeless” sebagai respon dari kekecewaan terhadap pemerintahan Jokowi.

Pada saat kampanye pilpres kita sempat dibuat euphoria efek Jokowi yang menyebabkan kurs rupiah sempat menguat. Saat penutupan perdagangan di pasar uang, 14 Maret 2014, nilai tukar rupiah terhadap dolar mencapai 11.356 (tempo.co/17/3/2014).

Namun rupanya efek Jokowi kini tidak berefek karena kini rupiah tidak lagi sumringah, bahkan terus melemah akibat kuatnya efek perekonomian global. Pada 2 Februari 2015, kurs rupiah melemah hingga mencapai 12.000 per dolar AS (liputan6.com, 2/2/2015). Dan pada  Oktober 2018, jelang akhir pemerintahannya, Rupiah ambruk hingga mencapai 15.000 (Detik.com, 2/10/2018).

Sejak awal pemerintahannya, banyak pengamat yang menilai Jokowi melakukan sejumlah blunder yang kontraproduktif dengan ide revolusi mental yang digembar-gemborkan saat kampanye. Blunder tersebut antara lain menaikkan harga BBM pada saat harga minyak dunia sedang turun. Jokowi mencalonkan Budi Gunawan yang statusnya sebagai tersangka kasus korupsi. Dia juga mengangkat Hasban Ritonga sebagai Sekretaris Daerah Propinsi Sumatera Utara yang merupakan terdakwa kasus korupsi.

Selanjutnya dia mengangkat Jaksa Agung HM Prasetyo yang jauh dari harapan rakyat. Kesan bagi-bagi kursi dalam keanggotan Dewan Pertimbangan Presidan (Wantimpres) begitu kental.
Begitupun dengan pemilihan Puan Maharani sebagai Menko bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan dinilai sebagai ‘balas budi’ terhadap partai yang mengusungnya. Semuan kebijakannya tersebut menunjukkan pelanggaran terhadap trisakti maupun nawa cita itu sendiri. Tak ada yang bisa dibanggakan dari rezim anti-Islam.

Satu-satunya cap yang melekat kuat adalah anti-Islam. Di masa dia memerintah, banyak ulama dan aktivis muslim yang kritis ditangkapi. Dia pula yang mencabut BHP ormas Islam HTI. Ormas yang satu ini memang paling getol mengkritisi kebijakannya dan berhasil menyadarkan umat dalam kampanye Haram Memilih Pemimpin Kafir sehingga Ahok berhasil dikalahkan dalam Pilkada DKI.

Ke manakah Revolusi Mental? Sudah jelas revolusi mental gagal total. kegagalan tersebut dapat kita lihat setidaknya dari penerapan trisakti. Pertama, Indonesia berdaulat diwujudkan dengan kedaulatan rakyat tidak pernah terjadi.

Memang presiden terpilih berdasarkan suara terbanyak, namun kenyataan rakyat sama sekali tidak berdaulat, karena kini rakyat telah merasakan sendiri kekecewaannya. Peluncuran Trikartu Sakti pun dianggap menyalahi prosedur, banyak yang menilai ada unsur KKN dalam program tersebut dan pelaksanaan teknis di lapangan pun menyulitkan rakyat, sehingga trikartu sakti pada pelaksanaanya menjadi “trikartu sakit”.

Kenaikan harga BBM yang meskipun sempat diturunkan kembali tetap berdampak merugikan rakyat, karena di pasaran harga-harga sembako misalnya, sudah kadung naik dan ongkos transportasi umum tetap naik. Kerugian rakyat jangka panjangnya, Harga BBM jadi fluktuatif mengikuti harga minyak dunia.

Sehingga rakyat harus menerima kenyataan jika tiba-tiba harga BBM naik lagi. Selain harga BBM, di awal tahun 2015, rakyat juga dihadiahi kado pahit kenaikan tarif listrik dan kereta api kelas ekonomi. Pantas saja #BukanUrusanSaya sempat menjadi trending topic di twitter karena ketika ditanya berbagai permasalahan yang menjadi tanggung jawabnya selaku presiden kerap merespon dengan ucapan: bukan urusan saya.

Kedua, Indonesia mandiri secara ekonomi sama sekali tidak terbukti. Kebijakannya tidak jauh berbeda dengan rezim sebelumnya. PT Freeport Indonesia dan perusahaan multinasional lainnya masih bebas mengeruk kekayaan milik rakyat. Bahkan sangat aneh, program tol laut pun diserahkan kepada asing (Cina). Dalam forum internasional semacam APEC, dengan terang-terangan Jokowi mengobral kekayaan alam negeri ini. Miris memang, di saat anak-anak bangsa di negeri ini berjuang keras untuk mendapatkan pekerjaan, namun ternyata lapangan kerja itu disediakan untuk warga asing Cina, sementara rakyatnya sendiri terjerat dalam pengangguran.

Ketiga, Indonesia berkepribadian sosial dan Budaya yang diharapkan tercermin dari budaya keindonesiaan tak sama sekali terlihat. Lihat saja buktinya, saat kemenangan itu diraih, bukan budaya ketimuran, apalagi Islami. Hanya ada konser salam tiga jari yang merupakan simbol kebudayaan satanic dan kebarat-baratan lengkap dengan pesta minuman keras.

