Siti Masliha, S.Pd
(Aktivis Muslimah Peduli Generasi)


Mediaoposisi.com-  Tanggal 17 april 2019 telah berlalu, tanggal dimana seluruh rakyat Indonesia menyalurkan aspirasinya. Aspirasi memilih pemimpin negeri untuk lima tahun mendatang. Namun lagi-lagi demokrasi dinodai oleh pelanggaran hukum. Pelanggaran hukum tersebut adalah serangan fajar atau politik uang. 

Jelang hari pencoblosan, Bawaslu menggagalkan gerilya terlarang para caleg yang hendak bermain politik uang. Tercatat 25 kasus dugaan politik uang diungkap Bawaslu pada masa tenang ini.

"Adapun total yang sudah didapatkan dalam kejadian-kejadian operasi tangkap tangan atau tangkap tangan di 25 kasus itu tersebar di 13 provinsi di Indonesia. Provinsi dengan tangkapan paling banyak ada di Jawa Barat dan Sumatera Utara dengan kasus sebanyak 5 kasus," kata anggota Bawaslu M Afifuddin di kantornya, Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, Selasa (16/4/2019) (detiknews.com)

Politik uang adalah suatu bentuk pemberian sejumlah uang (suap) atau barang yang diberikan calon wakil rakyat kepada rakyat, supaya rakyat memilih calon tersebut dalam pemilu. Politik uang ibarat benalu yang harus dibasmi, politik uang adalah racun demokrasi yang harus dibasmi.

Rakyat pemilik kedaulatan untuk menentukan pemimpin berkualitas harus pupus karena politik uang. Sikap rasionalitas akan hilang diganti dengan sikap pragmatis, semua ini karena politik uang. 

Politik uang dalam pemilihan umum (pemilu) di indonesia sangatlah sulit diberangus. Baik calon wakil rakyat maupun rakyat merasa diuntungkan dengan adanya politik uang ini. Sulitnya pemberantasan politik uang ini bisa disebabkan antara lain:

Pertama, jalan pintas menuju kursi kekuasaan. Untuk menuju kursi kekuasaan para calon wakil rakyat mengeluarkan sejumlah uang yang tidak sedikit untuk membeli suara rakyat. Rakyat diberikan sejumlah uang atau barang yang harapannya rakyat memilih calon yang memberikan uang tersebut. Para calon wakil rakyat takut kalah bersaing dengan pasangan lain. 

Kedua, tingkat kesadaran politik masyarakat yang rendah. Kesadaran politik adalah kesadaran  akan hak dan kewajiban sebagai warga negara. Rendahnya kesadaran politik masyarakat ini karena kurangnya edukasi politik kepada masyarakat. Masyarakat tidak tau visi dan misi dari calonnya, masyarakat hanya sekedar mencoblos gambar. 

Rendahnya kesadaran politik masyarakat inilah membuat para calon wakil rakyat sangat mudah melakukan politik uang kepada masyarakat. Mereka tidak faham suaranya dibeli oleh para calon agar para calon tersebut bisa duduk di kursi kekuasaan. Akibat dari politik uang ini banyak orang yang terpilih bukan karena berpengalaman dan ahli politik, tapi akhirnya orang yang menang adalah orang-orang yang bermodal.

Ketiga, sistem demokrasi yang menghalalkan segala cara. Demokrasi dengan asas sekulerisme (memisahkan agama dengan kehidupan), agama tidak boleh ikut campur dalam mengatur urusan kehidupan maupun urusan politik. Dari sini akan membuka peluang besar bagi calon wakil rakyat melakukan politik uang. Calon wakil rakyat sah melakukan apa saja untuk menjadi pemenang meskipun dengan cara yang haram.

Rakyat sudah bosan dengan "panggung sandiwara" yang dilakukan oleh pemerintah saat ini. Ada dua hal yang dibutuhkan rakyat saat ini. 

Pertama, sistem yang mampu memberantas politik uang. Dalam demokrasi politik uang sangat sulit untuk diberantas. Dari pemilu ke pemilu selalu terjadi politik uang. Sudah saatnya kita tinggalkan demokrasi sebagai "kendaraan politik" kita saat ini, karena demokrasi terbukti gagal. 

Ketika demokrasi terbukti gagal maka islam hadir sebagai solusi alternatif pemberantasan politik uang. Politik uang atau suap dalam islam hukumnya adalah haram. Karena politik uang atau suap dianggap penghianatan terhadap kesaksian yang diberikan rakyat dalam pemilu yang seharusnya kesaksian itu tanpa bayaran atau pemberian. 

Kedua, rakyat butuh edukasi politik yang benar agar rakyat mampu menentukan pilihannya berdasarkan keinginannya. Edukasi politik yang benar adalah dengan dakwah islam. Dakwah yang akan menuntun rakyat pada politik islam yang benar bukan politik untuk meraih kekuasaan. Hal ini sebagai yang dilakukan oleh Rasulullah.

Rasulullah berdakwah siang dan malam agar masyarakat paham tentang politik islam. Karena sesungguhnya Islam adalah agama ruhiyah dan siyasiyah (politik). Ruhiyah mengatur manusia dengan RabbNya dan siyasiyah (Politik) mengatur manusia dengan manusia dalam kehidupan sehari-hari. [MO/ra]

Posting Komentar