Oleh : Nasrudin Joha

Mediaoposisi.com-Partai 'odong-odong' dan partai 'Truck' ribut lagi. Pemicunya, kritik PSI terhadap Megawati soal seruan jangan golput. PDIP menuding PSI tidak fokus, tidak melihat konteks mega yang berbicara dalam rangka memenangkan Jokowi.

Awalnya, Juru bicara PSI Frans Meroga Panggabean mengkritik pernyataan Megawati. PSI menilai ucapan Mega yang mempertanyakan asal negara dan makan dari mana bagi yang golput kurang bijak.

"Jangan masyarakat disalahkan. Saya berharap, selaku public figure, Bu Megawati seharusnya lebih bijak. Mengajak untuk tidak golput boleh, tapi jangan ada ungkapan lain seperti pengecut dan kamu makan dari mana, mereka ini golput karena kecewa dan sakit hati oleh wakil atau parpol yang mereka pilih," ucap Frans kepada awak media, Jumat (5/4).

menanggapi hal ini, PDIP meminta PSI agar ikut Fokus memenangkan Jokowi, tidak nimbrung kritik ke mega soal golput. Secara, PSI memang butuh 'Suara untuk survive' agar lolos parlemen, nampaknya strategi PSI adalah berharap migrasi pemilih dari partai nasionalis.

PSI tidak mungkin meminta pemilih dari PKS atau PAN, yang kecewa untuk bermigrasi memilih PSI. Ceruk pasar PSI adalah pemilih nasionalis sekuler, bukan Islam. Bagi pemilih Islam, PSI dianggap partai wassalam. Ide-ide PSI soal poligami, isu Perda syariah, justru memantik penentangan sengit dari massa umat Islam.

PSI juga tidak mungkin menarik suara Undecided Voters. Biasanya, suara ini berujung Golput. Lagipula, ceruk Undecided Voters itu Prosentasenya kecil.

Peluang yang besar adalah 'merebut' atau membuat migrasi pemilih partai nasionalis sekuler. PSI sedang bermanuver 'membangun kekecewaan akut' pada basis pemilih partai nasionalis sekuler dari partai-partai yang ada, yang dianggap tidak konsisten memperjuangkan nilai-nilai nasionalisme dan sekulerisme.

Menyerang Golkar dan menuding Golkar tidak nasionalis, agaknya akan kesulitan bagi PSI. Lagi pula, ceruk pasar pemilih Golkar tidak terlalu signifikan. Yang paling mudah, dengan suara signifikan adalah membuat manuver untuk memindahkan suara pemilih PDIP agar bermigrasi ke PSI.

Nah, PSI ini telah, sedang dan akan terus mempertahankan strategi ini. Sebagai ikhtiar ya sah-sah saja. Pada kenyataannya partai itu saling memangsa, kanibal. PDIP sedang ditarget PSI.

Apalagi, momentumnya dapat. Jika dahulu PSI menggunakan isu 'korupsi partai' kali ini PSI memanfaatkan celah hardikan Megawati kepada golputer untuk memindahkan suara PDIP ke PSI. Lagipula, memang kebangetan Megawati.

Mempersoalkan golput agar memilih Jokowi, boleh-boleh saja. Tapi menuding komitmen bernegara, makan darimana, itu sudah keterlaluan. Padahal, Megawati sendiri pernah menggunakan isu 'golput' untuk manuver politik. Mega, pernah menyatakan golput. Lantas jika dibalik, Mega asalnya negara mana ? Makan dari siapa ? Hayo coba eta terangkanlah...

Secara subtantif dalam perdebatan ini PSI akan lebih mendapat dukungan publik. Secara normatif, PSI akan dianggap duri dalam daging TKN Jokowi. Secara kans dan analisis kepartaian, manuver ini -jika tidak segera disadari PDIP- akan mampu mencuri suara dari kantong PDIP dan bermigrasi ke PSI. [].

Posting Komentar