Gambar: Ilustrasi
Oleh: Mochamad Efendi

Mediaoposisi.com-Banser namanya tidak seharum dulu bahkan masyarakat sudah muak dengan tingkahnya yang arogan dan mau menang sendiri. Tidak mau diajak bicara dan sukanya main kekerasan dan memaksa. Bahkan tingkahnya lebih garang dari aparat polisi. Bukankah ini fakta dan semua orang sudah tahu itu. Cara radikalisme, ditempuh untuk menakuti saudaranya sendiri yang tidak sepaham dengannya.

Wajar jika masyarakat tidak simpati dengan banser karena fakta menunjukan banser melakukan perbuatan yang membuat orang muak. Semua orang tahu bahwa dengan sombongnya oknum banser telah membakar bendera tauhid yang bertuliskan dua kalimat syahadat. Bagaimana seorang Muslim mampu membakar simbol pemersatu umat Islam. Mereka melakukannya dengan senang hati dan merasa bangga telah melukai hati umat Islam yang masih memiliki iman.

Suara umat di Garut telah terbukti terhadap sepak terjang banser melalui butir soal ujian nasional SMP. Namun disayangkan, penilaian masyarakat itu tidak dijadikan bahan masukan untuk banser yang lebih baik. Penilaian masyarakat direspon dengan kemarahan secara berlebihan dan bahkan dengan menyalahkan HTI seperti yang disampaikan Said Agil Siraj.

Sebagai ketua PBNU, SAS harusnya bisa mengendalikan banser agar tidak liar menyebarkan kebencian. Harusnya, SAS salahkan diri sendiri bukan cari kambing hitam atas pandangan negatif masyarakat terhadap banser. Jangan pula salahkan masyarakat yang muak terhadap banser.

Kita semua pasti tahu, siapa yang suka menghalang-halangi umat dan membubarkan pengajian. Sebuah kajian keislaman kaffah ditakutkan akan menyadarkan umat untuk bangkit. Dengan alasan kebinekaan dan NKRI harga mati, umat Islam dipaksa untuk meninggalkan ajaran Islam kaffah. Dia hanya ingin Islam dipahami secara parsial sebagai agama ritual yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya dan diri mereka sendiri. Sementara ajaran Islam yang mengatur hubungan manusia dengan manusia yang lain banyak yang ditinggalkan.

Jangan salahkan HTI dengan menuduh telah mengontaminasi pamahaman masyarakat. Malahan, HTI datang untuk memurnikan dan membersihkan pamahaman umat yang sudah terkontaminasi pemikiran sekular, demokrasi, dan pemikiran barat lainnya. Umat perlahan memahami bahwa khilafah adalah ajaran Islam. Bendera tauhid juga sudah dipahami sebagai bendera umat Islam bukan bendera HTI.

Walaupun HTI sudah tidak ada, namun pemikiran yang dibawanya terus bergelora di tengah umat. Umat perlahan akan memahami Islam sebagai mabda' atau ideologi yang akan memancarkan peraturan-peraturan sebagai solusi tuntas untuk setiap masalah kehidupan. Islam akan menjadi solusi fundamental untuk semua permasalahan yang dihadapi umat saat ini sehingga Islam bisa bersinar dan menjadi rahmat untuk seluruh alam semesta. [MO/ms]

Posting Komentar