Salam tiga jari telah berubah jadi salam gigit jari. Jajaran kementerian dan posisi tertentu komposisinya disesuaikan berdasarkan kepentingan parta pengusung, bukan untuk kepentingan rakyat. Para artis dan publik figur yang menjadi relawannya telah mengirim surat terbuka sebagai bentuk protes dan rencana untuk menarik dukungannya berkaitan dengan kasus Budi Gunawan. Bahkan #SalamGigitPresiden sempat menjadi trending topik di jagat twitter.

Dengan fakta-fakta yang telah diuraikan di atas, jelas tak ada satu pun dari konsep revolusi mental yang benar-benar dijalankan. Berbagai berbagai kebijakan politik yang telah diputuskan Jokowi dinilai banyak oleh pengamat tidak konsisten sehingga banyak kalangan yang mempertanyakan kembali gagasan revolusi mental. Dan mohon maaf, mau tak mau kita harus bilang, “Selamat Tinggal Revolusi Mental yang Gagal Total!”

Revolusi Sejati Hanya Revolusi Islam

Berharap pada Jokowi dan revolusi mentalnya sama saja seperti berharap pada rezim-rezim sebelumnya. Lebih jauhnya, mengharapkan perubahan, keadilan, dan kesejahteraan dalam negara demokrasi  seperti menyaksikan fatamorgana di tengah gurun. Seperti melihat ada air di kejauhan, tapi kenyataannya air itu tak ada.

Revolusi Mental menyandarkan akar sejarahnya pada pemikiran Sukarno. Sejarah tidak mencatat kesuksesan penerapan ide trisakti pada era Sukarno. Hingga saat ini, meskipun Indonesia dipuji Barat sebagai negara berprestasi dalam mempraktikkan demokrasi, tapi hal tersebut sama sekali tidak relevan dengan realitas keadilan dan kemakmuran. Indonesia hanya baru belajar mencoba menerapkan berbagai konsep demokrasi yang belum terbukti keberhasilannya.

Trial dan error dilakukan dengan mewarisi sistem warisan kolonial Belanda yang telah mengajari pribumi cara hidup berdemokrasi seperti yang mereka lakukan. Sudah mengambil warisan kolonial, diperparah dengan mengekor pada negara Barat lain yang kepentingannya sama seperti penjajah Belanda, yakni menjajah, meskipun untuk saat ini style penjajahannya bergaya soft (neoliberalisme).
Lantas masihkah ada harapan negeri ini bisa diselamatkan? Satu-satunya harapan itu hanya ada pada Islam. Ayolah kita sambut dengan penuh semangat, “Selamat datang, Revolusi Islam. Kami siap ambil bagian!”

Namun maukah rakyat di negeri ini mengambil Islam sebagai sebuah sistem hidup yang paripurna, bukan sekadar Islam ‘ritual’ semata? Islam menjadi sistem alternatif yang mampu mengakhiri semua penderitaan, ‘basa-basi’ dan janji-janji palsu para penguasa, dan menyelamatkan kekayaan negeri ini dari perampokan Barat dan dikembalikan kepada rakyat. Apakah hal itu bisa? Jelas itu bisa karena Islam punya contoh yang benar-benar kongkret dilakukan Rasulullah saat merevolusi masyarakat musyrik Makkah, menjadikan mereka beradab menjadi manusia yang mulia di hadapan Allah dan juga manusia.

Memang Rasulullah mengawali revolusi tersebut dengan mengubah mindset orang-orang Arab waktu itu yang dipenuhi dengan kejahiliyahan menjadi sebuah masyarakat berparadigma tauhid yang dimplementasikan dalam sebuah konsep masyarakat islami yang semua interaksinya diatur dengan undang-undang Allah.

Perubahan memang diawali dari perubahan paradigm terlebih dahulu. Terkait dengan perubahan mindset ini, Allah telah berfirman: Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya; mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tidak ada yang dapat menolaknya; sekali-kali tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia. (QS. ar-Ra’du [13]:11).

Rasulullah mampu membuktikan perubahan yang benar-benar revolusioner dan perjuangannya itu dilanjutkan para sahabat yang menjadi pengganti (khalifah) sepeninggalnya. Tidak cukup sampai di situ, Revolusi Islam yang telah dimulai kurang lebih 14 abad yang lalu itu bukan hanya revolusi untuk orang Arab saja, melainkan untuk seluruh umat manusia.

Para khalifah sepeninggal Rasulullah berhasil melakukan pembebasan bangsa Mesir, Afrika, India, bahkan hingga Eropa. Jika ada yang konkret telah melakukan revolusi dan sama sekali tak diragukan hasilnya, mengapa kita tak segera bangkit berdiri menyusuri kembali ‘jejak-jejak’ revolusi yang dilakukan Rasulullah, sang pemimpin revolusioner sejati itu?   Wallahu a‘lam bish shawab.[MO/vp]

Posting Komentar