Oleh : Nasrudin Joha

Mediaoposisi.com-Bagaimana mungkin kita diminta untuk berdamai, setelah pedang itu terhunus dan berlumuran darah, dari luka-luka yang menganga, sementara sang penghunus pedang melantunkan syair 'ayo berdamai, ayo rekonsiliasi' ? Ini damai apa ? Rekonsiliasi apa ?

Bagaimana mungkin kita yang konsisten melawan kezaliman, dianggap tak negarawan ? Dianggap cedera marwahnya ? Bagaimana mungkin korban kecurangan, diminta damai dan mengakui kekalahan ? Bagaimana mungkin, orang yang curang tak punya Malu mengajak berdamai dan ingin diakui sebagai pemenang ?

Bagaimana bisa, ada ulama mengeluarkan fatwa persatuan, tapi diam seribu bahasa atas kecurangan yang begitu brutal ? Bagaimana bisa rakyat bisa terima, jika mereka - yang sabar menunggu perubahan melalui Pilpres- kemudian diminta sabar atas suara mereka yang dicurangi ?

Bagaimana mungkin, kita mau diajak berdamai dengan maling dan para penyamun, kemudian menuduh kita yang gigih atas komitmen, teguh atas ikrar melawan ketidakadilan, dituding tidak berkomitmen membangun bangsa ?

Apakah itu Indonesia ? Itu Pancasila ? Yang selama ini mereka banggakan ?

Maaf, sekali tidak tetap tidak. Yang harus tobat itu kalian yang telah berbuat curang. Yang tidak tahu malu itu kalian, yang curang tapi mengunggah kata ingin bertemu. Yang pengkhianat bangsa itu kalian, mencurangi kedaulatan rakyat atas pilihannya.

Silahkan sewa semua media, kumpulkan seluruh penulis, ajukan seluruh dakwaan kepada kami. Tapi ingat, kalian tidak akan pernah bisa membayar harga diri dan kehormatan.

Untuk yang lalu, kami telah terlalu banyak mengalah. Untuk saat ini, kalian yang menyerah atau kami yang akan membungkam setiap mulut kekuasaan yang menumpahkan dusta dan pengkhianatan.

Kami tidak pernah berfikir untuk lari dalam pertarungan ini, bahkan kapal-kapal itu telah kami bakar. Kami, telah terbiasa dengan tudingan dan intimidasi, kalian telah membuat urat takut itu putus. Jadi, tak ada guna menggiring kami masuk jebakan politik untuk kedua kalinya.

Wahai siapapun yang terzalimi, jangan pernah menyerah. Rezim ini tidak pernah jujur terhadap kalian, bahkan ketika mengunggah kata ingin melakukan rekonsiliasi.

Rezim ini hanya peduli dengan kekuasaanya, kesombongannya, dengan menyewa sejumlah tokoh dan para ulama. Bukannya segera meminta maaf karena berlaku curang, rezim masih terus memaksa meminta kita mengakui kekalahan dan kecurangan sebagai sebuah kemenangan.

Sekali lagi, hati-hati lah terhadap seluruh tipu daya rezim. Wahai umat, cukuplah sekali saja terantuk batu dan jatuh pada lubang yang sama. Kita tidak akan pernah membuat kesalahan untuk kedua kalinya. Tidak akan pernah. [Mo/vp].

Posting Komentar