Oleh: Mochamad Efendi

Mediaoposisi.com- Siapa yang suka menebarkan ujaran kebencian pada pihak lain? Siapa lagi kalau bukan SAS. Kali ini yang dituju adalah kelompoknya sendiri, NU. Sebagai ketua PBNU, dia mengatakan goblok bagi warga NU yang tidak memilih paslon 1.

Dia mulai menyadari bahwa tidak semua warga NU mau menurut pada perintahnya. Kemarahan
mulai membakar akal sehatnya sehingga tega menyebut kelompoknya sendiri goblok bagi yang
tidak sapaham dengannya untuk mendukung pasangan Jokowi-Ma'ruf.

Siapa yang lebih goblok membiarkan NU menjadi tunggangan politik petahana agar bisa memimpin lagi. NU yang merupakan ormas Islam terbesar di negeri ini harus terseret dalam arus politik kotor dalam sistem demokrasi.

Sungguh ini bisa mengotori NU sebagai ormas Islam yang seharusnya istiqomah memperjuangkan Islam, bukan corong dari petahana yang dikenal anti- Islam dan anti kritik.

Nama NU tidak seharum dulu karena sudah masuk dalam pusaran perpolitikan ala demokrasi yang kotor. Dan bahkan sebagian warga NU yang berfikir cerdas mulai menyadarinya. Mereka ingin menyelamatkan NU dari kehancuran. Mereka tidak ingin melihat NU hancur saat petahana kalah dalam pertarungan pilpres 2019.

Sementara, SAS pertaruhkan NU hanya karena ambisi politiknya. Dia mulai ketakutan saat melihat petahana diambang kekalahannya. Beruntunglah, masih ada orang NU yang berfikir cerdas untuk menyelamatkan NU dari kehancuran saat petahana kalah. Dan tanda-tanda kekalahan petahana mulai nampak sehingga dalam kemarahannya dia nenyebut kelompoknya sendiri goblok.

SAS sebagai ketua PBNU yang ingin memaksakan keinginannya pada warga NU untuk memilih
petahana jelas ini sudah melanggar hukum. NU bukanlah partai politik yang tidak ada hak baginya untuk memaksa warganya memilih paslon tertentu.

Dia seharusnya menghargai apapun pilihan warga NU baik memilih paslon 1 atau paslon 2, bahkan ketika mereka tidak mau nemilih keduanya. Warga NU bebas menentukan pilihannya. Itulah pilihan yang cerdas sehingga siapapun pemenangnya NU akan tetap selamat dan terus memperjuangkan Islam.

Aktifitas politik dalam pandangan Islam memang mulia, namun tidak dalam sistem demokrasi. Memasuki pusaran politik dalam sistem demokrasi yang kotor dengan meninggalkan ajaran Islam kaffah jelas merupakan kebodohan. Dan jelas ini menyalahi dasar pendirian NU. [MO/ra]

Posting Komentar