Oleh: Sri Astuty Hadayani, SP.

(Pemerhati sosial budaya)

Mediaoposisi.com-Game online merupakan salah satu permainan yang menyita perhatian masyarakat belakangan ini.  Bahkan pembahasan tentang game online menjadi salah satu bahan dalam debat capres dan cawapres kelima kemarin.

Jokowi mengatakan, pemerintah saat ini harus cepat tanggap dan responsif terhadap perubahan global yang terjadi saat ini. Fokus pada sektor ini menurut mantan Gubernur DKI Jakarta itu sangat menjanjikan. "Ekonomi ini bertumbuh sangat besar, Rp 11-12 triliun pertumbuhannya per tahun," jelas Jokowi.  Liputan6.com (13/4/2019).

Begitu pula Menteri Pemuda dan Olahraga (Mempora) Imam Nahrawi berpendapat e-sport harus mulai masuk ke kurikulum pendidikan untuk mengakomodasi bakat-bakat muda.
Selain itu, Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) menyebut sudah menganggarkan Rp50 miliar untuk menggelar kompetisi-kompetisi di level sekolah. cnnindonesia.com (28/1/2019).

Dalam hal ini, sangat nampak terlihat bahwa yang menjadi landasan dari proyek industri game adalah peluang peningkatan ekonomi. Karena terbukti Telkom Indonesia juga memiliki ambisi besar untuk menjadi pemain besar di industri game Indonesia. Dalam acara Telkom Digi Summit di Jakarta (11/4), Telkom memaparkan kerangka bisnis di beragam sektor hiburan dan pendidikan. Salah satu yang menjadi fokus utama adalah industri game.  

Ambisi di industri gaming berdasarkan pada tren game, khususnya mobile, yang sedang menjadi perhatian besar sejumlah masyarakat. Disampaikan oleh Joddy Hernady selaku EVP Digital & Next Business Telkom, industri game memiliki tingkat pendapatan yang paling tinggi dibandingkan jenis hiburan lainnya. “Gaming itu pendapatannya bisa tujuh kali lipat dari pendapatan sebuah film,” terang Jody.
Marketeers.com. (12/4/2019).

Ternyata perubahan global tidak serta merta berupa perubahan yang positif dan bermanfaat bagi masyarakat, khususnya game online.  Di satu sisi pemerintah dan pengusaha telekomunikasi di Indonesia menganggap bahwa game online berdampak positif khususnya dalam peningkatan ekonomi negara.  Namun di sisi lain, ada begitu banyak bahaya yang akan ditimbulkan dari industri ini.

Dikutip dari Bisnis.com (9/7/2018), 
Dampak seseorang yang mengalami kecanduan terhadap video atau permainan berbasis internet (game online) sangat besar. Seseorang yang mengalami adiksi, di samping mengalami keluhan secara fisik juga mengalami perubahan struktur dan fungsi otak."Struktur dan fungsi otaknya mengalami perubahan.

Jadi, kalau kita lihat otaknya pake MRI, ada perubahan di bagian otak pre-frontal cortex”, tutur dr. Kristiana Siste, SpKJ(K) dari Departemen Psikiatri FK UI RSCM.  Selain itu juga berdampak pada prestasi dan produktivitasnya. Emosi yang tidak stabil juga seringkali berdampak buruk pada hubungan relasinya.  Dalam kasus-kasus tertentu (kecanduan judi online) dampak kerugian ekonomi juga cukup besar”, tukasnya.

Dari proyek digitalisasi ini, sangat jelas terlihat bahwa tujuan dari program ini bukan demi pendidikan dan demi generasi muda bangsa, melainkan demi keberlangsungan proyek bisnis yang menjanjikan keuntungan semata. Karena sejatinya negara yang ber asas kapitalisme dan sekularisme pada dasarnya tidak akan peduli dan bertanggung jawab untuk melindungi generasi bangsa, terbukti dari abainya negara terhadap dampak buruk yang ditimbulkan.  Dan nyatanya negara saat ini hanya menjadi sarana dan regulator bagi pengusaha dan konsumennya.

Berbeda halnya dengan pandangan Islam.  Walaupun bermain game merupakan perkara yang sifatnya mubah, selama tidak menghantarkan pada keharaman namun bukan berarti Islam akan memfasilitasi aktivitas ini.  Apalagi jika terbukti game online akan menimbulkan mudhorat bagi masyarakat, maka jelas hal ini akan dilarang.  

Karena dalam aturan Islam, negara seharusnya mengarahkan rakyat kepada aktivitas yang bermanfaat baik bagi dirinya sendiri maupun negara.  Yang menjadi patokan berbuat adalaj halal dan haram, baik bagi individu rakyat maupun pemerintah.

Generasi muda akan digiring untuk menyalurkan kreativitas dan keahliannya sesuai dengan kemampuannya. Dengan pembentukan akidah yang kokoh maka akan menghasilkan generasi yang bertakwa yang akan berkontribusi besar terhadap pembangunan peradaban bangsa.

Selain itu negara juga tetap berkewajiban memberikan kesejahteraan kepada seluruh rakyat dengan cara mengoptimalkan hasil sumberdaya alam dan pengelolaan zakat sesuai aturan syariat dan menjauhi hal-hal yang diharamkan oleh Allah.  Karena terbukti hanya sistem Islam yang mampu menyelesaikan seluruh problematika manusia dan hanya dengan menerapkan Islam secara sempurna maka rahmat-Nya bisa kita rasakan.
Wallahu a'lam[MO/vp]

Posting Komentar