Oleh: Rini Andriani 
(Lingkar Study Perempuan dan Peradaban)

Mediaoposisi.com-Gegap gempita pesta demokrasi sangat dieluh-eluhkan di negeri ini. Dukungan masyarakat kepada oposisi pun melejit, hal ini terbukti dari tren elektabilitas Jokowi - Ma'ruf dan Prabowo -Sandi yang semula  berjarak  di atas 20% di bulan Agustus, kini sudah di bawah 10%, adalah tanda bahwa peluang Joko Widodo untuk memenangkan pilpres semakin tipis. Waktu tersisa kurang lebih 1 minggu lagi. Jika tidak ada hasil kerja yang luar biasa, sulit bagi Jokowi untuk melanggengkan  posisinya. Artinya hastag # ganti presiden bisa terealisir.

Ada beberapa faktor yang bisa menjadikan rezim ini berakhir, karena tidak bisa dipungkiri di pilpres kali ini yang dihadapi Jokowi bukan hanya Prabowo.

Ada sejumlah pihak yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Pertama calon wapres oposisi Sandiaga Uno self brandingnya sudah merebut hati emak-emak milenial dan pedesaan.

Dia mampu berdialog secara rasional dikalangan perkotaan dan kelas ekonomi atas dengan program ekonominya.

Dia pun mampu menyasar ekonomi bawah terkait kedaulatan pangan, stabilisasi harga dan pembangunan infrastruktur tanpa utang yang justru menjadi program antitesa Jokowi. Dalam hal ini, menghadapi Sandi, Jokowi kalah telak.

Ketelatenannya dalam mengunjungi komunitas masyarakat setiap hari 10-15kali, berhasil menggerus kantong-kantong massa Jokowi. Terutama di Jawa timur dan Jawa tengah.

Kedua, power politik umat yang dikenal dengan nama gerakan 212 membuat Jokowi kelelahan menghadapi gerakan massa 212. Pola offensif justru sering menciptakan kekacauan politik di  kubunya.

Pelan tapi pasti, operasi terhadap gerakan 212 justru menggerogoti elektabilitas Jokowi. Sampai saat ini belum ada langkah efektif dari kubu Jokowi untuk menjegal dan menjinakkan gerakan massa 212.

Kehadiran Ma'ruf Amin yang semula digadang -gadang membendung pengaruh 212 pun tak berhasil. Terbukti ungkapan Ma'ruf membuat tandingan reuni 212 terjawab dengan jumlah massa yang jauh lebih besar dari aksi-aksi sebelumnya.

Dalam reuni tersebut justru yang khas adalah shalawat-shalawat khas Nahdiyyin. Ini indikasi bahwa pengaruh Ma'ruf Amin dikalangan NU sendiri tidak seperti apa yg ada dibenak masyarakat umum.

Terbukti sejumlah kiyai, alumni santri Tambak Beras Jombang, Tebu Ireng Jombang, mendeklarasikan untuk mendukung Prabowo-Sandi.

Gerakan  212 bukan sekedar kerumunan masa, perlu diingat sebagian besar dari mereka berkumpul dg perasaan dan akidah yang sama.

Mereka terorganisir dengan rapi dalam melakukan perlawanan politik terhadap Jokowi. Pilgub Jabar, DKI,  dan Jateng memberi bukti adanya konsolidasi keumatan. Mereka mampu memberikan suara signifikan di wilayah tersebut.

Ketiga, adalah SBY. Bagi SBY dan Demokrat kemenangkan Prabowo-Sandi merupakan kemenangan kubunya juga. Termasuk partai pengusung lainnya.

Pasca pengerusakan atribut Demokrat yang sangat menyedihkan, SBY membulatkan tekad mengalahkan Jokowi.

Terbukti dengan adanya pertemuan SBY-Prabowo tgl 21/12/18 tampak semakin menguatkan tekad itu. Ditambah massa politik PKS yang solid semakin membesarkan elektabilitas Prabowo-Sandi.

Keempat, Jokowi menghadapi masalah internalnya sendiri ada 2 masalah. Pertama terkait kinerja, Jokowi terbebani dengan dengan janji-janji politik yang belum terselesaikan.

Ke-dua dia juga menghadapi masalah melubernya tenaga kerja China,masalah impor pangan yang mendapat protes petani Indonesia, infrastruktur yg belum kelar serta sisa hutang luar negeri yang lebih besar.

Hal ini juga bisa memutus kepercayaan masyarakat terhadap Jokowi. Inilah yang menjadi beban politik Jokowi di pilpres 2019.

Dengan berakhirnya Rezim ini, bukan tidak mungkin menjadikan kubu oposisi akan melakukan hal yang sama karena PR besar sudah menunggu dengan masalah yang sama dan mirisnya dengan solusi yang sama yaitu sistem kapitalisme. Selama  oposisi tidak mau merealisasikan secara menyeluruh hukum sang Pencipta.[MO/ad]

Posting Komentar