Oleh Wulandari Muhajir

Mediaoposisi.com-Dunia yang bergerak semakin cepat, pengembangan dari berbagai bidang menuju kehidupan lebih mutakhir terus dilakukan. Tak ketinggalan di bidang kesehatan dengan berbagai kemajuan teknologi yang hampir semua penyakit dapat disembuhkan,  kecuali kematian.

Membahas dunia kesehatan tak jauh-jauh dari profesi perawat. Pada masa lampau profesi perawat dianggap rendah karena bekerja di rumah sakit yang distigma sebagai tempat yang kotor. Namun siapa sangka, profesi keperawatan justru semakin dicari dan dibutuhkan. Terbukti dengan berkembang pesatnya sekolah-sekolah keperawatan.

Pada masa perang dunia  profesi keperawatan awal mulanya mendapat perhatian, terutama dikalangan pasukan perang. Prajurit perang dinyatakan meninggal bukan hanya karena luka yang di dapatkan dari serangan musuh, tapi kebanyakan prajurit perang meninggal akibat penyakit yang tidak segera ditanggulangi serta buruknya sanitasi dari rumah sakit.

Saat itu muncullah salah satu nama yang menjadi pelopor dunia keperawatan adalah Florence Naightingale. Florence mendapat berbagai penghargaan setelah berdedikasi dalam perang crimea sekitar tahun 1854.

Namun jauh sebelum Florence nightingale mendedikasikan dirinya dalam merawat prajurit perang,  seorang perempuan dari padang pasir pun pernah menorehkan tinta emas dalam sejarah keperawatan. Dialah Rufaidah binti Sa'ad Bani Aslam al-Khajraj, lebih dikenal dengan nama Rufaidah al Aslamiyyah.

Ia juga di beri julukan sebagai "al Fidayyah" karena keberaninnya menerobos kekacauan medan peperangan untuk mengobati para mujahid. Sesuai namanya, beliau merupakan muslimah dari suku Khajraj di Madinah yang merupakan bagian dari kaum anshar.

Sosok Rufaidah al Aslamiyyah belajar ilmu keperawatan dari sang ayah yang memang berprofesi sebagai dokter. Rufaidah al Aslamiyyah adalah kalangan sahabiyyah yang mengakui Kerasulan Nabi Muhammad SAW pada awal kemunculan islam.  Rufaidah al Aslamiyyah dikenal sebagai sosok yang teladan dan baik perangainya.

Keikutsertaannya merawat pasukan kaum muslim yang terluka dalam berbagai perang seperti perang uhud,  perang badar,  perang khandak, menjadikannya sosok yang profesional dalam bidang kesehatan. Rufaidah juga seorang muslimah organisatoris, diriwayatkan bahwa beliau adalah pelopor shift malam dan shift siang yang saat ini diterapkan di rumah-rumah sakit.

Pada masa teknologi yang masih sederhana, Rufaidah mampu merawat pasien hingga pulih kembali. Kecerdasan dan ketangkasan yang dimiliki Rufaidah dalam merawat para mujahid seperti Sa'ad bin Muaz yang saat itu terkena panah di bagian tangannya patut di banggakan.

Rasulullah pun memberikan penghargaan kepadanya berupa pemberian ghanimah sama seperti bagian laki-laki. Perhatian yang diberikan Rasulullah menjadi indikasi bahwa islam tidak hanya fokus pada masalah spiritual,  individual. Islam juga mengatur masalah keduniaan seperti masalah keperawatan tersebut.

Dedikasi yang luar biasa yang ditunjukkan oleh Rufaidah menjadi tamparan untuk kaum yang mengagap islam telah mendiskreditkan perempuan. Bahwa islam adalah agama yang memuliakan perempuan.  Islam menempatkan perempuan pada posisi yang tepat.

Sekalipun tidak ikut digaris medan peperangan memegang tombak dan anak panah layaknya para mujahid, namun  perempuan tetap mengambil peran dalam  penegakan tiang agama islam.

Tapi sayang,  sosok sekelas Rufaidah dan cerita perjuangannya bersama sahabiyah yang lainnya semakin buram di mata kawula muda saat ini. Terbukti dengan buku mata pelajaran,  terutama tentang buku kesehatan didominasi oleh tokoh-tokoh non muslim. Bahkan hampir tidak ada tokoh islam yang diperkenalkan kepada peserta didik.

Padahal sosok Rufaidah al Aslamiyyah bukan hanya menjadi teladan dalam berdedikasi kepada sesama manusia (nilai kemanusiaan).  Perjuangan Rufaidah al Aslamiyyah yang paling utama  adalah tentang keharusan seorang hamba mengambil peran dalam penegakan syariat Allah dimuka bumi. Tak memandang profesi dan jabatan, apalagi gender. Terkait dengan itu Allah Azza wa Jalla berfirman:

"Dan tidaklah pantas bagi laki-laki yang mukmin dan perempuan yang mukmin,  yang apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan,  akan ada pilihan (yang lain)  bagi mereka tentang urusan mereka.  Dan barang siapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh,  ia telah tersesat, dengan kesesatan yang nyata (QS. al Ahzab: 33).

Tidak ada perbedaan perempuan dan laki-laki dalam hal menyeru manusia pada kebaikan.  Perempuan pun punya porsi dalam mensyiarkan kalimat tauhid. Dan juga yang menjadi khasanah dari sosok Rufaidah, bahwa berprofesi sebagai perawat tidak lantas mengugurkan kewajiban dalam berdakwah.

Rufaidah yang tidak pernah diabadikan namanya layaknya pelopor keperawatan lainnya. Namun bukanlah menjadi duri penghalang untuk mundur dari dunia dakwah.

Bahwa pencapaian tertinggi dalam suatu profesi harusnya mengantarkan kita pada ridha Allah dengan jalan mengajak orang lain pada jalan islam. Dalam kalamullah Allah Azza wa Jalla telah memuliakan umat islam sebagai umat terbaik,  saat beramar ma'ruf mahi munkar.

Posting Komentar