Oleh : Supartini Gusniawati

Mediaoposisi.com-  Mendekati hari H pemilu serentak, semakin terlihat keinginan pihak-pihak yang menginginkan kekuasaan. Satu pihak berupaya keras membongkar makar petahana, namun tak kalah strategi tim petahana pun senantiasa melakukan berbagai cara untuk mempertahankan kekuasaannya meskipun dengan berbagai cara.

Ya, begitulah memang alaminya perpolitikan dalam system demokrasi. Hingga demikian rezim pun tak sadar mereka menjadi rezim yang sangat panik dan ketakutan kehilangan kekuasaan.

Salah satunya hal tersebut terlihat dari penyataan menkopulhukam, mengenai HOAX. Menurutnya, pelaku hoax bisa dijerat menggunakan UU pemberantasan terorisme dikarenakan Wiranto menilai para penyebar hoax itu sebagai peneror masyarakat.

“Kan ada undang-undang ITE, pidananya ada. Tapi saya terangkan tadi hoax ini akan meneror masyarakat. Terorisme ada fisik dan non fisik. Terorisme kan menimbulkan ketakutan di masyarakat. Kalau masyarakat diancam dengan hoax tadi untuk takut datang ke TPS, itu sudah ancaman, itu
sudah terorisme. Maka tentu kita UU terorisme,” Ucap Wiranto di kantornya, jalan medan Merdeka Barat, Jakarta pusat, (rabu,20/3). Detiknews.com

Dengan sikap demikian, tentu hal ini secara tersirat ditangkap oleh kubu lawan sebagai pertanda kelihatan pemerintah dan pendukung pak Jokowi ini panik sehingga ingin menakut-nakuti rakyat dengan UU terorisme.

Padahal tidak bisa dibandingkan pelaku terorisme dengan hoax. Kata JUbir BPN Prabowo-Sandi, Andre Rosiade. Dari kejadian tersebut, kita sebagai masyarakat mestilah memiliki sudut pandang yang menyeluruh dan benar sesuai syariah islam. Beberapa hal yang mesti jadi renungan untuk kita sebelum menentukan pilihan.

Diantaranya:

a. Inilah realitas penerapan system politik demokrasi.semua berebut kekuasaan demi berbagai
kepentingan pribadi, bukan kepentingan rakyat. Rezim petahana manapun akan mempertahankan
kekuasaan yang dimilikinya dengan berbagai cara, meskipun dengan sikapnya tersebut justru dapat
membahayakan posisinya sendiri, bahkan rela terlihat bodoh sekalipun, yang penting saya berkuasa!.

b. Orang saling mengkiritik untuk menjatuhkan lawan dan mendapatkan posisi kekuasaan, namun yang mesti dipahami lebih jauh adalah siapapun yang berkuasa namun system yang dipakai adalah
demokrasi maka belajarlah pada kejadian yang sudah terjadi semua rezim menuju pada satu titik,
ujung-ujung tetap pada tujuan mementingkan kelompoknya atau segelintir para pemilik modal Perlu dipahami bahwa di dalam islam kekuasaan adalah wasilah (sarana) untuk menegakkan hukum syara’.
seperti dalam sebuah syair dikatakan:

Tiada kemuliaan tanpa islam
Dan tidak ada islam tanpa syari’ah
Takkan tegak syariah tanpa daulah
Daulah khilafah rasyidah

Karena dengan kekuasaanlah, berbagai hukum islam bisa diterapkan dengan sempurna mulai dari hal yang paling kecil hingga urusan yang paling besar/agung. Siapakah yang benar-benar bisa memastikan seluruh kaum muslimin benar-benar melaksanakan perintah sholat?

Siapakah yang berkewajiban melaksanakan berbagai hukum jinayah dan uqubat? Siapakah yang benar-benar akan menjadi junnah (perisai) bagi umat disaat umat islam tertindas? Tentu jawaban nya ada adalah penguasa muslim.

Maka jelaslah hubungan penguasa dan umat adalah hubungan yang saling menguatkan dalam ketaatan dengan menghidupkan budaya amar makruf nahyi mungkar, bukan hubungan pemenang dan oposan. Wallahu a’lam [MO/ra]

Posting Komentar